<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<!-- generator="FeedCreator 1.7.3" -->
<rss version="2.0">
	<channel>
		<title>Mega-Prabowo-Wiranto: Imajinasi Pendek PDI-P</title>
		<description>Comments for Mega-Prabowo-Wiranto: Imajinasi Pendek PDI-P at  , comment 1 to 6 out of 6 comments</description>
		<link></link>
		<lastBuildDate>Thu, 11 Mar 2010 15:53:49 +0100</lastBuildDate>
        <generator>FeedCreator 1.7.3</generator>
		<item>
			<title>...</title>
			<link>/politika/208-mega-prabowo-wiranto-imajinasi-pendek-pdi-p.html#comment-185</link>
			<description>Apa yang kau cari mbak mega? Emang nekat ya. Duet Mega-Prabowo? Keduanya saling menjadi kartu mati bagi masing-masing. Mega dengan kegagalan kepemimpinannya dan Prabowo dengan sejarah hitamnya.  - teguh shw</description>
			<pubDate>Thu, 30 Apr 2009 17:26:56 +0100</pubDate>
		</item>
		<item>
			<title>...</title>
			<link>/politika/208-mega-prabowo-wiranto-imajinasi-pendek-pdi-p.html#comment-181</link>
			<description>Kata Utomo Dananjaya, kerusakan bangsa Indonesia sekarang, bangsa yg sangat pragmatis dan korup, merupakan spill-over dari rezim Orba yg sangat korup. Perlu waktu 30-50 tahun untuk membersihkan tumpahan atau lelehannya, meski pohon dan akarnya sudah tumbang.

Upaya Orde Baru untuk menciptakan manusia Indonesia yang hanya berorientasi pada pembangunan ekonomi tanpa peduli pada ideologi (de-ideologisasi) bisa dilihat hasilnya sekarang. Siapa yang ada di belakang itu semua? Kita masih ingat pada tokoh-tokoh seperti Ali Moertopo dan Daoed Yoesoef yang menciptakan NKK/BKK. Kita juga masih belum lupa pada kasus Haur Koneng dan Tanjung Priok. Semua masih ingat pada penyederhanaan parpol hingga menjadi PPP, Golkar dan PDI.

Sebagai mantan aktifis, saya masih merasakan denyut nadi kawan-kawan yang dikejar aparat Koramil karena ada upaya represif terhadap aktifis dan gerakan Islam yang mencoba mempertahankan warna ideologinya.

Siapa yang mengusung itu semua? Kita masih belum lupa pada CSIS sebagai think thank Orde Baru yang menyokong Golkar dan Tentara. Setidaknya, CSIS adalah bagian dari kekuasaan lama, yang akibat dari pemikiran-pemikirannya telah merusak bangsa Indonesia hingga sekarang ini.

Cobalah bung Philips, sbg peneliti dari CSIS baru, membuat tulisan yang lebih mendasar untuk memperbaiki bangsa ini. Hitung-hitung untuk menebus apa yang dilakukan oleh para senior Anda di lembaga tersebut.

Cheers, - Fami Fachrudin</description>
			<pubDate>Wed, 29 Apr 2009 07:52:06 +0100</pubDate>
		</item>
		<item>
			<title>...</title>
			<link>/politika/208-mega-prabowo-wiranto-imajinasi-pendek-pdi-p.html#comment-172</link>
			<description>sebenarnya yang punya imajinasi pendek bukan cuma PDIP saja, semua parpol yang saat ini menjadi lima besar mengalami hal yang sama. Suara pemilih dipertukarkan dengan kongsi-kongsi elit. Ketika pemilih memilih partai sesuai dengan rasionalitas mereka, apa yang terjadi? bagaimana mungkin PKS dan PKB satu gerbong? lihat janji politik ketika pemilu? ada yang menjanjikan koalisi dengan siapapun yang menang? pragmatisme parpol. 
Apa memang begini 'nature' dari parpol? ketika mengkritik, saya akan lebih cenderung mengkritisi sistem demokrasi yang kita jalani. Pemilu hanyalah salah satu output dari mekanisme demokrasi. 
Ada yang 'kurang sreg' dari penilaian beberapa pakar bahwa pemilu selalu dijadikan benchmark kualitas demokrasi. Masa ORBA sudah membuktikan hal itu, ternyata ingatan pendek dan sejarah berulang. Analisis selalu bermula dari pemilu dan tidak berasal dari sistem yang menghasilkannya.
Inilah demokrasi yang kita miliki, dengan segala kekurangannya. Demokrasi KKN....
Demokrasi memang bukan sistem ideal, tapi sistem yang teruji lewat sejarah bahwa inilah sistem yang terbaik yang pernah dihasilkan manusia (Dahl). Kalaupun ada pilihan untuk Indonesia, saya akan memilih despotisme yang rasional dan bermoral.

cheers,

W - whisnu</description>
			<pubDate>Tue, 28 Apr 2009 00:48:20 +0100</pubDate>
		</item>
		<item>
			<title>...</title>
			<link>/politika/208-mega-prabowo-wiranto-imajinasi-pendek-pdi-p.html#comment-171</link>
			<description>Sekadar koreksi faktual untuk Suratno, bahwa Munir dibunuh pada September 2004, pada masa Megawati dan sebelum naiknya SBY (Oktober 2004). Ini tentunya tidak membebaskan SBY dari kesalahan karena tidak dengan getol mengusut pembunuhan tersebut. - Anonim</description>
			<pubDate>Mon, 27 Apr 2009 18:53:10 +0100</pubDate>
		</item>
		<item>
			<title>...</title>
			<link>/politika/208-mega-prabowo-wiranto-imajinasi-pendek-pdi-p.html#comment-169</link>
			<description>iya sama aja dengan SBY, selama dia berkuasa kasus2 pelanggaran HAM seperti kasus trisakti, atmajaya, juga tidak ada yg selesai. Malah timbul kasus baru yaitu meninggalnya Munir yg sampai detik ini juga belum terungkap.   - suratno</description>
			<pubDate>Mon, 27 Apr 2009 07:17:35 +0100</pubDate>
		</item>
		<item>
			<title>...</title>
			<link>/politika/208-mega-prabowo-wiranto-imajinasi-pendek-pdi-p.html#comment-167</link>
			<description>sungguh merupakan koalisi yang menghina akal sehat dan merupakan bentuk koalisi dari jenis yang paling menakutkan. 
lepas dari soal apakah pada akhirnya mereka menang di pilpres atau sebaliknya: apa yang dilakukan oleh PDI-P sungguh makin membuat saya Cemas, bahkan Giris, terhadap masa depan Indonesia. satu-satunya Tanah Airku ini! - timur sinar suprabana</description>
			<pubDate>Mon, 27 Apr 2009 06:44:00 +0100</pubDate>
		</item>
	</channel>
</rss>
