Ketika hembusan angin membuat sebagian serangga yang berdiam di pohon-pohon tua enggan bercengkarama dan bahkan burung-burung dara pun tak mau pergi dari sarangnya, Henry kecil berlari meninggalkan rumahnya. Pedas yang membakar masih terasa di mulutnya. Membakar. Sangat membakar! Henry kecil terus berlari-bergegas. Seakan dengan berlari ia bisa memadamkan api di mulutnya. Seakan dengan berlari, keterbakaran mulutnya bisa tergantikan aroma sejuk pegunungan hijau seperti rasa paper mint. Seakan-akan dengan berlari, api yang membara di mulut, meranggas ke rongga hidung, asapnya memasuki perut, terus membakar mata, dahi, dan rambutnya bisa dipadamkan seketika.
Henry kecil berlari di antara nafas-nafas memburu yang menyeruak dari kamar ayah-ibunya. Henry kecil terus berlari, menjauhi rumahnya. Tak sendirian ia berlari. Ada Susan di sampingnya. Ia memandang Susan yang terengah-engah mengikutinya dari belakang.
“Ayo cepat…. Kita harus mencapai tempat itu sebelum Nenek Bulan memergoki kita. Ayo Susan. Ayo cepat. Kau mau dijadikan pembantu di istana Si Nenek Bulan?”
Henry kecil terus berlari, diajaknya juga Susan berlari cepat. Henry menerjang rerimbunan semak, diinjaknya dua ekor kucing yang tengah main kuda-kudaan.
“Miauuuuuuuw!!!!”
“Awas Susan. Mereka jelmaan penjaga istana Si Nenek Bulan. Injaklah mereka sekali lagi.”
“Ah, kau tak menginjaknya Susan? Baru ingat aku, kau sangat menyayangi kucing. Hati-hati Susan, kita pasti bisa selamat, asalkan kau berlari lebih cepat lagi.”
Begitulah. Henry kecil terus berlari ke tengah hutan, diajaknya serta Susan yang terengah-engah mengikutinya dari belakang. Panas itu menjalar perlahan ke arah Susan. Dilihatnya mata Susan dipenuhi asap putih abu-abu bergumpal-gumpal. Hidung Susan mengeluarkan busuk belerang basi.
Henry semakin mempercepat larinya. Rasa iba menjadi-jadi pada dirinya. Ah, karena dia, Susan pun terbakar sekarang. Oh, Susan yang malang, gadis penyayang binatang yang tak paham rasa air hangat mau pun air dingin, kini terpaksa merasakan sengatan api di mulutnya. Terus berlari. Tak terasa ia kaki yang lebam-lebam.
Nah itu dia. Gubuk kecilnya bersama Susan telah nampak. Ia semakin mempercepat larinya. Di ketinggian itu, gubuk kecil memanggil-manggilnya. “Cepat ke sini, cepat ke sini, cepat ke sini Henry. Kami menunggumu, kami menunggumu.” Henry kecil, semakin cepat ia berlari.
“Ah, apa yang kulakukan,” batinnya.
Seekor burung pipit terjaga dari mimpinya, meloncat tak sengaja dari sangkarnya, lantas mengepakkan sayap kecilnya. Ia terbang ke arah Henry dan singgah sejenak di pundaknya. Sangat sejenak, karena pundak itu tak seperti dahan tenang pohon ek di tengah hutan.
***
Dan apa yang ia rencanakan atas diriku, batinku pula. Yah, Henry kecil masih saja menceritakan kisahnya padaku. Tentu saat menceritakan kisah ini, ia telah menjelma Henry dewasa.
Akulah kawan baru Henry. Henry Langkeru tepatnya. Ia baru mengenalku sebulan yang lalu. Kami sering berbincang-bincang di sela-sela waktu istirahat siang. Aku sudah lama bekerja di tempat kerja Henry yang baru. Tak heran, Henry belum punya banyak teman. Setahu Henry, akulah satu-satunya teman berbincang-bincangnya.
Pada suatu malam, ketika baru saja sampai ke rumah kontrakan sepulang kerja, tiba-tiba Henry meneleponku. Ia ingin bertandang.
Maka, sampailah Henry yang mengantongi sebungkus Dji Sam Soe.
“Susan tak bisa kutemui sampai sekarang, Sobat.
“Pernah suatu ketika, dua tahun yang lalu, aku melihatnya di seberang jalan, baru keluar dari toko roti sambil menggenggam segunpal roti yang rupanya sungguh lezat. Ia masih sangat persis dengan
Susan yang menemaniku ketika Nenek Bulan menunjukkan peta hutan itu pada kami.
“Itulah yang kusuka dari Susan. Ia tak pernah berubah. Pernah suatu ketika, Susan membuatku kesal. Saking kesalnya, kutuangkan seluruh isi termos yang baru diisi ibu dengan air mendidih ke atas kepalanya. Sumpah! Ekspresi Susan sangatlah tidak berubah. Rambutnya pun tidak menjadi basah, apalagi rontok, apalagi lagi terkelupas akibat melepuh karena panasnya air itu.
”Aku memanggilnya dari seberang jalan, Kawan. Memanggilnya berkali-kali, sekeras-keras mungkin, menantang bising kendaraan yang lalu lalang dari kiri ke kanan dan dari kanan ke kiri. Aku yakin, teriakanku berhasil mengalahkan mesin-mesin itu. Tapi Susan tak mendengar. Ia berjalan terus dan hilang dalam sebuah gang sempit. Untung kewarasanku masih terjaga waktu itu. Kalau tidak, aku yakin, aku sudah tertabrak salah satu kendaraan yang melaju dengan angkuh tanpa pernah mau menyadari bahwa masih banyak orang adalah pejalan kaki seperti diriku.”
***
Angin berhembus, angin bertiup, seribu merpati terbang ke angkasa.
Gubuk itu telah memanggil-manggilnya sedari tadi, ditambah malam mulai mengepung langit. Henry menoleh ke belakang. Dilihatnya Susan terengah-engah. Seluruh rambutnya terbakar. Panas sungguh menyengat, walau pun rambut Susan masih hitam sebahu seperti sedia kala.
“Cepat, Susan. Cepat, Susan. Jangan sampai Si Nenek Bulan membakarmu lebih kejam.” Setelah meneriakan Susan demikian, Henry berlari semakin kencang. Beberapa langkah lagi, ia akan sampai di depan pintu gubuk tua di tengah hutan itu.
Selangkah lagi ia akan sampai, ia akan mendobrak pintu itu—karena Henry tahu, pintu gubuk itu tak pernah terkunci untuk anak-anak yang membutuhkannya—lantas berlari masuk le dalamnya.
Pintu itu tiba-tiba menguak sendiri. Nenek Bulan keluar perlahan-lahan dari dalam, cahaya tubuhnya putih perak menyembul dan menembusi dedaunan.
Henry kecil gemetaran, Susan menggigil sejadi-jadinya.
“Jangan takut. Ke manakah kalian mau pergi hai anak-anak manis?”
“Ke suatu tempat.”
“Di mana?”
“Ke suatu tempat.”
“Silahkan tunjukkan, di manakah tempat itu.”
Nenek Bulan merentangkan tangannya dan muncullah sebuah peta di hamparan langit. Kota Coklat, Desa Kebahagiaan dan Kegembiraan, Kota Kematian, Lautan Susu, Laut Strobery, Gunung Loly Pop, Sungai Maut, Danau Emas, Negara Teramretam, Benua Gakegale, dan masih banyak tempat lagi ada di sana.
“Yang mana? Ayo tunjukkan.”
“Bukan di sini.”
Sekali lagi Nenek Bulan merentangkan tangannya. Sekali lagi muncul sebuah peta. Ini peta yang serupa dengan yang terpampang di dinding kelas sekolah Henry.
“Bukan di sini.”
Sekali lagi Nenek Bulan merentangkan tangannya dan muncul pula sebuah peta yang lainnya lagi.
“Nek, tidakkah kau punya peta yang lebih lengkap lagi? Kami ingin pergi ke sebuah tempat yang lain sama sekali. Bukan begitu Susan?” Henry kecil bertanya kesal, lantas menoleh ke kanan, ia hendak meminta pendapat pada Susan. Tapi Henry tahu, Susan tak pernah akan menjawab apa pun.
Nenek Bulan menggeleng dengan tersenyum penuh pengertian. Ia tahu, ya ia tahu.
***
“Begitulah, Kawan. Sesungguhnya aku pun tak tahu, aku hendak ke mana. Tetapi, tempat-tempat di setiap peta yang pernah kujumpai tak pernah meyakinkanku dengan pasti bahwa ke sanalah aku akan pergi.”
Henry menarik dalam-dalam Dji Sam Soe terakhirnya dan menekankan ujung membaranya ke asbak yang kusediakan.
“Aku harus pergi. Susan menantiku. Mungkin ada berita tentang peta yang sempurna itu.”
Aku hendak bertanya padanya, hendak mengungkapkan keherananku. Henry memandangku penuh pengertian dan tersenyum disertai kerlipan mata bermakna, “sudahlah. Kau tak paham apa-apa”.



Comments