|
Sunday, 15 August 2010 10:13 |
|
Oleh M. Taufiqurrahman, wartawan The Jakarta Post
Dalam novelnya yang terbit pada tahun 1919 berjudul Under Western Eyes, pengarang Inggris Joseph Conrad menulis bahwa semua pikiran tentang konspirasi dan persekutuan-persekutuan politis adalah hal kekanak-kanakan, hasil dari buah karya pemikiran rendah yang hanya cocok untuk pangung sandiwara dan novel.
|
|
Last Updated on Sunday, 15 August 2010 15:31 |
|
|
Saturday, 05 June 2010 03:14 |
|
Oleh Nezar Patria, redaktur Vivanews.com DARI apartemennya lelaki itu mengirimkan selembar surat. Di luar, salju membungkus Norsborg, satu pojok di kota Stockholm, Swedia. Di mesin faksimili, sehimpunan abjad di kertas itu berlari menerabas jarak, dan lalu tercetak pada mesin lain di meja Carmel Budiarjo, sahabatnya di London. |
|
Last Updated on Saturday, 05 June 2010 03:21 |
|
Thursday, 25 March 2010 12:19 |
|
Oleh Gde Dwitya, alumnus Sastra Inggris Universitas Gadjah Mada Yogyakarta Ada sebuah ujaran yang menyatakan bahwa sejarah selalu ditulis oleh para pemenang . Saya percaya, ini adalah satu mitos yang hingga akhir hayatnya 20 Januari lalu, Howard Zinn coba untuk patahkan. Zinn, sang sejarahwan radikal Amerika, mangkat karena serangan jantung yang menyerangnya selagi berenang. Ia meninggalkan seorang istri dan nama besar dari sebuah buku legendaris yang ia tulis; A People’s History of the United States. Buku tersebut yang ketika diterbitkan pertama kali di tahun 1980 hanya terjual empat ribu kopi, kini telah terjual habis hampir mencapai dua juta kopi dan dicetak ulang lima kali. Ia menempatkan sang penulis, saat itu seorang profesor sejarah di Boston University, di jajaran elit tradisi kritis kaum liberal-progresif Amerika . |
|
Last Updated on Thursday, 25 March 2010 12:32 |
|
|
Sunday, 14 March 2010 14:46 |
Oleh Ulil Abshar-Abdalla
Berkebalikan dari diagnosis sejumlah sarjana modern selama ini, daya tahan agama dalam masyarakat modern ternyata jauh lebih kuat dan kenyal ketimbang yang disangkakan sejauh ini. Tesis sekularisasi yang selama ini kita kenal, yakni, bahwa makin modernisasi berkembang jauh dalam suatu masyarakat, agama akan makin tersingkir jauh dari lanskap kehidupan sosial, pelan-pelan dibuktikan salah oleh perkembangan sosial akhir-akhir ini. Alih-alih agama tersingkir dari gelanggang kehidupan umum, ia justru bangkit kembali dan menampakkan vitalitas yang jauh lebih kuat akhir-akhir ini. Di hampir seluruh sudut dunia saat ini, kita menyaksikan kembalinya agama, entah dalam bentuknya yang tradisional sebagai sebuah spiritualitas yang terlembaga, atau dalam bentuknya yang baru sama sekali, yakni spiritualitas yang tak terlembaga. Entah dalam bentuknya yang bersifat khusus, yaitu agama sebagai sebuah tindakan “belonging” (yakni, menjadi anggota dalam komunitas tertentu), atau yang bersifat umum, yaitu agama sebagai sebagai tindakan “believing” (yakni, iman yang tanpa disertai dengan keanggotaan dalam komunitas tertentu), agama telah mununjukkan daya hidupnya kembali dan hadir secara persisten dalam masyarakat yang sudah mengalami proses modernisasi begitu jauh. |
|
Last Updated on Monday, 29 March 2010 15:11 |
|
Saturday, 30 January 2010 02:25 |
|
Oleh Lisa Suroso, pemimpin redaksi majalah Suara Baru Perhimpunan INTI Perjuangan integrasi Irian Barat ke pangkuan NKRI melibatkan organisasi dan para peranakan Tionghoa. Namun, tak semua sependapat tentang masalah gerakan pro-kemerdekaan. … Taman makam pahlawan Serui terletak di tengah kota. Dihiasi tugu bercat putih dengan lambang Garuda Pancasila. Terbaring delapan jasad pahlawan yang berjasa dalam mengintegrasikan Irian Barat ke pangkuan NKRI: Silas Papare, Stefanus Rumbewas, Thung Tjing Ek, Dirk Ramandey, Salim Suneth, HW Antaribaba, Rafael Maselkosu dan George Henk Ayorbaba. |
|
Last Updated on Tuesday, 09 February 2010 05:05 |
|
|
|
|
<< Start < Prev 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Next > End >>
|
|
Page 1 of 13 |