Sun05192013

Last update06:05:35 AM

Tentang Kami | Donasi Anda | Volunteering | Registrasi Forum Member

Back Home Humaniora Kanal Humaniora Travelling Catatan dari Gunung Padang: Indonesia Pernah Jaya
07 Feb 2013

Catatan dari Gunung Padang: Indonesia Pernah Jaya

Written by Ayu Welirang  |  Read 3208 times
Rate this item
(7 votes)
Catatan dari Gunung Padang: Indonesia Pernah Jaya Ilustrasi: Istimewa

Berawal dari sebuah perjalanan tanpa arah menuju daerah Cianjur, Jawa Barat, saya mulai mengembangkan pikiran saya. Nyaris tak ada yang tahu pasti kabar terbaru dari situs megalitikum Gunung Padang di Cianjur. Penggalian yang membutuhkan biaya banyak itu ternyata tak dilanjutkan. Konon, biaya untuk penggalian tak cukup dan pihak yang melakukan riset pun tak ingin menunggu gelontoran biaya dari pihak luar.

Pasalnya, mereka tak ingin bahwa identitas leluhur Indonesia yang mulai terbuka ini diakui oleh orang luar sebagai nilai budaya mereka. Maka, penggalian ini berhenti dan saat ini, situs megalitikum Gunung Padang hanya sekedar menjadi tempat wisata bagi orang awam.

Gunung Padang terletak di suatu lokasi yang amat jauh dari kota. Berdiri pada ketinggian sekitar lima ratus meter di atas permukaan laut, menuju Gunung Padang bukanlah hal yang mudah. Media menutup diri terhadap situs ini, hanya sekedar informasi kecil dan tak pernah mengulas lebih lanjut mengenai letak Gunung Padang secara rinci.

Saya pun kewalahan dalam mencari lokasi, karena jalanan berbukit-bukit, dua puluh kilometer berjalan dari gerbang utama yang hanya dituliskan oleh papan usang. Sungguh miris, padahal ini situs budaya, situs peninggalan leluhur yang dapat menguak semua informasi.

Mungkin, sudah banyak orang yang berkunjung ke sini, sekedar melihat bebatuan andesit yang entah apa artinya. Bagi orang awam, Gunung Padang hanya sekedar jadi reruntuhan biasa, tanpa ada makna di balik itu. Bagi saya, saya memaknai Gunung Padang sebagai kekuatan masa lampau. Gunung Padang sejatinya pernah menjadi pusat peradaban orang Indonesia di masa lampau yang berpengaruh pada masa itu.

Menurut guide di Gunung Padang yang bernama Pak Yusuf, Gunung Padang memiliki ciri khas semacam Machu Picchu di Peru, dan kadar besi pada batuannya lebih tua daripada Machu Picchu. Apakah leluhur kita sempat berjalan ke Peru sana? Ataukah orang Peru sana yang datang ke Indonesia dan mengambil beberapa konstruksi Gunung Padang?

Nyatanya, fenomena situs budaya yang perlahan mulai muncul ke permukaan ini bisa membuka sedikit krisis identitas yang sedang terjadi. Dulu, kita pernah menjadi bangsa yang besar, yang memiliki peradaban dominan. Dan kini, Indonesia tak lebih dari bangsa yang sudah tertanam mental terjajah, oleh apapun. Mental terjajah yang didominasi oleh media dan juga tangan-tangan raksasa.

Kalau memaknai Gunung Padang sebagai pusat peradaban maju pada masanya, tentulah kita patut berbangga hati. Buktikan pada tangan-tangan raksasa di barat sana, kalau kita pernah hidup dalam masa yang jaya. Indonesia pernah jaya, meskipun kini sedang terlihat sangat terpuruk. Untunglah, inisiatif dan kerjasama rakyat Cianjur terhadap situs ini cukup besar. Mereka tak begitu banyak memasukkan kontribusi dari tangan pemerintahan ataupun tangan-tangan luar agar situs ini tetap berjalan dengan tangan rakyat asli Cianjur.

Rakyat Cianjur asli yang memiliki hubungan intim secara langsung dengan Gunung Padang tentulah lebih tahu bagaimana caranya memperlakukan Gunung Padang. Sampai saat ini, titik-titik rawan yang ada di Gunung Padang masih tetap dijaga. Banyak tempat sampah kayu dan juga asbak rokok yang disebar di sekitar Gunung Padang. Hal ini semata-mata untuk menghormati leluhur di sana dan juga untuk menjaga keindahannya.

Sampai saat ini, Gunung Padang masih kokoh berdiri di atas bukit, dengan struktur punden berundak yang masih tetap kokoh meski rapuh. Disebutkan oleh rakyat Cianjur, bahwa Gunung Padang ini lebih tua daripada peradaban suku Maya, piramid di Mesir, bahkan Stonehenge di Inggris sana.

Indonesia kini sedang terombang-ambing dalam samudera luas yang tak terlihat muaranya. Kita seolah dicekoki dengan berbagai ambiguitas tentang sejarah Indonesia. Tentu banyak hal yang perlu dicari kebenarannya, sejak zaman kerajaan Hindu sampai masa-masa moderat di mana pergerakan nasional masih jadi candu bagi para pemuda.

Dan saat ini, Indonesia bahkan kehilangan identitasnya sebagai bangsa yang pernah maju, pernah berjaya dan pernah menjadi momok bagi negara lain. Saat ini, Indonesia hidup dari tangan-tangan raksasa yang bahkan dengan lihainya mengeruk negara dari Sabang sampai Merauke. Hampir tak ada kata ‘tanah surga’ bagi rakyat sendiri, karena tanah-tanah yang dijejaki mereka pun nyaris bukan milik mereka. Sebenarnya, milik siapakah Indonesia?

Anggaplah tulisan ini semacam curahan hati seorang perempuan yang tak mengerti banyak tentang ilmu-ilmu sosial, ilmu sejarah, ilmu politik dan lain sebagainya. Anggaplah curahan hati ini murni dari dalam perasaan seorang perempuan yang menyaksikan kehancuran yang terlihat nyata. Banyak yang harus disadarkan, tapi rasanya sulit.

Dengan menulis catatan perjalanan semacam ini, mungkin bisa jadi langkah awal. Dan kali ini, sedikit informasi di atas mungkin bisa mengembalikannya.

Ayu Welirang

Ayu Welirang

Perempuan yang gemar menghabiskan waktu hanya untuk minum kopi bersama sepi. Gemar berjalan-jalan sendirian dan mendaki gunung bersama kawan. Perempuan biasa saja dan bukan siapa-siapa yang mencintai Kurt Cobain, Layne Staley, Eddie Vedder, barong Bali, dan wayang golek

URL: jakartabeat.net/ayuwelirang

Comments

  • No comments found

Social Comment


Powered by Disqus