Esai (124)
by
Husni Efendi -
Published in
Esai
Pelataran halaman Gedung Graha Bakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, Jakarta malam itu (26/04) ramai bukan hanya oleh calo tiket, tetapi juga ramai dengan mereka yang kondang disebut sebagai seniman, selebriti, penulis, aktivis bahkan politisi. Tentu banyak juga masyarakat umum, dan orang 'biasa-biasa saja' seperti saya ini yang ikut nimbrung. Kami semua hendak menonton lakon Gundala Gawat yang dipentaskan Teater Gandrik. Naskah lakon ini sendiri ditulis oleh Goenawan Mohamad (GM) berangkat dari parodi tokoh Gundala Putra Petir, sosok superhero lokal dalam komik ciptaan Harya Suryaminata (Hasmi) yang pertama kali muncul pada tahun 1969. Djaduk Ferianto dan aktor kenamaan Butet Kartaredjasa juga…
Read 254 times
by
Raka Ibrahim -
Published in
Esai
Ilustrasi: Hilang - Prys Pry Beberapa waktu lalu, pandangan mata saya sempat terganggu oleh salah satu iklan kampanye politik di televisi. Premis-nya sederhana; sang calon gubernur berpose dengan wajah berwibawa dan dengan dandanannya yang necis dari dalam rumahnya yang besar dan mewah, untuk menunjukkan bahwa dia adalah seseorang yang penting dan sudah sukses di dalam hidupnya. Lantas, dia terduduk di depan televisi sambil bergonta-ganti channel, melihat satu per satu berita tragik yang sudah lazim menghiasi acara-acara berita kita: Pembunuhan, banjir, korupsi, penyuapan, skandal seks, kasus perceraian, apalah. Wajah berwibawa dan kumis lebat-nya segera menunjukkan ekspresi khawatir, yang diaksentuasi oleh…
Read 1166 times
Seseorang tiba-tiba bangkit. Bergaya layaknya pesilat, ia memasang kuda-kuda dan berjalan keliling panggung. Geraknya kaku sambil mengepalkan tangan dan meninju udara dalam berbagai jurus. Yang menarik, tak ada yang diucapkannya selain kata Bib Bob berulang-ulang setiap kali tinjunya dilancarkan. Seseorang lain lebih ajaib lagi. Sepanjang yang bisa dilihat, kelakuannya agak minus dengan gaya tubuh lepas melenggak-lenggok. Wajahnya menyeringai dan mengucapkan tiada lain hanya desisan berbunyi Zzzzzzzz yang keluar dari bibirnya. Tokoh lainnya, alih-alih sekedar figuran, justru menjadi subjek panggung paling dominan. Yakni empat orang duduk tegap bersidekap memandang kosong ke depan. Empat tokoh anonim inilah yang tiap kali didekati Bib…
Read 582 times
by
Irwan Bajang -
Published in
Esai
Saya sudah akan beranjak tidur ketika menyiapkan keluar dari akun twitter saya. Namun karena melihat sebuah tautan yang diposting oleh sebuah akun twitter, saya mengurungkan niatan itu: Penulis Laskar Pelangi Berencana Perkarakan Blogger. Tanpa membuka tautannya saya bisa menebak, blogger yang dimaksud tentu Damar Juniarto, yang sebelumnya menulis “Pengakuan Internasional Laskar Pelangi: Antara Klaim Andrea Hirata dan Faktanya”. Andrea Hirata si penulis Laskar Pelangi berencana memerkarakan Damar Juniarto, seorang blogger, pemerhati media dan aktivis perbukuan. Saya benar-benar tak jadi tidur dan sepertinya saya harus ikut merespons. Setelah membaca kembali tulisan Damar, saya meyakinkan diri dan mengambil kesimpulan; Ia sama sekali…
Read 11196 times
by
Raka Ibrahim -
Published in
Esai
Ada satu bagian yang sangat menarik bagi saya di esai ‘The Thirtysomethings are Not Alright’, yang ditulis beberapa waktu lalu oleh Taufiq Rahman di situs ini. Di esai tersebut, ia nampaknya berbicara mengenai dekadensi kelompok usia 30’an yang kini mendiami kantor-kantor sempit dan cubicle ber-AC di berbagai gedung pencakar langit yang memenuhi Jakarta; yang berjalan dengan baju rapi mereka dan dasi mereka dan membawa laptop mereka dan tablet mereka yang mereka tenteng dengan bangganya itu. Bisa dibilang, inilah realita kehidupan kosmopolitan, berada di sebuah tempat di mana kita menggantungkan setiap detik kehidupan pada transfer gaji berikutnya, yang kemudian akan dihabiskan…
Read 6766 times
by
Taufiq Rahman -
Published in
Esai
Umur tidak mendefinisikan sebuah generasi, karena pada akhirnya tanggal dan tahun lahir adalah sebuah kebetulan kosmik. Dan bagi saya dan jutaan orang lain di negeri ini, kecelakaan kosmik itu adalah lahir di akhir dekade 1970-an, tumbuh besar di akhir Orde Baru dan kini memasuki usia puncak di dekade pertama millennium baru—di tempat lain generasi ini biasa disebut sebagai Generasi X. Tapi mungkin di Indonesia ini adalah sebuah misnomer. Sudah banyak yang ditulis soal generasi millenial, mereka yang lahir di akhir dekade 1980-an, yang dengan Britney Spears dan Justin Timberlake dibekali sebuah naluri untuk eksibisionisme dan ekstroversi yang berlebihan. Sudah banyak…
Read 4828 times
Tak ada yang lebih merisaukan saat menyimak wacana musik dalam negeri –terhadap hubungannya dengan internet dan distribusi konten digital– yang berkuasa di ranah publik selama satu dekade ke belakang. Puluhan buku, ratusan artikel dan ribuan sumber lain ditulis hanya untuk memandang Internet, –khususnya pada konteks industri musik– sebagai kambing hitam merebaknya pelanggaran kepemilikan individu atas kerja kreatif dan hak cipta musisi. Kita pun tahu bahwa kuasa wacana yang dimainkan sejumlah organisasi, label rekaman, pengacara dan sejumlah media mainstream ini pada akhirnya mengalami kebuntuan, membuat kita lebih banyak menguras tenaga melawan pembajakan daripada mencari cara bagaimana kita dapat beradaptasi dengannya dan…
Read 2672 times
by
Ihsan Ali-Fauzi -
Published in
Esai
SALAH satu ciri utama yang mewarnai karya-karya Pramoedya Ananta Toer adalah saling hubungan antara sejarah (realitas) dan sastra (fiksi). Kekuatan pengarang ini adalah “menghidupkan” tokoh-tokoh sejarah atau periode tertentu sejarah dalam fiksi yang ditulisnya. Meski baginya realitas adalah realitas dan fiksi adalah fiksi, dua wilayah pengalaman manusia ini bisa dikelola sebegitu rupa hingga sejenis realisme sejarah bisa dicapai dalam fiksi. Fiksi adalah media utama Pramoedya hingga ia tidak hanya berhasil menghipnotis pembacanya tapi juga mewarnai dan membentuk persepsi mereka terhadap sejarah Indonesia. Dalam Jejak Langkah, Pramoedya melukiskan antara lain pertemuan antara Minke, Pemimpin Redaksi Medan Prijaji dan tokoh utama…
Read 1780 times
by
Aris Setyawan -
Published in
Esai
Setelah menonton film dokumenter karya Joshua Oppenheimer ini dua kali, tetap saja saya masih belum bisa memahami realitas yang dipaparkannya. Belum bisa memahami bagaimana bisa manusia menjadi reinkarnasi iblis dan membunuh manusia lain saat manusia lain tersebut berbeda keyakinan. Sejak dahulu sejarah memang membuktikan bahwa manusia bisa saling bunuh atas nama ideologi. Dan The Act of Killing (TAoK) memaparkan dengan gamblang pembunuhan atas nama ideologi yang terjadi di Indonesia pada tahun 1965. Pembunuhan dan pembantaian terhadap para penganut paham komunisme (bahkan mereka yang tak mengerti apa itu komunisme namun jadi tertuduh) yang mendapat pembenaran oleh kata sakti nasionalisme dan ideologi…
Read 2514 times
by
Akhmad Sahal -
Published in
Esai
Martin Buber (1878-1965) dalam dunia filsafat dan teologi lebih masyhur dikenal sebagai salah satu tokoh eksistensialisme lewat traktat filsafatnya, I-Thou. Namun, di negara Israel, teolog Yahudi asal Jerman yang menghabiskan masa tuanya sebagai profesor filsafat di Hebrew University di Jerusalem tersebut adalah seorang Cassandra modern. Cassandra dalam mitologi Yunani kuno adalah putri raja Priam dan Hecuba dari Troya yang dianugerahi keistimewaan tapi sekaligus didera kutukan oleh Dewa Appolo. Keistimewaannya, Cassandra bisa meramalkan malapetaka sebelum terjadi. Namun, dan inilah kutukan itu, tak akan ada orang yang mau mempercayainya. Martin Buber adalah Cassandra modern bagi Israel karena sejak sebelum Israel berdiri ia…
Read 3822 times

