Sun05192013

Last update06:05:35 AM

Tentang Kami | Donasi Anda | Volunteering | Registrasi Forum Member

Back Home Idea Kanal Idea Cerpen Aku, Kau dan Sedikit Chopin
10 Feb 2013

Aku, Kau dan Sedikit Chopin

Written by Dea Anugrah  |  Read 890 times
Rate this item
(1 Vote)

“Aku, kau dan sedikit Chopin. Bisakah?”

“Tidak,” jawabnya singkat dan patah.

“Tapi aku hanya ingin kau, aku dan sedikit Chopin. Apakah kau, cintaku, tak suka Chopin, barang sedikit saja?

“Yang tak bisa lagi adalah kau dan aku. Bukan Chopin. Lagipula, siapa dia itu?”

Aku mulai terhanyut dalam arus pikiranku sendiri, dan seolah-olah berbicara dengannya yang tetap mendengarkan: “Oh, kau tak mengenalnya? Maka memang, yang tak bisa adalah aku menaruh cinta. Mana mungkin, di dunia sekarang ini, mencintai perempuan yang tak tahu Chopin? Mana yang lebih disuka: Ballade, Etude atau Nocturne? Jangankan berbicara sejauh itu. Bahkan, nama orang besar itu saja kau tak tahu. Barangkali, kau kira pula itu nama kekasih baruku. Bah.

Sebab kau tak tahu Chopin, lupakan saja permohonanku beberapa detik yang lalu. Sekarang aku sudah berbalik dan berjalan dengan langkah-langkah besar. Ya, tataplah punggungku yang tegap dan lebar. Bayangkan huruf-huruf putih seukuran tuts piano membentuk kata demi kata ejekan kepadamu.

Berkubanglah dalam-dalam pada kebodohanmu. Sejak awal, harusnya aku tahu. Kau tak ada gengsi, tak punya class, tak dimahkotai prestise. Cuma perempuan cantik, apa artinya? Kalau buah dadamu telah turun dan dinding-dinding kuil rahasiamu sudah lapuk, mau apa lagi? Apa artinya tanpa keluasan pengetahuan? Kau tak mengerti kan? Ya, pantas aku meninggalkanmu. Sangat pantas, hai perempuan yang tak kenal Chopin.”

Panjang lebar juga aku menghinakannya secara imajiner. Dan sedikit banyak, karena itu, aku jadi terbantu dalam menguasai diriku kembali. Gejolak batin tadi sebenarnya cuma terjadi selama beberapa detik saja. Tapi penting artinya bagiku. Wajahku yang sempat memerah karena darah yang berkumpul kini sudah kembali normal. Aku sudah bisa menjinakkan hati dan menenangkan diri: bahwa aku bukan baru saja dipecundangi oleh seorang perempuan, melainkan justru menolak perempuan tersebut karena kekurangluasan pengetahuannya. Bisa dikatakan, aku menang. Ya. Menang dari perempuan dalam perkara cinta bukanlah soal gampang. Semua lelaki tahu itu.

Atas nama kebanggaan pada diriku dan pada kelelakianku, aku kembali dihanyutkan gelombang ilusi: perempuan itu menyusulku yang telah berjalan meninggalkannya. Ia merenggut lenganku, namun kutampik. Tak sudi aku bersentuh-sentuhan dengan perempuan bodoh, kataku. Karena putus asanya, dipeluknya badanku dari belakang sekuat-kuatnya. Menjerit dia minta ampun, menawarkan cintanya, dan minta kuberitahu, siapa gerangan Chopin itu. Yang karena ketidaktahuannya tadi, telah begitu saja membuatku meninggalkan gelanggang negosiasi dan membalik kedudukan-tawar 180 derajat.

Tapi aku terlanjur patah arang. Kurenggangkan rengkuhannya padaku. Dan tanpa mengatakan apapun, kecuali: “Kau tak bisa denganku. Kau tak mengerti Chopin. Selamat tinggal,” aku melenggang keluar rumahnya bagai seorang jawara berkuncir  Spanyol yang sukses menumbangkan seekor banteng raksasa.

Sebagaimana biasa orang bermimpi tanpa tidur, batas antara ilusi dan kenyataan demikian tipisnya. Sampai-sampai, kadang, seseorang lupa apakah ia sedang menghayal ataukan berada dalam dunia sebenar-benarnya. Sebentar-sebentar ia ada di pelukan ilusi, kemudian balik memijak bumi, lalu berilusi lagi. Begitu yang terjadi padaku. Kuberitahu, aku bahkan tak beranjak seincipun dari tempat perbincangan kami tadi. Dialah yang tak lagi di depanku. Dia sudah hilang.

Aku menoleh ke segala arah. Mencarinya. Bagaimana mungkin ia pergi tanpa bertanya dengan penuh keterpesonaan padaku soal Chopin? Kudapati ia sedang leha-leha di sofa. Betapa! Aku harus menariknya kembali dalam percakapan. Aku mesti memaksanya mengakui keunggulanku: aku tahu Chopin, ia tidak.

“Apa?”

“Mari bicara lagi,” sambarku.

“Sudah cukup”

“Apa? Kau merasa sudah cukup tanpa mendengar tentang Chopin?”

“Bukan. Bicara denganmu yang sudah cukup. Kita sudah tamat.”

Ini keterlaluan, perempuan itu sungguh keterlaluan. Ia tak menghargai Chopin. Benar-benar barbar. Tapi aku tak cepat menyerah. Kutarik lengannya. Kembali ia menatapku. Dan bibir merah itupun mendesis: “Apa? Apa lagi?”

“Chopin!” seruku.

Ia diam. Eyah! saudara-saudara. Ini kesempatanku untuk mendapat skor.

“Kau tak tahu Chopin kan? Makanya dengarkan aku.”

Hatiku melayang. Mendominasi percakapan dengannya bukan perkara banal. Jarang terjadi. Sewaktu ia masih jadi kekasihku, hampir tak pernah ia mendengar perkataanku, selalu ia yang berbicara. Selalu ia yang bergantung pada keagungan bulan, sementara aku termangu-mangu bagai si tolol. Sekarang kesempatanku untuk membalas kekejiannya. Aku akan memamerkan pengetahuanku. Tentang Chopin, saudara-saudara. Ya, Chopin yang itu. Kurasakan cahaya keemasan berenang-renang di depan mataku.

Baiklah. Aku baru akan membuka mulut ketika dari dalam terdengar suara yang memanggil perempuan itu. Suara ibunya. Buru-buru ia pergi menemui sang ibu. Ditinggalkannya aku sendiri dengan suara tercekat di panggal tenggorokan. Cahaya keemasan yang tadi berenang tak nampak lagi. Cuma lanskap ruang tamu yang biasa saja: segantung potret klise, dua sofa panjang bermuka-muka, meja kopi dan rak kecil di sudut ruangan. Udara bergulung. Sama sekali tak ada Chopin, barang sedikit saja.

“Keluarga apa ini?” batinku. Ibu dan anak sama kacaunya. Tak ada yang menghargai Chopin. Ya, Chopin yang itu, saudara-saudara. Kalau dada manusia sama dengan tangki dan kekesalan ibarat air, sudah lecap ruangan ini karena air yang tumpah dari rongga dadaku. Bagaimana bisa aku tak diberi harga sama sekali macam begini? Dan tak hanya aku, Chopin juga mereka remehkan.

Meski demikian, aku putuskan untuk menunggu. Barangkali, ia dipanggil ibunya hanya untuk keperluan yang singkat dan segera kembali. Kemenanganku sesungguhnya tak lesap, hanya tertunda saja munculnya. Kelak, sekali ia menyembul, tentu akan gilang gemilang. Eyah. Gilang gemilang!

Aku menunggu dan menunggu dan menunggu. Udara masih bergulung dan ruang tamu masih biasa-biasa saja. Lalu dari dalam terdengar bunyi tapak kaki. Aku merapikan kembali pakaianku. Demi Chopin. Ya, dengan ini aku akan membela martabat Chopin.

“Kau tahu, Chopin itu...” tak hendak kehilangan momentum, kata-kata yang tadi terbendung kutumpaskan sederas-derasnya ketika sesosok bayang tertangkap oleh mataku.

Ternyata yang muncul bukan perempuan itu. Melainkan seorang pria paruh baya berkumis jarang. Ayahnya.

Demi mendengar ujaranku yang salah sasaran, ia tersenyum pahit. Aku tahu, ia kemari hendak menyuruhku pulang. Malam sudah terlalu kental untuk bercengkrama dengan anak gadisnya.

Ya. Aku tahu, aku telah kalah. Dengan wajah tertunduk segera kutinggalkan rumah itu, berikut kumparan udara serta ruang tamunya yang biasa-biasa saja.

“Bukan, memang bukan perkara Chopin. Hanya aku dan kau...” desisku setelah pintu rumah itu ditutup.

Dea Anugrah

Dea Anugrah

Lahir di Pangkalpinang, Bangka Belitung, 27 Juni 1991. Tulisan-tulisannya berupa puisi, cerpen dan esei telah dipublikasikan di sejumlah bunga rampai dan media massa. Kuliah di Fakultas Filsafat UGM. Bergiat di Komunitas Rawarawa dan Forum Diskusi Buku Daftar Pustaka.

Comments

  • No comments found

Social Comment


Powered by Disqus