|
Friday, 27 February 2009 11:17 |
|
Oleh Ahmad Fuadi, Direktur Komunikasi The Nature Conservancy Dengan kecepatan penuh, speedboat yang kami tumpangi membelah Sungai Segah menuju laut di timur Kalimantan. Pemandangan berganti-ganti dari perkampungan penduduk, gerombolan nipah, SPBU terapung, dermaga batu bara sampai hutan lebat. Sebelum mencapai muara, kami bahkan melihat sekelompok kera bekantan yang berhidung panjang sedang beristirahat di pepohonan di dekat sungai. Seekor bekantan jantan besar—mungkin kepala sukunya–dengan waspada mengawasi kapal kami yang melambat. Mendekati mulut sungai, air coklat pelan-pelan berubah menjadi bening kebiruan, kami masuk ke kawasan kepulauan Derawan. Selain eksotisme namanya, kepulauan ini terkenal di dunia karena diberkati terumbu karang yang sangat indah dan kaya. Menurut hasil penelitian, kawasan ini punya 460 spesies terumbu karang dan 870 spesies ikan. Jumlah yang sangat tinggi, dan hanya dikalahkan oleh Raja Ampat di Papua. |
|
Last Updated on Thursday, 21 January 2010 06:14 |
|
Saturday, 07 February 2009 12:33 |
|
Oleh Ciptadi Sukono, alumni ITB, bekerja di Jakarta Saya menghabiskan jam-jam terakhir di Shanghai, Oktober lalu, dengan nongkrong sesorean di Jalan Moganshan 50, tempat sebuah pabrik tua di pinggiran ceruk Suchou, disulap menjadi sentra desain, bengkel kerja, dan kumpulan galeri seni. Metamorfosa sebuah lab seni Dulunya, kompleks pabrik ini ditinggalkan, dan sempat menjadi tempat jin buang anak sampai tahun 2000. Saat itu, seorang veteran artis bernama Xue Song menganggap pabrik bobrok adalah tempat yang tak umum, dan karenanya memikat, untuk menghasilkan karya seni dan memajangnya. Apa yang dilakukan Xue Song mengilhami artis-artis lain mengikuti jejaknya. Kini, tak kurang dari 100 bengkel kerja dan artis tinggal di sini, membentuk sebuah komunitas seni yang hidup dan banyak disebut-sebut kalangan seni di Asia sebagai sebuah fenomena. Barangkali buat para artis ini, Moganshan 50 dirasa sangat simbolis. Pabrik, sebagai salah satu ‘pusat’ bagi proletariat, menjadi penanda ikatan artis-artis ini dengan masa lalu Shanghai dibawah komunisme. Kalau dipikir-pikir, substansi Moganshan 50 yang dulu dan sekarang tidak pernah berubah. Di kedua masanya, bangunan bergaya Bauhaus yang kebanyakan didirikan pada tahun 30an - 40an ini, masih sama-sama sebuah kompleks pabrik. Orang-orang yang menempatinya masih sama-sama ‘buruh’. Hanya ada pergeseran industri antara dulu dan kini: dari industri tekstil yang terbenam ke industri kreatif yang kini sedang bersinar.
|
|
Last Updated on Sunday, 19 April 2009 05:35 |
|
Tuesday, 03 February 2009 21:37 |
|
Oleh Fadjar Thufail, research fellow di Max Planck Institute for Social Anthropology, Jerman Banyak orang sering mendengar pernyataan ini: "Peradaban suatu negara tercermin dari perilaku berlalu-lintas warga negaranya." Ini tentu bukan pernyataan determinisme materialistik yang merangkai "kebudayaan" dengan cara penggunaan alat transportasi -- mobil, jalan, dan rambu-rambu jalan. Pernyataan ini mungkin lebih cocok dilihat sebagai metafor, sebagai ekspresi verbal yang menggambarkan tata cara, norma, dan perilaku yang disebut "kebudayaan" melalui suasana yang terjadi di sepanjang jalan raya, entah itu suasana tertib mau pun karut marut seperti jalan-jalan di Jakarta. Sejak masih sekolah di Amerika, saya sudah menjadi penjelajah jalan raya. Saat harga bensin masih 0,98 dollar per-gallon (1 gallon = kurang lebih 3 liter), hampir setiap akhir pekan saya selalu sewa mobil dan menjelajahi kota-kota di kawasan pantai timur Amerika. New Jersey, New York, Pennsylvania, dan Massachusetts adalah wilayah negara bagian yang paling banyak saya telusuri. Pernah pula saya mengelilingi negara bagian Texas selama hampir dua minggu, dan dua minggu pula waktu yang saya habiskan untuk berlibur di jalan raya dari New Jersey, Rhode Island, Ithaca, sampai Michigan. Perpindahan tempat tinggal, dari Oregon ke Wisconsin, juga dilakukan melalui jalur darat yang menempuh waktu enam hari. Semua penjelajahan ini sebagian besar melalui jalan raya, yang di Amerika di sebut sebagai "Highway," meskipun tak jarang juga saya menempuh jalan-jalan pedesaan kecil. |
|
Last Updated on Sunday, 19 April 2009 05:36 |
|
Friday, 16 January 2009 12:27 |
|
Hari Senin minggu lalu, pertama kali masuk kantor di awal tahun, seorang teman bertanya: “Udah bikin resolusi buat 2009?” Dengan sigap saya bilang: “Jelas beluum!!” Memang belum. Dan mungkin juga tidak akan. Resolusi tahunan terlampau ketat buat saya yang terbiasa hidup tanpa target, dan sejujurnya, tanpa arah juga. Tapi sejak sekitar 8 tahun yang lalu, saya juga mulai mengerti bahwa mengalir radikal tanpa arah, selain asik, itu beresiko juga. Banyak malah, bahayanya! Untuk itu, agar tidak terlalu ‘kabur kanginan ora karuan’ saya membuat daftar iseng dibawah tajuk: “13 Hal yang Ingin Aku Lakukan Dalam Hidupku”. Kenapa 13? Pertama, karena saya selalu curiga sama tahyul! Yang kedua, karena saya mengimani bahwa semua angka yang diilhamkan Tuhan kepada manusia adalah baik, termasuk angka 13.
Nah, sampai hari ini, sesekali saya review tuh, daftar “The Iseng Thirteen”. Mencoret, mengubah, menertawakannya, menebalkan, menggarisbawahi, atau menghapus seandainya telah teraih. Satu contoh dari daftar iseng itu, kira-kira seperti ini bunyinya:
Aku Ingin: menjelajahi negeri-negeri Muslim, dari Agra sampai Andalusia, dari Sarajevo sampai San’a.. |
|
Last Updated on Saturday, 18 April 2009 15:44 |
|
|