| Di Balik Cahaya Gemerlap |
|
|
| Monday, 23 February 2009 01:22 |
|
Oleh Edwin Irvanus, Pemimpin Redaksi Majalah Popular
Genre: Action/Drama Sutradara: Darren Aronofsky Penulis: Robert D. Siegel Pemain: Mickey Rourke, Marisa Tomei, Evan Rachel Wood, Ernest Miller
"Darren Aronofsky membedah detail panggung gulat hiburan dan Mickey Rourke yang jadi juaranya".
Mungkin nama Mickey Rourke cukup familiar bagi Anda yang berusia kepala 3. Mungkin Anda termasuk yang dulu mencemburui keberuntungannya, karena bisa tampil sangat hot dengan sejumlah aktris paling seksi pada zamannya. Memulai karir dengan cukup high profile setelah tampil dalam karya Steven Spielberg dan Francis Ford Coppola, Rourke justru terkenal sebagai sex symbol. Meskipun tak berpredikat seflamboyan Kevin Costner atau Tom Cruise, namun lewat peran-perannya Rourke mendapat gelar bisa mencumbu Carre Otis di “Wild Orchid”, Kim Basinger di “9 1/2 weeks”, dan sitcom queen Lisa Bonet di “Angel Heart”. Aksi panasnya yang terakhir itu bahkan membuat Lisa harus tergusur dari serial “The Cosby Show” yang sedang populer sekali saat itu.
Kendati ajang penghargaan ketika itu didominasi aktor-aktor watak serius seperti Robert De Niro, William Hurt, Albert Finney dan Paul Newman, bahkan Daniel Day Lewis yang masih sangat muda, namun karier Rourke di era 1980-an memang sangat kharismatik. Brad Pitt dan Sean Penn yang tahun ini menjadi contender terkuat Rourke di ajang Oscar mengakui bahwa mereka sangat terpengaruh kharisma Rourke di awal karir mereka. Karir Rourke seperti meredup begitu memasuki dekade 1990-an, terutama setelah mendapat nominasi Razzie Award sebagai aktor terburuk dunia, lewat “Desperate Hours” dan “Wild Orchid”. Namanya pun perlahan-lahan tergusur dari layar bioskop dan pemberitaan mengenai dirinya lebih banyak menyangkut perilaku nyentriknya.
Nama Rourke kembali marak di pemberitaan ketika film terbarunya “The Wrestler” didapuk sebagai film terbaik Venice Film Festival pada 6 September 2008 dan meraih Golden Lion. Sejak itu film arahan Darren Aronofsky ini bertarung dengan sangat gagah dari festival ke festival. Terutama Rourke yang seperti melakukan sapu bersih di berbagai festival dan membawa pulang penghargaan sebagai aktor terbaik.
Keistimewaan Rourke kali ini sebenarnya berhutang kepada penggarapan Darren Aronofsky dan ketajaman skenarionya. Film ini mengisahkan Randy The Ram, pegulat profesional yang sangat sukses di era 1980-an. Tetapi setelah 20 tahun telah berlalu dan Randy pun melampaui usia primanya. Berlawanan dengan citra superstar bergelimang cahaya yang dahulu disandang, Randy kini menjalani masa tuanya dengan sangat suram. Di usia senja, dia masih harus bertarung untuk mempertahankan hidupnya. Ketika pulang, rumah sewaannya ternyata telah disegel sang pemilik, karena Randy telah terlalu lama menunggak uang sewa. Kehidupan pribadinya sangat mengenaskan. Randy hidup sendiri tanpa pasangan tetap. Satu-satunya teman hidup yang dimilikinya adalah seorang penari strip paruh baya yang rutin dikunjunginya, Cassidy.
Babak selanjutnya dari perjalanan getir Randy adalah ketika dia mengalami serangan jantung dan divonis harus pensiun dari aktivitas di atas ring. Randy pun semakin kehilangan arah hidupnya. Di saat-saat itu, Cassidy yang setia menemaninya, menyarankan Randy untuk memulai kembali hubungan dengan putrinya, Stephanie yang sangat membenci Randy. Dengan berbagai cara, Randy bisa mulai memulihkan sedikit kepercayaan sang putri tunggal, sebelum akhirnya menghancurkannya kembali dengan perilaku serampangannya, Ketika sadar eksistensinya semakin tergerus usia dan hidupnya kehilangan makna, Randy pun memilih kembali bertarung dengan lawan legendarisnya, Ayatollah.
Film ini seolah-olah merefleksikan perjalanan karir Mickey Rourke sendiri. Gaya sinematografinya dengan handheld camera sangat mewakili penggambaran kegamangan Randy The Ram menghadapi masa tuanya. Elemen film ini yang paling mengesankan adalah detail di balik panggung hiburan gulat profesional. Aronofsky menggambarkannya dengan sangat baik sehingga rasa-rasanya tidak ada film lain yang bahkan mirip dengan film ini. Sementara di sisi lain, kita juga disuguhi tontonan brutal hardcore match yang seru dan menegangkan. Meskipun sebelumnya kita telah memahami bagaimana mereka masing-masing mempersiapkan diri untuk mengantisipasi luka dan kejutan-kejutan keras lainnya, namun adegan tarung di atas ring terlihat sangat nyata dan menghibur.
Bagaimanapun, poin paling tinggi film ini memang dicetak oleh Mickey Rourke dengan penampilan cemerlangnya. Tak heran, kalau Rourke kali ini bisa menaklukan pertarungan keras di jajaran aktor-aktor terbaik dunia di ajang festival. Jangan lupa untuk menyimak penampilan tak terduga Marisa Tomei sebagai pelacur. The Wrestler memang berhasil untuk membangun setiap elemen-elemennya dengan kokoh. Sayang sekali, agak kurang memancing tanggapan emosional. Well, bukankah setiap panggung gulat hiburan memang demikian adanya? |
Baca Artikel Lainnya
Set as favorite
Hits: 446 Comments (0)
![]() Write comment
|
| Last Updated on Wednesday, 20 January 2010 15:23 |