Home Artikel Rush Limbaugh - Hiburan di Panggung Politik Amerika
Rush Limbaugh - Hiburan di Panggung Politik Amerika Print E-mail
Thursday, 05 March 2009 22:54

Oleh Ulil Abshar Abdalla, mantan Koordinator Jaringan Islam Liberal, mahasiswa Harvard University

Di tengah-tengah tekanan batin menunggui anak yang sedang dirawat di rumah sakit, ada hiburan gratis yang sangat menyenangkan hati saya, yaitu kontroversi di media Amerika mengenai figur Rush Limbaugh.

Limbaugh adalah seorang “host” untuk sebuah acara talk-show radio. Dia terkenal karena gayanya yang norak dan menjengkelkan. Kalau kita dengarkan talk-show Limbaugh, kita seperti mendengarkan orang mabuk yang teriak-teriak di radio. Saya pernah mencoba mendengarkan, tetapi tak betah dan saya buru-buru langsung mematikan radio seraya mengucapkan istighfar. Tetapi, Limbaugh disukai oleh pengikut Partai Republik yang fanatik dan konservatif.

Analogi yang tepat untuk Rush Limbaugh dalam konteks Indonesia adalah dia ini agak mirip-mirip dengan figur Hartono Ahmad Jaiz atau Adian Husaini (keduanya adalah penulis buku-buku populer yang gemar menyesatkan kelompok lain yang berbeda). Ada kesamaan antara mereka bertiga: sikapnya yang dogmatis, konservatif, tengil, dan sering bicara ngawur tidak karuan.



Kata Timohty Egan dalam kolomnya di The New York Times hari ini (3/5/09), acara talk-show Limbaugh sebetulnya menjengkelkan sekali, tetapi enak didengarkan sekedar untuk menjadi teman pengusir ngantuk saat menyetir mobil. Meskipun Timothy buru-buru menambahkan komentar lain: kalau sebelumnya kita bisa menyelamatkan diri dari “kutukan” Limbaugh dengan cara menyingkir ke kawasan yang terpencil yang tidak bisa dijangkau oleh siaran radio Limbaugh, sekarang hal itu tidak bisa lagi. Limbaugh ada di mana-mana, karena semua radio dan kanal TV membahas figur ini. Tentu itu adalah musibah.

Setalah Barack Obama terpilih menjadi presiden, Limbaugh membuat komentar yang kontroversial. Dia menyatakan bahwa dia ingin melihat Presiden Obama gagal. Pernyataan ini dia ulang kembali dalam acara yang diadakan oleh CPAC (Conservative Political Action Conference) akhir minggu lalu di Washington, D.C. Limbaugh menyampaikan pidato penutup pada acara CPAC itu Sabtu lalu. Sekali lagi, Limbaugh mengatakan bahwa karena alasan ideologis, dia ingin melihat Presiden Obama gagal.

Yang menarik, kali ini pernyataan Limbaugh ditanggapi oleh orang kepercayaan Obama dan Kepala Staf Gedung Putih, Rahm Emanuel. Hari Minggu lalu, dalam acara “Face the Nation” di kanal CBS, Emanuel mengomentari pidato Limbaugh dengan nada mengejek yang sangat cerdas, “He is the voice and the intellectual force and energy behind the Republican party.” Menurut saya, ini sindiran yang sangat bermutu. Saya tertawa terus setiap kali membaca komentar Emanuel ini.

Gara-gara komentar Emanuel inilah, kasus Limbaugh menjadi perbincangan luas di berbagai media Amerika. Selama berhari-hari, Limbaugh menjadi pembahasan di kanal CNN. Sejumlah media bahkan terang-terangan menyebut Limbaugh secara de facto sebagai “minority leader” dari Partai Republik. Tentu ini sebutan yang berbau ejekan belaka.

Saat ini, Partai  Republik memang dilanda krisis yang parah. Saya kira, kinerja Presiden Bush selama delapan tahun telah membubarkan seluruh bangunan Partai Republik dan warisan gerakan kaum konservatif yang dibangun sejak lama oleh orang-orang cerdas dan elegan semacam William Kristol, William Buckley, dll. Saat ini, Partai Republik sedang susah payah mencari figur baru. Di tengah-tengah krisis parah semacam ini, tiba-tiba muncul tokoh “norak” menyeruak ke permukaan, yakni Rush Limbaugh. Dengan cerdik sekali, kalangan Partai Demokrat (sebagaimana diwakili oleh statemen Rahm Emanuel) memanfaatkan momen ini dengan melontarkan “ejekan” balik, “Kalian sudah punya pemimpin baru, yaitu Rush Limbaugh”. Seorang kolumnis di koran Washington Post bahkan berseloroh, “Kenapa Limbaugh tak maju sekalian sebagai calon presiden saja?”

Saya kira, dengan caranya yang norak, Limbaugh memang mewakili “mind-set” kaum Republikan yang fanatik dan konservatif. Kalau dibedah isi otak kaum Republikan (sekali lagi saya di sini berbicara mengenai kalangan “hard-core Republican”), saya kira isi kepala mereka pada dasarnya adalah apa yang selama ini dilontarkan berkali-kali oleh Rush Limbaugh. Retorika Limbaugh dicirikan oleh beberapa hal yang sudah menjadi klise: curiga pada orang kulit hitam, sinis pada kaum perempuan, curiga pada agama lain di luar Kristen (terutama Islam), anti-aborsi, anti pajak, anti regulasi pasar, sinis terhadap isu pemanasan global, anti “universal health care”, anti-intervensi negara dalam pasar, anti-pembatasan kepemilikan senjata, dsb.

Yang menarik adalah cara-cara yang dipakai oleh kaum Republik, seperti dengan baik tercermin dalam sikap dan retorika orang-orang seperti Rush Limbaugh, untuk menyerang kebijakan Presiden Obama. Karena kebijakan “paket stimulus” untuk menggerakkan roda ekonomi Amerika yang macet gara-gara krisis sekarang, Obama dituduh oleh orang-orang macam Limbaugh sebagai telah menerapkan “sosialisme” (sebagian kalangan Republik bahkan memakai istilah “komunisme-Leninisme”) di Amerika.

Sebagaimana di Indonesia, di sejumlah kalangan di Amerika juga ada ketakutan yang nyaris menyerupai “paranoia” terhadap istilah sosialisme dan komunisme. Kalangan Republik yang lebih moderat dan “sopan”, menuduh Obama telah membawa Amerika mendekati corak ekonomi Eropa yang dianggap cenderung lebih “sosialistis”. Eropa telah gagal dengan metode-nya yang cenderung sosialistis, kenapa Amerika harus meniru-niru model itu, tanya kaum Republik itu.

Menurut saya, cara-cara kaum Republik menjelek-jelekkan kebijakan Presiden Obama saat ini mengingatkan saya pada cara-cara serupa yang sering ditempuh oleh kalangan Islam konservatif di Indonesia untuk menyerang pemikir Muslim yang liberal dan kritis. Kita ingat dulu, misalnya, Cak Nur sering dituduh oleh kalangan konservatif yang diwakili oleh kelompok Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII) sebagai antek Yahudi. Tuduhan ini disuarakan oleh Majalah Media Dakwah yang diterbitkan oleh DDII. Sejak itu, tuduhan “antek Yahudi” selalu menjadi refrain atau “lagu klasik” yang disuarakan oleh kalangan Islam konservatif di Indonesia. Daftar tuduhan mereka bahkan sudah bertambah banyak saat ini: antek Amerika, antek CIA, antek kafir, dsb.

Beberapa hari lalu, Rush Limbaugh melalui acara talk-show yang ia kelola, menantang Presiden Obama untuk datang ke acaranya itu dan berdebat. Saya bilang dalam hati, “Tuan Limbaugh, kalau anda bodoh mbok tahu diri, to. Orang secerdas Obama tentu tak akan pernah melayani debat dengan orang bodoh dan tolol macam anda.” Istilah yang tepat untuk Limbaugh saya kira adalah “jahil murakkab”, bodoh yang berlapis-lapis -- yakni orang yang bodoh dan tak tahu kalau dia bodoh.

Yang mengherankan saya dan juga publik Amerika, Michael Steele, sebut saja Ketua DPP Partai Republik di Amerika (jabatan resmi Steele adalah Ketua Republican National Committee), merasa perlu meminta maaf kepada Rush Limbaugh setelah sebelumnya mengkritik pidato Limbaugh di CPAC sebagai “obnoxious” -- kasar, menjijikkan. Tak salah jika Rahm Emanuel akhirnya menyebut bahwa “kekuatan yang sebenarnya” dalam Partai Republik ada di Limbaugh. Dengan kata lain, yang secara de facto menjadi Ketua DPP Partai Republik adalah Rush Limbaugh, bukan Michael Steele.

Ala kulli hal, saya senang sekali menonton “dagelan” Rush Limbaugh akhir-akhir ini. Kesedihan saya karena anak yang harus dirawat di rumah sakit agak sedikit terobati dengan dagelan ini. Ada dua kesimpulan yang bisa saya tarik dari peristiwa ini. Pertama: orang bodoh memang ada di mana-mana, termasuk di Amerika. Kedua: orang bodoh juga memiliki pengikutnya sendiri yang jumlahnya bisa juga banyak.


Ulil Abshar Abdalla
About the author:
Ulil Abshar Abdalla adalah mantan Koordinator Jaringan Islam Liberal. Saat ini sedang menempuh program doktoral di Harvard University.
Read More >>


Comments (0)Add Comment

Write comment
smaller | bigger

security code
Write the displayed characters


busy
Last Updated on Friday, 06 March 2009 10:21
 
Banner
Banner
Make sure you have at least Flash Player 7. If not,please download.
Banner

Who's Online

We have 9 guests online

Follow Us On

Facebook Group: 50072354705 Twitter: jakartabeat