Film (63)
by
Syarif Maulana -
Published in
Film
Ada suatu kebingungan ketika menyaksikan sejumlah film karya Jean-Luc Godard seperti Une Femme est Une Femme (1961), Le Petit Soldat (1963), Bande à part (1964) ataupun Alphaville: Une étrange Aventure de Lemmy Caution (1965). Film-film garapan sutradara yang identik dengan gerakan French New Wave tersebut terasa sangat sulit dipahami –terutama jika terlalu akrab dengan gaya film Hollywood yang kebanyakan berorientasi pada selera publik. Godard seperti bermain dengan idealismenya sendiri. Ia seolah tidak rela penonton paham filmnya begitu saja. Bagaimana kita bisa menuding hal semacam itu pada sutradara sekelas Godard? Pertama, film-filmnya tampak tidak mempunyai alur cerita yang jelas –Godard bahkan…
Read 1139 times
by
Ibnu Nadzir -
Published in
Film
Adalah naif untuk berharap film adaptasi akan setia terhadap cerita aslinya dalam buku. Usaha sebesar apapun pasti tidak dapat menghapus kesenjangan antara dua medium naratif tersebut. Oleh karena itu, saya sama sekali tidak mengharapkan penghambaan mutlak film Rectoverso atas kumpulan cerpen karya Dewi Lestari (Dee). Paling tidak film ini dapat menggugah kontemplasi seperti bukunya. Nyatanya ekspektasi saya gugur sama sekali. Saya agak kecewa karena tidak dapat bergabung dengan orang yang keluar bioskop sambil sesenggukan. Saya tidak tahu apakah saya bisa disebut sebagai penggemar berat karya-karya Dewi Lestari. Meskipun punya semua bukunya, rasanya saya kurang fanatik untuk mengaku sebagai penggemar. Ketika…
Read 2550 times
by
Syarif Maulana -
Published in
Film
Stanley Kubrick adalah sutradara yang sepanjang tujuh puluh tahun hidupnya hanya membuat tiga belas film. Meski relatif sedikit, namun karya-karya filmnya mempunyai karakteristik yang khas. Misalnya, hampir seluruh filmnya adalah adaptasi novel. Adaptasi novel itu, kata sang sutradara, haruslah dari novel yang kurang terkenal –berbeda dengan filmisasi novel yang biasanya dilakukan setelah novel tersebut booming di pasaran. Pemilihan novel yang kurang laku, kata Kubrick, dengan alasan agar ia bisa memberikan sentuhan artistik yang lebih leluasa ketimbang pada novel yang sudah lebih dikenal. Barry Lyndon, Lolita, Clockwork Orange dan Eyes Wide Shut adalah contoh filmnya yang diadaptasi dari novel. Meski diadaptasi…
Read 1373 times
by
Ari Perdana -
Published in
Film
Cinta Tapi Beda (CTB) garapan sutradara Hanung Bramantyo menawarkan sudut pandang yang tergolong berbeda untuk konteks Indonesia: hubungan cinta pasangan yang berbeda agama. Meski ada beberapa kelemahan, film ini menggambarkan konflik dan dilema yang dihadapi pasangan beda agama secara baik. Film ini bisa jadi awal untuk membicarakan bagaimana seharusnya kebijakan negara soal pernikahan beda agama. CTB menawarkan alur yang menjanjikan, setidaknya hingga separuh pertama. Pertemuan tidak sengaja antara Cahyo (Reza Nangin) dan Diana (Agni Pratistha) berlanjut jadi hubungan asmara. Hubungan yang indah dan sederhana mulai beranjak rumit saat Cahyo mengajak Diana mengunjungi keluarganya di Jogja. Inilah momen saat keduanya mulai…
Read 1338 times
by
Ardyan M. Erlangga -
Published in
Film
“Mengandaikan keterpisahan sebagai sebuah masalah merupakan sikap khas manusia… namun karena itu pula, ruang jadi bermakna” – Georg Simmel Sejak awal, penonton dipaksa maha tahu di film karya sutradara Iran Asghar Farhadi, “A Separation”. Film dimulai dengan kamera statis dari sudut pandang mesin fotokopi. Kita menyimak beberapa kartu identitas Iran barangkali serupa KTP dan buku nikah dipindai. Selanjutnya, dua tokoh utama film ini, Simin (Leila Hatami) dan Nader (Peyman Moadi) duduk di depan hakim pengadilan agama, bagian perceraian. Kamera menyorot mereka berdua, sementara si hakim hadir hanya melalui suara (yang berarti menyamakan posisi penonton sebagai hakim). Keduanya gigih memaparkan alasan…
Read 1550 times
by
Donny Anggoro -
Published in
Film
Mungkin bagi para pengamat seni dan budaya khususnya film, salah satu film box office saat ini, The Expendables 2 bukanlah pilihan yang menarik untuk menjadi bahan kajian. Tapi buat saya sebagai salah satu penikmat film laga sejak kecil, film ini nyatanya masih punya daya pikat yang menarik. Saya sekali lagi segan untuk menuliskan ceritanya, karena ini sama saja memanjakan pembaca karena saya ingin bercerita kesan pribadi untuk film ini. Daya pikat yang dipancarkan oleh aktor laga legendaris Sylvester Stallone (a.k.a Sly dan Black Stallion ketika masih mengawali karirnya di industri film porno) ini adalah mengumpulkan bintang-bintang laga lawas 1980-an sampai yang…
Read 1903 times
by
Nova Riyanti Yusuf -
Published in
Film
Lagu "Montezuma" dari album Helplessness Blues oleh Fleet Foxes, menjadi lagu penghantar saya untuk menuliskan kenangan saya menonton film Detachment dalam penerbangan Singapore Airlines rute Tokyo-Los Angeles. Saat itu saya beserta rombongan muhibah dengan ketua delegasi, Priyo Budi Santoso, sedang bertolak menuju acara Kongres Diaspora Indonesia. Film ini pilihan pertama saya sebelum menonton film kedua yang lebih ringan tetapi tidak seperti drama roman picisan pada umumnya karena memberikan kesan yang cukup menghangatkan, Friends with Kids. Salah satu pull factor dari film Detachment tentu adalah Adrien Brody yang berperan sebagai Henry Barthes. Brody didampingi oleh bintang-bintang lain seperti Christina Hendricks, James…
Read 2264 times
by
Ardyan M. Erlangga -
Published in
Film
Delapan tahun setelah kekacauan terbesar melanda sebuah kota, aturan hukum baru disahkan parlemen. Penjahat kelas teri sampai kakap, bisa ditahan ketika baru dicurigai. Bila terbukti bersalah di pengadilan, maka tidak akan ada remisi diberikan, meski si pesakitan berlaku baik selama dibui sekalipun. Penjahat dinista sepenuhnya. Polisi menjadi tiran pujaan rakyat. Dalam masa ‘damai’ itu, ketika hukum dianggap berhasil ditegakkan, sedikit saja yang sadar ada dua bom waktu siap meledak di kota itu. Bom pertama bermakna harfiah. Reaktor nuklir perusahaan multinasional disabotase sekelompok teroris, sehingga nyawa jutaan warga dipertaruhkan. Bom waktu kedua lebih filosofis. Kota makmur ini, ternyata menyimpan konflik tajam…
Read 7169 times
by
Ismail Reza -
Published in
Film
Walaupun besar di generasi TVRI saat siaran masih hitam-putih, dan mengalami saat-saat acara TV berakhir setelah jam 21:00 malam, saya baru jatuh cinta dengan atmosfer dari film hitam putih sekitar tahun 1995. Ketika itu, saya menyaksikan film Jerman karya sutradara Wim Wenders. Filmnya berjudul "In Weiter Ferne, so Nah!" atau dalam bahasa Inggrisnya "Far Away So Close!". Film ini dibuat tahun 1993, merupakan sequel dari "Der Himmel über Berlin" atau "Wings of Desire". Bercerita tentang malaikat yang penasaran mengenai manusia; bagaimana sih dunia ini di mata para manusia itu? Ide dari film ini yang menarik adalah perbedaan pandang malaikat dan…
Read 1973 times
Tagged under
by
Donny Anggoro -
Published in
Film
“Bung tau musik?” tanya Ana Mathovani dengan wajah terpesona tatkala Bing Slamet berhasil menjelaskan kenapa penyanyi cilik yang lagunya sedang berkumandang di tape dalam bus yang membawa mereka ke tempat kerja masing-masing walau sekilas terdengar “aman-aman saja” tapi sebenarnya masih menyimpan sedikit kekurangan yang hanya terlihat oleh pengamat musik. “O, jelas, tiap hari saya berhadapan dengan musik. Itu sudah pekerjaan saya,” jawab Bing sambil tersenyum. Ana pegawai kantoran yang diam-diam berhasrat jadi penyanyi makin tertarik kepada teman satu bus yang duduk di sampingnya itu sehingga dia bertanya lagi, ”Bung kerja di mana?” “Ah, itu…” tunjuk Bing. Kamera kemudian menyorot papan…
Read 2129 times

