Sun05192013

Last update06:05:35 AM

Tentang Kami | Donasi Anda | Volunteering | Registrasi Forum Member

Back Home Idea Kanal Idea Cerpen

Cerpen (17)

19 May 2013
Published in Cerpen
TELEVISI masih menyala. Ikan-ikan di akuarium bergerak-gerak cepat. Dua orang di ruangan itu masih terjaga, duduk berhadapan di sofa yang dipisahkan sebuah meja. Musik klasik menemani mereka yang saling memberi jarak. Selama dua jam, mereka sesekali menatap kepada satu sama lain. Si gadis dengan laptop di atas bantal pada pahanya, si pria dengan buku bacaan tebalnya. Sebuah mug besar berisi kopi kental di hadapan si pria, satu botol mineral besar di hadapan si gadis. Satu mangkuk bekas mi kari dan sebungkus besar roti rasa stroberi. “Kau tak pulang?” tanya si gadis pada pria di hadapannya. Si pria menggeleng, “Terlalu larut.”…
11 May 2013
Published in Cerpen
“Kita tak semestinya berpijak di antara ragu yang tak berbatas.. Seperti berdiri di tengah kehampaan.. Mencoba untuk membuat pertemuan cinta..” Kamu impulsif. Mudah jatuh pada suasana yang memberimu ruang untuk bernostalgia dengan luka-luka. Perasaan sakit yang tanpa sadar selalu kau pelihara dengan apik di sudut hati. Barangkali kita sama. Bedanya, kau tak pernah lelah dengan perasaan-perasaan sentimentil semacam itu, sedangkan aku mulai tak percaya pelbagai harapan yang tumbuh di sekelilingku. Harapan yang hanya akan membuatku tidak produktif menjalani hidup. Harapan yang sering kali harus bertabrakan dengan kenyataan yang pahit. Maka aku bertekad hanya menjalani sebaik-baiknya apa yang kuyakini benar. Dan…
04 May 2013
by El Nugraheni - 
Published in Cerpen
Pengap tentu saja.  Aku berada dalam semacam bus kota rombeng, jalannya lambat dengan mesin menggerung-gerung berat, jok di bangkunya apak, cuma ada dua lampu redup berdengung kasar seperti akan segera putus, dan di luar sepertinya malam. Aku sedikit panik, sama sekali tidak bisa ingat bagaimana aku bisa tiba-tiba ada di sini, duduk di bangku paling depan sebuah bis kota tua yang aku tidak tahu menuju kemana. Aku baru saja hendak menengok ke belakang mencari-cari penumpang lain saat tangan seseorang menepuk pelan bahu kananku. Kemudian senyum itu, kau. Kau masih tersenyum dan sepertinya menikmati raut mukaku yang kebingungan. Kau bangun dari…
17 Feb 2013
by Berto Tukan - 
Published in Cerpen
Ketika hembusan angin membuat sebagian serangga yang berdiam di pohon-pohon tua enggan bercengkarama dan bahkan burung-burung dara pun tak mau pergi dari sarangnya, Henry kecil berlari meninggalkan rumahnya. Pedas yang membakar masih terasa di mulutnya. Membakar. Sangat membakar! Henry kecil terus berlari-bergegas. Seakan dengan berlari ia bisa memadamkan api di mulutnya. Seakan dengan berlari, keterbakaran mulutnya bisa tergantikan aroma sejuk pegunungan hijau seperti rasa paper mint. Seakan-akan dengan berlari, api yang membara di mulut, meranggas ke rongga hidung, asapnya memasuki perut, terus membakar mata, dahi, dan rambutnya bisa dipadamkan seketika. Henry kecil berlari di antara nafas-nafas memburu yang menyeruak dari…
10 Feb 2013
by Dea Anugrah - 
Published in Cerpen
“Aku, kau dan sedikit Chopin. Bisakah?” “Tidak,” jawabnya singkat dan patah. “Tapi aku hanya ingin kau, aku dan sedikit Chopin. Apakah kau, cintaku, tak suka Chopin, barang sedikit saja? “Yang tak bisa lagi adalah kau dan aku. Bukan Chopin. Lagipula, siapa dia itu?” Aku mulai terhanyut dalam arus pikiranku sendiri, dan seolah-olah berbicara dengannya yang tetap mendengarkan: “Oh, kau tak mengenalnya? Maka memang, yang tak bisa adalah aku menaruh cinta. Mana mungkin, di dunia sekarang ini, mencintai perempuan yang tak tahu Chopin? Mana yang lebih disuka: Ballade, Etude atau Nocturne? Jangankan berbicara sejauh itu. Bahkan, nama orang besar itu saja…
26 Jan 2013
by Donny Anggoro - 
Published in Cerpen
Bertahun-tahun tak bersua Pengarang Manhad mendengar kawan lamanya telah menjadi staf pengajar sebuah kampus seni ternama di kotanya. Sebagai seniman Pengarang Manhad bangga. Diteleponnya sang kawan itu untuk membuat janji lalu bersua untuk sekedar berbagi cerita. “Kau datang saja ke kampus jam satu, temui aku di bangku taman nanti kita ke kantin ngobrol-ngobrol sambil makan siang,” katanya. “Baiklah,” ucap Pengarang Manhad. Segera diambilnya kunci sepeda motor yang tergantung di dinding. Tak lama kemudian dengan sepeda motor bututnya dia sampai di kampus tempat kerja sang kawan itu. Sepuluh menit menunggu di bangku taman, sang kawan kemudian muncul. Tak banyak perubahan kecuali…
23 Dec 2012
Published in Cerpen
Hai, namaku Budi Jaya Makmur Abadi. Tapi aku biasa memaksa orang untuk memanggilku Jay. Aku tak terlalu suka namaku. Terlalu ramai, dan ya, seperti toko bangunan. Tapi mereka bilang nama adalah doa dan harapan orangtua untuk anaknya. Ibuku adalah satu-satunya orang yang memanggilku Budi. Aku sebenarnya tidak suka dipanggil Budi. Karena aku tampan. Dan bagiku, orang tampan lebih cocok dipanggil Jay. Lagipula, semua Jay yang aku tahu adalah orang sukses. Semua Jay yang kumaksud adalah Jay Subiakto, Jay-Z, dan Jay Chou. Baiklah hanya tiga itu. Aku memang berlebihan. Intinya aku ingin dipanggil Jay, bukan Budi. Tapi bagaimanapun dia ibuku dan…
25 Nov 2012
Published in Cerpen
  Tentu saja kau tak ingin menjadi Kurawa seperti dalam kisah Mahabharata karya Mpu Vyasa yang pernah kau baca ketika masih remaja. Kau ingin menjadi Gatot Kaca, ksatria Pandawa yang selalu kau kagumi. Namun kini kau tak lagi percaya pada cita-cita. Sayap-sayapmu patah, hatimu remuk. Kau mulai mengutuk, meragukan cerita-cerita dalam Mahabharata, kau menyesal karena pernah bermimpi untuk menjelajahi India, hanya karena seorang perempuan? Ah! Kau baru saja tiba di negeri rembulan. Ya, negeri rembulan yang selama ini hanya ada dalam angan-anganmu, menggenapi mimpi-mimpi remajamu. Akhirnya kau bisa menginjakkan kedua kakimu di Rajasthan, di mana kau bisa melihat purnama dari…
17 Nov 2012
by Ervin Kumbang - 
Published in Cerpen
Ainun tak terlalu ingat di mana ia berada terakhir kali. Barangkali seperti mimpi, yang terbayang adalah rok merah yang belum ia ganti sepulang sekolah. Ia duduk di beranda musholla di pojok kampungnya, tempat tersisih di utara Jakarta. Sambil memandangi jalan tol, ia juga ingat ibu dan ayahnya yang hidup terlalu datar. Kau mungkin tak percaya, ayah dan ibunya sama sekali tak kenal abjad. Bahkan, setahunya, ayah dan ibunya paling jauh melancong ke Semper, atau Cakung. Ayahnya hanya menggarap kebon bayam milik juragan tetangganya. Sedang ibunya berdagang nasi uduk di kala pagi. Ia merasa sendiri di tengah keluarganya. Andai saja tak…
11 Nov 2012
Published in Cerpen
Sekarang Hari Selasa, pukul tujuh pagi. Tuan Melur duduk di balik meja kerjanya yang berhadapan langsung dengan jendela. Seperti yang sudah-sudah, hari ini jadwalnya membaca buku. Dia tak ingin diganggu siapa pun kecuali aku—untuk mengantar kopi. Tapi, di dalam dia tidak sendiri, ada Leo, seekor anjing St. Bernard berumur dua tahun yang menemaninya. Anjing malas yang sedang tidur di bawah kursi. Di luar sana, langit cerah tanpa cacat. Meski matahari sudah tinggi, namun dedaunan masih basah oleh embun. Sejauh matanya memandang, Tuan Melur hanya mendapati lanskap kultur tamannya yang teduh. Suasana yang membuatnya betah berlama-lama berada di kamar besar itu.…
Page 1 of 2