|
Saturday, 30 January 2010 09:25 |
|
Oleh Lisa Suroso, pemimpin redaksi majalah Suara Baru Perhimpunan INTI Perjuangan integrasi Irian Barat ke pangkuan NKRI melibatkan organisasi dan para peranakan Tionghoa. Namun, tak semua sependapat tentang masalah gerakan pro-kemerdekaan. … Taman makam pahlawan Serui terletak di tengah kota. Dihiasi tugu bercat putih dengan lambang Garuda Pancasila. Terbaring delapan jasad pahlawan yang berjasa dalam mengintegrasikan Irian Barat ke pangkuan NKRI: Silas Papare, Stefanus Rumbewas, Thung Tjing Ek, Dirk Ramandey, Salim Suneth, HW Antaribaba, Rafael Maselkosu dan George Henk Ayorbaba. |
|
Last Updated on Tuesday, 09 February 2010 12:05 |
|
|
Thursday, 21 January 2010 23:16 |
|
Oleh Hendi Johari, peneliti dan wartawan lepas
Saat ajal jelang menjemput dirinya, tiba-tiba Muhammad Ali Jinnah teringat Gandhi. Sebuah rasa penyesalan membekapnya laksana awan yang dipenuhi mendung. Tahun 1997, menjelang 50 tahun kemerdekaan Pakistan, Jinnah sempat menumpahkan rasa sesalnya itu kepada majalah Time. ”Satu keputusan yang membuat aku merasa berdosa seumur hidup adalah aku telah berani-beraninya memerdekakan Pakistan, “ katanya penuh sesal.
|
|
Last Updated on Friday, 22 January 2010 16:12 |
|
Tuesday, 19 January 2010 20:33 |
|
Oleh Herry "Ucok Homicide" Sutresna, kelompok hiphop Trigger Mortis Illusion is all up in you, alternative must be more than this Biological? Chemical? Science says I’m pure physical Lower me to equality of dust with no destiny, Molecular structure If this all that I be, then humans weren’t killed in the holocaust, They’re just machines, reject void supplement, Man=rag equivalence Humanity is more complex form of existence No reliance on science, I cry soul defiance! Dying of thirst, I more than mathematical equation I am more than a chemical combination My existence cannot be reduced to scientific theory! Dying of Thirst – Downset Yang paling mengganggu tentang Marx sebenarnya bukan pada hujatannya pada agama. Dapat dilihat dari kacamata “kondisi objektif” pada saat itu dimana agama memang dipakai untuk mengilusi, dalam istilah Marx, kekuatan ‘proletariat’. Namun teorinya tentang kediktatoran proletariat adalah sesuatu yang menyesakkan untuk bisa menyepakati klaim Marx bahwa sosialisme nya adalah “sosialisme ilmiah”. |
|
Last Updated on Wednesday, 20 January 2010 12:18 |
|
|
Saturday, 02 January 2010 09:41 |
|
Oleh Lisa Suroso, pemimpin redaksi majalah Suara Baru Perhimpunan INTI Di antara rimbunnya rumpun bambu, Ricky The menyusuri bongkahan-bongkahan nisan yang berjajar. Wakil Ketua Perkumpulan Keluarga Besar Toroa (yang semuanya adalah peranakan Tionghoa-Papua) ini menunjuk sebuah nisan baru terbuat dari porselen merah. Tertulis nama “Tan Kai Tjok” di sana, moyang dari semua keluarga Toroa yang datang dari provinsi Fujian. |
|
Last Updated on Wednesday, 20 January 2010 12:19 |
|
Thursday, 31 December 2009 21:26 |
|
Oleh Yus Ariyanto, redaktur Liputan6.com SCTV /1./ Suatu hari di Oktober 1990. Mungkin tanggal 21 atau 22. Siang itu, panas membakar Bandung. Ribuan anak muda Muslim berhimpun di lapangan parkir Universitas Padjadjaran. Salawat Badar berkumandang. Saya hadir di sana tapi dengan bloon —maklum, belum dua bulan berstatus mahasiswa. Tapi, saya tahu, salah satu sosok yang berbicara di depan mikrofon itu adalah Jalaluddin Rakhmat, intelektual muslim yang banyak dikagumi kaum muda. |
|
Last Updated on Wednesday, 20 January 2010 12:21 |
|
|
|
|
<< Start < Prev 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Next > End >>
|
|
Page 1 of 12 |