Mon05202013

Last update06:05:35 AM

Tentang Kami | Donasi Anda | Volunteering | Registrasi Forum Member

Back Home Humaniora Kanal Humaniora Esai Andrea Hirata, Distorsi Sikap dan Informasi
20 Feb 2013

Andrea Hirata, Distorsi Sikap dan Informasi

Written by Irwan Bajang  |  Read 11167 times
Rate this item
(18 votes)

Saya sudah akan beranjak tidur ketika menyiapkan keluar dari akun twitter saya. Namun karena melihat sebuah tautan yang diposting oleh sebuah akun twitter, saya mengurungkan niatan itu: Penulis Laskar Pelangi Berencana Perkarakan Blogger.

Tanpa membuka tautannya saya bisa menebak, blogger yang dimaksud tentu Damar Juniarto, yang sebelumnya menulis “Pengakuan Internasional Laskar Pelangi: Antara Klaim Andrea Hirata dan Faktanya”. Andrea Hirata si penulis Laskar Pelangi berencana memerkarakan Damar Juniarto, seorang blogger, pemerhati media dan aktivis perbukuan. Saya benar-benar tak jadi tidur dan sepertinya saya harus ikut merespons.

Setelah membaca kembali tulisan Damar, saya meyakinkan diri dan mengambil kesimpulan; Ia sama sekali tidak punya pretensi sedikit pun untuk merongrong integritas kepenulisan Andrea Hirata –penulis yang sedang mengampanyekan bukunya yang konon mendapat brand Best Seller di beberapa negara ini.

Damar sama sekali tak terlihat sedang menjadi orang jahat yang menghakimi dan memojokkan si penulis dan karyanya. Saya tak bisa menemukan alasan yang pas mengapa Ia harus dibawa ke meja hijau. Tak ada yang difitnah, tak ada juga yang harus dituntut karena pencemaran nama baik. Miris rasanya ketika membaca berita, seorang penulis akan memerkarakan secara hukum tulisan penulis lain tanpa membela dengan tulisan. Seolah kekuatan tulisan dari profesi menulisnya tak cukup untuk membela diri atau setidaknya melakukan klarifikasi.

Distorsi Fakta

Respons untuk sebuah karya adalah hal yang sangat wajar dalam dunia sastra atau dunia tulis-menulis. Sebuah publikasi karya kemudian akan direspons oleh banyak pihak. Dengan memulai sebuah pekerjaan, maka tentunya seseorang harus siap dengan segala konsekuensinya. Tak mungkin hanya akan ada pujian, sebab dengan hanya adanya pujian dan tanpa cemoohan atau apresiasi negatif dari pihak lain, maka sebuah karya tentu tidak akan mengalami dialektika untuk membuktikan bagaimana sebuah karya itu hadir, dibaca, diterima dan bertahan sampai waktu tertentu.

Label 'International Best Seller' dengan dasar penetapan yang masih abu-abu, juga pernyataan Andrea tentang sastra Indonesia yang tak kunjung mendunia selama kurun kurang dari seratus tahun sepertinya membuat Damar geli dan membuatnya harus menulis dan memublikasikan tulisannya tersebut.

Pernyataan sensasional pastinya akan mendapat respons dari banyak orang. Respons tak bisa seragam, angkat topi dan tepuk tangan. Ada yang mencibir, ada yang meragukan dan ada pula yang kritis. Nah, Damar sepertinya mengambil posisi kritis. Dan itu sangat wajar. Kewajaran ini tidak perlu dijelaskan di sebuah negara yang kebebasan ekspresinya sudah mendapat jaminan hukum. Terlebih kepada seorang penulis lulusan luar negeri, dengan pekerjaan penulis yang (mungkin) identik dengan rajin membaca, riset dan hal-hal intelektual lainnya.

Lalu kenapa Andrea harus tersinggung? Padahal, jika membaca dengan jeli, Damar tak punya sedikit pun tujuan untuk menyinggung lewat tulisannya. Saya tidak menemukan satu pun kalimat dalam tulisan Damar yang membahas tulisan Andrea. Mengejek atau mendiskreditkannya. Pembacaan mestinya terfokus pada apa yang ditulis Damar, yakni klaim internasional Andrea dan pernyataan tentang 100 tahun sejarah Sastra Indonesia tersebut.

Sebenarnya dalam beberapa waktu dan kasus, Andrea Hirata terlihat tidak tegas dan cenderung plin-plan. Kabar yang beredar sebelumnya, buku Andrea jadi nominasi sastra terbaik dalam ajang Anugerah Sastra Jerman, TB Buchawards 2013. Lalu tiba-tiba muncul fakta lain, bahwa bukunya dinominasikan sebagai buku fiksi untuk pariwisata seperti yang diungkapkan Berthold Damshauser, pengajar Bahasa dan Sastra Indonesia di Universitas Bonn.

Menurut  Berhold, penghargaan di Jerman untuk novel “Laskar Pelangi” kurang atau tidak bersifat sastra, melainkan 'pariwisata' –seperti yang diberitakan di tempo.co 15 Februari lalu. Selain itu, dalam sebuah pemberitaan, Andrea menolak disebut sastrawan padahal informasi sebelumnya, bukunya menjadi nomine untuk penghargaan “buku sastra”. Mungkinkah seorang yang bukan sastrawan masuk nominasi penghargaan sastra? Atau kalau Andrea tak mau disebut sastrawan, kenapa ia membiarkan bukunya masuk sebagai kandidat peraih penghargaan di ajang Anugerah Sastra?

Penolakan sebutan sastrawan,  forum penghargaan sastra, label sastra terlaris sepanjang sejarah Sastra Indonesia (seperti yang pernah terlihat di sampul bukunya) dan beberapa informasi lain yang simpang siur sepertinya memang harus diurai, agar semuanya bernas dan jelas. Maka wajarlah, (sekali lagi sangat wajar) jika distorsi informasi ini menimbulkan polemik dan pertanyaan dari banyak pihak, termasuk oleh Damar.

Melihat rekam jejak Damar dalam dunia perbukuan, Ia tentu tidak punya pretensi untuk menjadikan dirinya penghambat sebuah karya sastra untuk menuju pentas karya sastra dunia. Damar banyak bergiat justru mempromosikan buku banyak penulis, membuat acara talk show online via twitter, Youtube dan review buku di komunitas Goodreads. Bukankah beberapa usaha dan kegiatannya selama ini yang dikenal sebagai aktivis buku juga tak kalah pentingnya?

Sangat berlebihan rasanya jika menyebut usaha pencarian fakta yang dilakukan Damar lewat tulisannya dianggap sebagai upaya untuk menghalangi dan tidak mengapresiasi usaha dan nama Andrea yang sedang mendunia. Damar mewakili pembaca yang merasakan akibat dari distorsi informasi ini. Pembaca perlu tahu banyak fakta, agar paham, tak terbodohi dan tahu mana info yang benar.  Sungguh tak layak penulis membawa seorang penulis lain ke meja hijau akibat dari tulisan yang notabenenya hanya mencari informasi dan meminta penjelasan. Sejarah sastra kita dipenuhi banyak intrik, kritik dan perseteruan, tapi baru kali ini saya melihat metode penyelesaian yang tidak “tulisan lawan tulisan”.

Tentang Klaim Itu

Klaim Andrea tentang selama seratus tahun tak ada karya anak bangsa yang telah mendunia dan dimulai dengan Best Seller-nya buku Laskar Pelangi seperti yang ditulis Damar dalam artikelnya bisa saja dibalas Andrea dengan tulisan konfirmasinya. Agar klaim ini tidak menjadi bumerang baginya dan dianggap sebagai wujud sikapnya yang berlebihan (kalau tidak megalomaniak) dan buta Sastra Indonesia.

Pramoedya, NH Dini, Y.B. Mangunwijaya dan beberapa penulis Indonesia lainnya sudah jauh lebih dahulu mendunia. Bahkan beberapa karya mereka diterbitkan King Penguin yang dianggap sebagai penerbit besar dunia, juga sebagai kandidat kuat peraih nobel. Tapi toh tak ada satu pun dari mereka yang pernah mengklaim dengan berlebihan prestasi itu. Beberapa bulan lalu seorang penyair yang saya kenal diundang ke luar negeri, dibahas karyanya dan diterbitkan bukunya tanpa agen melainkan diminta langsung karena prestasi dan idenya. Tapi toh itu bukan hal yang harus selalu disebut, dan dijadikan patokan sebagai capaian. Biarlah dunia yang tahu bagaimana sebuah buku menjadi abadi dibaca oleh pembacanya. Seperti kata Pramoedya, sebuah buku adalah anak rohani yang punya nasib dan usianya masing-masing. Buku akan menemui dan menyentuh pembacanya dengan atau tanpa label Best Seller, pujian endorsement dan atau bahkan makian sekalipun.

Dalam dunia sastra, sudah merupakan hal lumrah sebuah karya ditelisik, dituding, diapresiasi postif atau negatif. Hukum yang berlaku di dalam dunia sastra itu adalah “tulisan dibalas tulisan.” Saya rasa, siapa pun pembaca, penggiat media, blogger atau siapa pun berhak mengemukakan pendapat, menanyakan beberapa hal yang belum jelas dan jadi kegelisahan. Damar, demikian juga dengan pembaca lain, berhak membuat interpretasi tulisan seperti itu, karena posisinya (kalaupun tidak dapat dibilang sebagai kritikus) sebagai pembaca yang mengapresiasi karya.

Jika Andrea merasa tersudutkan, maka tulislah esai yang sebanding. Sangat tidak perlu rasanya mengadakan konferensi pers, merasa diri sudah menjadi penulis dunia dan tak merasa penting untuk membalas tulisan Damar dengan tulisan sendiri.

Ketika Andrea mengatakan Indonesia butuh kritikus, maka sesungguhnya Ia sedang menunjukkan kelemahan pengetahuannya tentang situasi kritik sastra di Indonesia. Ia mungkin tidak jeli melihat beberapa buku kritik sastra yang telah terbit, meskipun dalam jumlah yang belum bisa dibilang memuaskan. Selama tradisi kritik dilandaskan pada bacaan, standar akdemis dan fakta yang ada, maka sebuah tulisan kritik tak punya dosa apa pun untuk dihadapkan pada hadapan hukum positif yang bersifat tuntut-menuntut dan salah atau benar.

Sayang sekali, Andrea seperti menyederai dirinya dengan berlaku demikian. Bukankah di bukunya ia banyak menulis tentang mengedepankan persahabatan, dialog yang baik dan kerukunan. Tapi dalam sebuah mekanisme komunikasi pun ia sudah melakukan jalan pintas; keluar dari jalur komunikasi ala profesi yang ia geluti sebagai penulis.

Damar sama sekali tak mendiskreditkan apalagi menurunkan prestise Andrea sebagai penulis. Tapi Andrea-lah yang melakukan hal tersebut untuk dirinya. Ada ribuan orang berkicau di Twitter menentangnya, dan bahkan muncul wacana penggalangan dukungan untuk Damar. Hal ini membuktikan secara gamblang bahwa Damar dibela oleh banyak sekali pembaca, dan pembaca Andrea tak menginginkan jalur-jalur non-penulisan dilakukan.

Mengabaikan hal itu, Andrea seolah menjelma menjadi sosok yang seolah anti-kritik dan tak bisa dikonfirmasi lewat tulisan. Seolah apa yang  keluar dari dirinya dan manejemen kepenulisannya (kalau ada) tak patut dipertanyakan ulang apalagi dikritisi. Padahal jika menghadapinya dengan bijak, Andrea bisa meraih simpati pembacanya dengan bereaksi wajar, membalas tulisan dengan tulisan. Bukankah penulis besar tumbuh bersama kritik, pembaca, apresiasi dan segala dunia di sekelilingnya?

Tulisan Balas Tulisan

Jika di awal saya bilang tak ada kalimat yang saya temukan mendiskreditkan integritas Andrea, saya juga tidak menemukan kalimat yang merendahkan penerbit seperti yang dikatakan Andrea atas tuduhannya pada Damar yang telah pula pula melecehkan Sarah Crichton Books dan begitu banyak penulis bermutu yang telah diterbitkan di penerbit itu.

Menurut Andrea, seorang penulis harus mempertahankan integritas karyanya dan hal itu bersifat sangat prinsip. Okelah. Dalam hal ini saya sepakat. Tapi integritas yang mana dulu? Integritas macam apa yang diganggu Damar?

Merunut pada pernyataan Andrea dalam pemberitaan rencana untuk memerkarakan Damar, Andrea mengklaim telah memberi dampak yang amat positif bagi nama Indonesia dalam peta buku internasional. Sehingga apa yang dilakukan oleh Damar sangat melemahkan upaya keras Andrea untuk mengangkat harkat dan martabat Indonesia melalui dunia buku. Juga anggapannya bahwa tulisan Damar bisa menjadi preseden yang buruk bagi para penulis Indonesia lainnya yang tengah bersusah-payah untuk menerbitkan buku di luar negeri.

Tentu saja Andrea salah besar. Ia tampaknya harus membaca ulang dengan teliti bagaimana Damar menulis dengan rapi, lembut dan tertata bagus. Tidak ada yang zalim dan dizalimi sejauh yang saya baca.

Memang ada banyak orang yang tidak sadar bagaimana posisinya di peta sastra negaranya. Dengan klaim laris dan jumlah eksemplar yang laku maka ia bisa serta merta merasa diri menjadi seorang penulis besar dan bagus. Padahal, tak pernah ada kata sepakat di mana pun bahwa laris sama dengan baik, atau baik sama dengan laris.

Demikian juga ukuran standar Best Seller yang sampai sekarang tak pernah ada ukuran pastinya. Lepas dari itu, yang terpenting adalah keharusan seorang penulis untuk sadar profesi dan pekerjaannya menulis. Jika ada masalah yang ditimbulkan oleh menulis, maka menulis berikutnya bisa jadi cara untuk menyelesaikan masalah. Lucu rasanya seorang penulis menanggapi tulisan dengan bukan tulisan.

 

*) Naskah versi aslinya telah diterbitkan di blog pribadi penulis. Dimuat kembali di sini oleh Redaksi dengan seizin penulis

Irwan Bajang

Irwan Bajang

Pimpinan Redaksi di Indie Book Corner. Punya cita-cita membangun sebuah rumah baca dan menulis di kampung halamannya. Pekerjaan sehar-hari adalah menulis, menyunting naskah dan bersenang-senang.

URL: www.irwanbajang.com

Comments

  • No comments found

Social Comment


Powered by Disqus