Home Artikel Uang, Buku, dan Musik
Uang, Buku, dan Musik Print E-mail
Tuesday, 07 April 2009 20:13

Oleh Amir Mahmud, penulis lepas, tinggal di Cirebon

 

Maaf kalau judul esai ini mengadopsi kredo para mahasiswa angkatan 60-an dahulu yang kehidupannya tidak jauh dari “buku, pesta, dan cinta” seperti dikutip Soe Hok Gie dalam buku “Catatan Harian Seorang Demonstran” . Memang, untuk mendapatkan buku dan musik (dalam konteks ini kaset, CD, atau pertunjukan musik) memang membutuhkan uang. Tapi, bukan itu yang ingin saya sampaikan. Ini cerita agak pribadi memang.

UANG

“Wah, boro-boro untuk bayar utang. Untuk makan sehari-hari aja sulit,” ujar seorang pria dengan tatapan mata kosong. Padahal, saya tahu, pria itu tadinya seorang pengusaha yang berhasil, bahkan komoditasnya sampai diekspor ke mancanegara. Tapi, sejak datangnya krisis global (dan dia menyingkatnya cukup dengan kata “global” saja, tapi bukan nama stasiun TV tentunya…) usahanya hancur lebur. Dia pun hanya pasrah, bahkan rela kalau asetnya disita.

Kini, hari-harinya diisi dengan kerja serabutan hanya untuk sekadar mempertahankan hidup.

Begitulah. Kini hari-hari saya dipenuhi dengan keluhan, kemuraman, dan kepasrahan. Ceritanya hampir seragam. Namun, tak jarang ketika segala macam penderitaan itu dialami, mereka juga mengalamatkan kemarahannya pada pemerintah yang tidak berhasil mengentaskan kemiskinan dan mengurangi pengangguran. Tidak berpihak pada rakyat miskin, dan lain-lain. Juga tentang krisis ekonomi yang mendunia. Tentang pejabat yang tidak peka terhadap krisis dan aneka kecaman lainnya.

Kalau sudah begitu saya hanya bisa melongo. Betapa cerita demikian, dari tahun ke tahun kelihatannya sama saja. Dari beberapa orde, mulai orde lama, orde baru, sampai orde reformasi, cerita tentang rakyat yang antre sembako tidak pernah berubah. Betapa yang dibutuhkan saat ini oleh rakyat adalah pekerjaan untuk mendapat penghasilan yang layak.

Kalau cerita pengusaha di atas saja sudah begitu sulit, apalagi mereka yang berada di grass root. Inilah yang hari-hari ini begitu banyak digembar-gemborkan para politisi untuk dibela.   

“Untung saja saya tidak stres, mas. Saya juga masih mau usaha, kalaupun hasilnya jauh dari memadai,” gumam pria tadi. Ya, saya kira, memang semangat untuk tetap survive jangan sampai hilang.

BUKU

Nah, untuk “melarikan diri” dari rutinitas pekerjaan yang tidak jauh dari soal “uang”, saya pun berpaling pada buku. Sekalipun saya tidak bergelut dalam dunia akademis dan keilmuan, namun perkara buku, saya sangat mencintainya. Banyak kawan yang merasa heran. “Bukannya tambah stres tuh kalau membaca buku?” begitulah sebagian kawan sering bertanya.

Tiga rak buku, tepatnya bekas etalase di toko alat tulis kami, tampak sudah keberatan untuk menampung ratusan buku yang saya beli. Itu pun sudah mulai merampas space di kamar tidur. Di sana sudah bertumpuk buku dan majalah. Ini bukan sekadar gaya-gayaan, tapi memang begitulah adanya.

“Ayah mungkin tidak akan banyak mewariskan harta, tapi buku-buku inilah yang akan kalian warisi,” dengan gagah aku pernah bergumam.

Masih berkaitan dengan buku, ketika mendengar pakar marketing Hermawan Kartajaya datang ke Cirebon, saya pun mengontak rekan wartawan untuk mencari tahu menginap di mana untuk meminta tanda tangannya pada buku koleksi saya. Singkat cerita, sang wartawan malah tertarik untuk memprofilkan saya. Maka, keesokan harinya profil saya pun muncul di Koran “Radar Cirebon” sebagai kolektor buku-buku pakar marketing yang sudah diakui dunia, Hermawan Kartajaya.

Judulnya pun eye catching, “Sempat Ribut dengan Istri, Berburu Buku sampai ke Jogja”. Istriku pun sempat protes, karena dia merasa tidak menghambat dan tidak pernah melarang saya membeli buku. Tapi, saya mencoba menenangkan, bahwa itu kan hanya bisa-bisanya wartawan menulis biar menarik.

Dan, betul saja. Hari itu kebetulan bertepatan dengan seminar tentang new wave marketing yang diadakan di Hotel Grage Cirebon yang dihadiri Sri Sultan Hamengkubuwono X, Enggartiasto Lukita, Ciputra, dan tentu saja idolaku Hermawan Kartajaya.

Hari itu saya mencoba untuk menerapkan teori Hermawan yakni “marketing yourself”. Saya juga mencoba mempraktikkan salah satu kredo new wave marketing yakni  low budget, high impact. Dibandingkan memasang baliho, spanduk dan poster di jalanan, atau masang iklan di Koran, toh yang saya lakukan hari itu bahkan no budget high impact.

Hari itu HP ku banyak berdering dan SMS pun banyak yang masuk berkaitan dengan profilku yang ada di Koran. Ini juga masih berlanjut di bulan kemudian. Undangan dinner seminar dilayangkan oleh Hermawan di Hotel Four Seasons di Jakarta. Bahkan, selain diperkenalkan sebagai salah satu di antara 2 tamu istimewa, sementara satu tamu lainnya pejabat bank terkemuka yang kebetulan menjadi sponsor acara itu, saya pun disediakan kamar segala. Ini hanya salah satu blessing in disguise dari kecintaan terhadap buku.

Hermawan hanyalah salah satu penulis yang aku kagumi. Nama-nama seperti Umar Kayam, Arief Budiman, Mohamad Sobary, Goenawan Mohamad, Kuntowijoyo, Ahmad Tohari, Emha Ainun Nadjib, Seno Gumira Ajidarma, Rhenald Kasali dan Arvan Pradiansyah, adalah nama-nama lain yang sangat aku apresiasi.

Mungkin, sebenarnya sangat banyak dari kita ini yang menggemari buku. Namun, tak dapat dimungkiri harga yang mahal-lah yang menjadi satu kendala mereka mengkoleksi buku. Banyak pihak yang menengarai bahwa harga buku di Indonesia tergolong paling mahal di dunia. Karena para penerbit tidak bisa berbuat banyak ketika harga kertas dikenai pajak. “Masa untuk menjadi pintar pun kita harus dikenakan pajak,” begitulah sebagian dari kita menggumam.

MUSIK

Ini mungkin sedikit dramatis. Persis selang sehari setelah anak bungsuku pulang dari rumah sakit setelah 8 hari menderita demam berdarah, saya dan istri menonton konser diva Indonesia sesungguhnya: Vina Panduwinata, di Hotel Apita Cirebon. Mungkin kata orang mah, anak baru pulang dari rumah sakit kok orangtuanya malah senang-senang. Tapi, begitulah, bahwa kami mencintai anak itu sudah pasti, tapi di sisi yang lain bahwa kami mencintai musik itu sesuatu yang tidak dapat dimungkiri. Dian Pramana Poetra, Dhedy Dukun, Mus Mujiono, Fariz RM, Utha Likumahua, Chrisye, adalah sebagian penyanyi yang aku kagumi. Karimata, Krakatau, Emerald, Black Fantasy, dan Bhaskara adalah sebagian grup musik yang juga aku senangi.

Nada dan irama 80-an itu enak dan kelihatannya akan abadi. Coba bandingkan dengan kondisi sekarang ketika puluhan grup band muncul dengan nada dan irama yang seragam. Kalau tidak jeli-jeli amat, kita akan keliru menebak lagu yang terdengar itu milik siapa. Dan, rupanya ada yang jeli juga melihat pangsa 80-an bisa dijadikan komoditas. Seperti Afghan yang pernah menyanyikan lagu Biru-nya Dian PP, serta yang sedang ngetop sekarang Vidi Aldiano yang menyanyikan Nuansa Bening-nya Gank Pegangsaan.

Berburu kaset bekas terutama penyanyi dan grup musik 80-an merupakan kenikmatan tersendiri. Bahkan kalau ke kota lain semisal Jogja, Bandung, Surabaya, Semarang, saya berusaha untuk berburu buku dan kaset bekas. (Tapi, mungkin alasan yang sebenarnya, ketika mereka ngetop dulu, aku tidak punya uang untuk membelinya. Maklum anak kost. Tapi, giliran sekarang ada sedikit lebihan, tapi kaset-kaset itu sangat susah dicari…)

Kehidupan ini akan seimbang ketika makanan fisik dan makanan ruhani masuk secara proporsional. Bahwa kehidupan itu tidak melulu diisi dengan kekerasan dan stres. Hidup juga harus diisi dengan kelembutan. Uang membuat hidup menjadi keras, maka buku dan musik melembutkan hidupku.

Memang, kelihatannya dunia yang bertolak belakang antara apa yang saya kerjakan di tempat kerja dengan hobi yang saya lakoni. Tapi, begitulah. Setiap orang mempunyai keinginan, kemauan, dan kehidupannya sendiri-sendiri. Dan, seperti pernah ditulis Arvan Pradiansyah bahwa hidup adalah sekumpulan pilihan-pilihan, maka saya pun memilih: uang, buku, dan musik.

* penulis adalah pecinta segala sesuatu yang berbau 80-an.


Amir Mahmud
About the author:
Amir Mahmud, tinggal di pinggiran Cirebon, sembari terus mengamati hiruk pikuk manusia modern. Bekerja di sebuah bank swasta nasional. Kesehariannya diisi dengan ulang-alik dari desa ke kota. Pria dengan tiga anak ini adalah lulusan Administrasi Negara FISIP Universitas Padjadjaran Bandung.
Read More >>


Comments (0)Add Comment

Write comment
smaller | bigger

security code
Write the displayed characters


busy
Last Updated on Monday, 20 April 2009 03:42
 
Banner
Banner
Make sure you have at least Flash Player 7. If not,please download.
Banner

Who's Online

We have 8 guests online

Follow Us On

Facebook Group: 50072354705 Twitter: jakartabeat