|
Tuesday, 12 January 2010 22:57 |
|
Oleh M. Taufiqurrahman, wartawan The Jakarta Post
Judul : Against Happiness: In Praise of Melancholy
Pengarang : Eric G. Wilson Penerbit : Sarah Crichton Books(Januari 2009) Tebal : 166 halaman Sebenarnya saya sudah tidak peduli lagi apakah saya bahagia atau tidak, namun akhir-akhir ini saya harus banyak berurusan dengan hal yang susah didefinisikan tersebut. Hampir setahun yang lalu saya menulis sebuah artikel pendek untuk harian The Jakarta Post tentang sedikit kisah perjalanan hidup saya serta hubungannya dengan kebahagiaan. Di tulisan ini saya cuma ingin mengatakan bahwa kebahagiaan adalah sesuatu yang memang tidak perlu didefinisikan. Dan yang paling penting, kita tidak usah terlalu terobsesi untuk mencari kebahagiaan apalagi kalau hanya dengan membeli televisi layar datar, mobil mewah atau alat-alat elektronik yang canggih. Supaya lebih gagah di tulisan itu saya meminjam kutipan kutipan dari Albert Camus, Immanuel Kant dan the Beatles—yang saya sebut terakhir mengatakan bahwa kebahagiaan adalah senjata yang masih hangat (happiness is a warm gun). |
|
Last Updated on Thursday, 21 January 2010 05:45 |
|
|
Sunday, 03 January 2010 10:26 |
Oleh Ciptadi Sukono, karyawan perusahaan swasta di Jakarta Sejujurnya, tidak mudah mencintai negeri ini. Tak gampang pula mengapresiasinya. Di sekolah kita diajari untuk menghafal fakta bertubi-tubi mengenai Indonesia, namun tidak diberi tahu bagaimana cara mencintainya dan mengenali kemolekannya yang berlapis-lapis. Saya belajar terpesona pada Indonesia melalui buku-buku, untuk kemudian dengan mengalaminya sendiri. Menyedihkan, namun demikian kenyataannya. Tinggal di Indonesia, membuat saya menganggap segala sesuatunya taken for granted. Saya merasa perlu meminjam 'mata orang lain', agar bisa mengalami kembali keterpesonaan itu. |
|
Last Updated on Wednesday, 20 January 2010 11:40 |
|
Monday, 21 December 2009 08:24 |
|
Oleh Mohammad Samsul Arifin, staf Litbang Liputan 6 SCTV
Soe Hok-Gie…Sekali Lagi: Buku, Pesta dan Cinta di Alam Bangsanya Editor: Rudy Badil dkk Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia, Desember 2009 Tebal: xxxix + 512 halaman Hidup adalah soal keberanian menghadapi yang tanda tanya/ tanpa kita bisa mengerti/ tanpa kita bisa menawar/ terimalah dan hadapilah// Pergulatan hidup Soe Hok Gie yang mati muda dalam usia 27 tahun kurang sehari terangkum dalam satu bait puisi “Mandalawangi-Pangrango” di atas. Hok Gie adalah pendobrak, namun ia terus-menerus bertemu sepi kala ia harus mempertahankan idealismenya. Bersama mahasiswa lainnya ia merobohkan rezim Orde Lama. Orde Baru bersemi, tapi manalah mungkin sebongkah nurani itu berkompromi melihat penyelewengan kekuasaan langgeng dan kemiskinan bersimaharajalela di bumi pertiwi. |
|
Last Updated on Wednesday, 20 January 2010 11:42 |
|
|
Monday, 14 December 2009 21:49 |
|
Oleh Gde Dwitya, alumni jurusan Sastra Inggris Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta Saya berhenti membaca buku buku sastra semenjak semester kelima studi saya di jurusan Sastra Inggris. Agak ironis rasanya, bacaan saya ternyata lebih banyak datang dari literatur non sastra. Ketika membaca karya Eric Arthur Blair alias George Orwell, saya lebih menggemari esai etnografisnya selama jadi polisi imperial Inggris di Burma: Shooting an Elephant, dibandingkan novel 1984. James Scott dalam bukunya Domination and The Art of Resistance, sering mengutip penggalan esai ini—terutama saat tokoh utamanya terpaksa menembak si gajah akibat takut ditertawakan para penduduk pribumi, the long struggle of white men in this colony is about no to be laughed at—untuk menunjukkan bahwa hidden transcript tidak hanya dimiliki oleh the oppressed namun juga para penjajah.
|
|
Last Updated on Wednesday, 20 January 2010 11:42 |
|
Monday, 14 December 2009 11:08 |
|
Oleh Anwar Holid, editor dan penulis buku Di bawah ini adalah 10 judul buku berbahasa Indonesia yang terbit tahun 2009 yang menarik buat diperhatikan. Judul disusun berdasarkan urutan alfabet.
1. 9 dari Nadira (Leila S. Chudori; KPG, 270 hal.)
Buku ini hadir setelah penulisnya absen menerbitkan buku lebih dari dua dasawarsa lalu, persisnya setelah Malam Terakhir (1988) mendapat respons positif dari berbagai kalangan karena kepekatan ceritanya dengan sosial-politik dan gaya berceritanya yang amat kuat dan bisa jadi tanpa tedeng aling-aling terhadap berbagai kemunafikan.
9 dari Nadira cukup berbeda dari Malam Terakhir, ia lebih merupakan cerita cukup panjang saling terkait yang berpusar pada tokoh utama perempuan bernama Nadira. Hidup normal Nadira sendiri terganggu oleh kisah dalam diari peninggalan ibunya yang mati bunuh diri, masa kecilnya yang bandel, luka terlalu dalam dengan kakak sulung perempuannya, hubungan dengan ayahnya yang mengidap post power syndrome, kakak lelakinya yang bujang lapuk, karirnya sebagai wartawati, wawancaranya dengan seorang psikopat pelaku pembunuhan berantai, rekan kerja yang mencintainya tapi dia abaikan, pengalaman seksual dan perkawinannya yang bermasalah. Meski realis, Leila masih bisa mengelaborasi mitos, agama, beban psikologi, trauma, kekecewaan, dan misteri batin manusia jadi jalinan kisah yang memikat. |
|
Last Updated on Wednesday, 20 January 2010 11:42 |
|
|
|
|
<< Start < Prev 1 2 3 4 Next > End >>
|
|
Page 1 of 4 |