Mon05202013

Last update06:05:35 AM

Tentang Kami | Donasi Anda | Volunteering | Registrasi Forum Member

Back Home Editorial

Editorial

Empat Tahun Jakartabeat: What’s Next?

Jakartabeat 4 tahun

Bulan Januari selalu menjadi bulan istimewa buat kami. Di bulan inilah saya merintis web yang sedang Anda baca ini –empat tahun lalu di tahun 2009– bersama co-founder Taufiq Rahman. Di sebuah musim dingin yang brutal di Amerika Serikat, saya belajar sendiri membuat website setiap malam selama bulan Desember 2008, selama beberapa minggu dan live sebulan kemudian. (Akan tetapi website yang sekarang ini adalah hasil oprekan Pry, seorang IT volunteer yang kemudian menjadi webmaster kami hingga hari ini).

Pangkal kegilaan dimulai dari perbincangan dengan Taufiq seputar musik, di sela-sela waktu belajar kami. Ketika itu saya tengah menulis disertasi doktoral, sementara Taufiq menulis thesis Masternya, di sebuah kampus jurusan ilmu politik arah ke barat dari kota Chicago. Di luar soal politik yang menjadi kajian kami berdua, pokok pembicaraan adalah, tentu saja, musik (bahkan mungkin Taufiq lebih banyak “semedi” di perpustakaan jurusan musik di kampus kami ketimbang di perpustakaan pusat).

Catatan Pengantar Edisi Akhir Tahun 2012

Hidup adalah repetisi dan dari repetisi itu lahirlah tradisi. Di website ini repetisi itu sudah menjadi semacam tradisi. Tradisi kecil yang telah ditunggu oleh sebagian dari pembaca.

Sudah empat tahun terakhir Jakartabeat selalu menghadirkan semacam catatan akhir tahun di akhir bulan Desember. Di kesempatan yang lain terdahulu kami malah lebih jumawa lagi dengan menghasilkan catatan akhir dekade. Banyak yang meleset, namun ada juga yang mampu membantu anda untuk mengingat beberapa produk budaya penting, beberapa hal yang sudah hampir hilang digilas putaran waktu.

Tahun ini bukan pengecualian. Putaran waktu begitu cepat dan ditambah oleh keinginan kita untuk mendokumentasikannya secara berlebih di sosial media, justru semakin cepat membuat sebuah produk budaya punah dari ingatan kolektif (ada yang masih ingat ribut-ribut di sosial media soal Modus Anomali?). Obsesi akan banalitas hidup di sosial media membuat kita mudah lupa akan hal-hal yang selayaknya mendapat perhatian lebih (dan oleh karenanya kami masih menahan diri untuk tidak segera menyaksikan Habibie & Ainun dan 5 cm, misalnya).

Catatan akhir tahun kami ini hendak mencoba menjadi pengingat —paling tidak bagi para penulisnya sendiri— akan hal-hal yang masih mampu menghasilkan excitement di tahun 2012, terutama musik-musik yang masih akan punya harapan untuk tetap dimainkan sampai beberapa tahun ke depan. Setelah membaca draft mereka, kami melihat bahwa mereka hendak mencoba lari dari kecenderungan untuk larut dalam hingar-hingar histeria massa. Sebagian dari penulis kami bahkan sama sekali tidak peduli dengan apa yang terjadi di scene musik secara umum —indie maupun mainstream, Adele maupun Grizzly Bear— dan langsung terjun bunuh diri dengan kepala di bawah dengan menulis tentang musik yang tidak penting, obscure dan dari tempat antah-berantah, namun sudah membantu mereka dalam memberi pemahaman akan kompleksitas sejarah dan kehidupan banyak bangsa.

Forum Member Jakartabeat Resmi Dibuka

Ketika kami mendirikan Jakartabeat lebih dari tiga tahun yang lalu, salah satu mission statement yang tertera —dan juga kemudian menjadi semacam tagline adalah kami ingin mencoba menangkap apa yang dinamakan sebagai "wisdom of the crowd" sebagai kebaikan, kebijakan, ide baru serta hal-hal baik yang bisa datang dari kerumunan atau awam di ranah internet terutama.

Anda pasti mengernyitkan dahi dan bertanya, kebijakan atau ide baru dan baik apa yang bisa datang dari kerumunan? Terlebih lagi kerumunan yang terdapat di internet —tempat di mana troll dan komentar jahat bisa muncul bahkan bagi tulisan yang biasa-biasa saja dan tidak layak mendapatkan komentar atau perhatian sama sekali. Atau kebijakan semacam apa juga yang bisa datang dari tempat di mana seseorang dengan akun Twitter-anonim maupun tidak-bisa melancarkan serangan ad hominem yang paling bengis dan melemahkan jiwa. Atau juga kebijakan dan debat apa yang bisa kita harapkan dari tempat di mana semua orang adalah pemikir kelas berat, tempat orang-orang pintar dan fasih dengan one-liner, yang bisa menggunakan nama Marx dan Orwell, demi untuk menghentikan segala macam debat dengan mereka yang kurang rajin membaca buku?

Page 1 of 5