Sat05182013

Last update06:05:35 AM

Tentang Kami | Donasi Anda | Volunteering | Registrasi Forum Member

Back Home Idea Kanal Idea Film Memberi Makna pada 2001: A Space Odyssey (1968)
07 Mar 2013

Memberi Makna pada 2001: A Space Odyssey (1968)

Written by Syarif Maulana  |  Read 1344 times
Rate this item
(6 votes)

Stanley Kubrick adalah sutradara yang sepanjang tujuh puluh tahun hidupnya hanya membuat tiga belas film. Meski relatif sedikit, namun karya-karya filmnya mempunyai karakteristik yang khas. Misalnya, hampir seluruh filmnya adalah adaptasi novel. Adaptasi novel itu, kata sang sutradara, haruslah dari novel yang kurang terkenal –berbeda dengan filmisasi novel yang biasanya dilakukan setelah novel tersebut booming di pasaran.

Pemilihan novel yang kurang laku, kata Kubrick, dengan alasan agar ia bisa memberikan sentuhan artistik yang lebih leluasa ketimbang pada novel yang sudah lebih dikenal. Barry Lyndon, Lolita, Clockwork Orange dan Eyes Wide Shut adalah contoh filmnya yang diadaptasi dari novel. Meski diadaptasi dari novel, jangan berharap Kubrick sedang memperjuangkan keakurasian. Ia memang kerap berusaha tampil beda dan tidak lupa memberikan gaya estetikanya sendiri.

Gaya estetika khas Kubrick misalnya berkaitan dengan detail. Ia sangat dekoratif dalam mendandani filmnya. Mata kita bisa dengan mudah termanjakan oleh interior yang terdapat di film Barry Lyndon, Clockwork Orange atau 2001: A Space Odyssey (selanjutnya disingkat dengan 2001 saja) karena riset sang sutradara yang terkenal sangat cermat –ia menjadikan pemilihan aspek dekorasi ini sepenting pemilihan aktor dan penulisan skenario. Dalam Barry Lyndon, kita bisa menemukan keahlian Kubrick dalam detail pencahayaan. Film itu dibuat tanpa satupun cahaya artifisial –bahkan adegan makan malam pun hanya bermodalkan cahaya yang dipancarkan dari lilin.

Kubrick juga adalah seorang master dalam pengambilan gambar. Salah satu ciri khasnya adalah penggunaan steadicam yang membuat adegan tokoh yang sedang berjalan menjadi tampak lebih dramatis –adegan dalam The Shining ketika si anak bermain sepeda menyusuri gang-gang di dalam hotel begitu mencekam karena teknik steadicam!. Sisanya, kita tahu Kubrick secara visual sangat gemar menampilkan kekerasan dan seksualitas. Menimbulkan suatu “kebingungan estetis” apakah yang menjijikkan dan membuat gelisah itu adalah bagian dari keindahan?

Latar Belakang 2001

Dalam 2001, Kubrick tampak bernafsu menumpahkan segala idealismenya yang terenggut ketika ia menggarap Spartacus di tahun 1960. Setelah menyelesaikan Lolita tahun 1962 yang diprotes karena terlalu jauh dari cerita dalam novelnya –sebetulnya protes semacam ini lumrah terjadi pada Kubrick– dan setelah itu ia menggarap suatu black comedy mengenai Perang Dingin dalam film Dr. Strangelove (1964), Kubrick tampak terkena demam space race yang memang sedang mendera dunia. Selain soal space race, Amerika juga sepertinya tengah sering meniupkan wacana tentang “kehidupan di luar sana”, alien dan makhluk ekstraterestrial –kita bisa menuduhnya semacam arogansi, seolah-olah Amerika adalah wakil planet bumi untuk kontak dengan mereka yang di luar.

Bekerjasama dengan seorang penulis spesialis fiksi sains bernama Arthur C. Clarke, Kubrick menyiapkan 2001 ini selama empat tahun. Ia mengajak Clarke untuk bersama-sama membuat apa yang Kubrick sebut sebagai, “Film fiksi sains yang bagus.” Meski pada akhirnya kita bisa menemukan novel berjudul 2001: A Space Odyssey karya Clarke, namun perlu diingat bahwa 2001 bukanlah adaptasi novel tersebut. Yang sebenarnya terjadi adalah 2001 rilis terlebih dahulu, setelah itu novelnya terbit. 2001 sendiri inspirasinya adalah cerpen karya Clarke yang berjudul The Sentinel. Artinya, film ini adalah anomali dari karya-karya Kubrick biasanya. Alih-alih mengadaptasi novel, Kubrick dalam 2001 dengan bebas mengekspresikan keinginannya baik dalam soal skenario maupun visual.

Alur Cerita yang Absurd

2001 bukanlah film yang mudah untuk dipahami. Jika bukan karena visualisasinya yang mengagumkan, mungkin kita akan sulit menemukan letak kebagusan film ini. Barometer pertamanya datang dari pengamatan Kubrick sendiri. Ia mencatat ada ratusan orang walk-out di pemutaran perdana 2001. Walk-out ini rupanya disebabkan oleh bosan, tidak paham, dan kecewa karena ketika film fiksi sains dianggap mesti menyodorkan suatu adegan futuristik seru tentang tembak-tembakan di luar angkasa, film ini malah sarat dengan adegan yang menimbulkan pertanyaan, “Ini apa maksudnya?”

Pertama, barangkali dalam diri kita terkandung ekspektasi bahwa adegan pembuka sebuah film fiksi sains seyogianya dimulai dari ruang angkasa yang gelap dan misterius. 2001 tidak. Ia memulainya dari latar di Afrika tiga juta tahun lalu dan memperlihatkan sejumlah manusia pra-evolusi (kita akan mudah menyebutnya dengan manusia-kera) berkumpul. Mereka dalam bahaya karena kehabisan makanan dan sering mendapat ancaman dari macan tutul. Karena sifatnya yang herbivora, maka ketika alam semakin tandus dan tanaman tidak sanggup lagi menghasilkan makanan bagi para man-ape, mereka diancam kepunahan.

Sekonyong-konyong di tengah suasana muram dan keputusasaan, tegak berdiri sebuah monolit berwarna hitam menyambut fajar yang merekah. Manusia-kera mengelilingi benda asing tersebut dengan takjub dan histeris. Rupanya benda tersebut memberikan kesadaran baru, agar salah satu dari mereka (di novel disebutkan dengan nama Moon-Watcher) dapat memanfaatkan tulang dari bangkai binatang untuk mencari makan. Dengan tulang tersebut, manusia-kera menjadi bertahan hidup karena sanggup membunuh binatang lain (perubahan dari herbivora menjadi karnivora). Gerombolan Moon-Watcher juga sanggup mengusir kelompok manusia-kera lainnya yang berada di sebuah sumber air –semuanya akibat penggunaan tulang itu tadi. Sebagai tanda kemenangan, Moon-Watcher melemparkan tulang ke udara. Mendadak adegan dilemparkan ke jutaan tahun ke depan, ke tahun 2001 ketika pesawat ulang alik mulai memenuhi ruang angkasa.

Di bagian kedua ini, Kubrick tampak berakrobat dengan menunjukkan sejumlah teknik visual yang magnum-opus. Dengan iringan musik Johann Strauss yang berjudul On A Beautiful Blue Danube, Kubrick memperlihatkan visualisasi stasiun ruang angkasa, adegan pelayan yang memutar di dalam kapal, hingga pendaratan di bulan yang mulus. Terjadi sedikit dialog dalam bagian ini (dari total film 141 menit, hanya ada dialog sekitar dua puluh menit) yaitu ketika sejumlah ilmuwan Uni Soviet mempertanyakan pada Dr. Heywood Floyd tentang keanehan di stasiun ruang angkasa Clavius yang letaknya di bulan.

Di stasiun ruang angkasa tersebut, Floyd memang tengah menyembunyikan sesuatu. Ada penemuan monolit misterius –semisterius yang terjadi sekonyong-konyong di tengah-tengah gerombolan manusia kera– yang diduga bisa memecahkan misteri tentang kehidupan di “luar sana”. Ketika Floyd dan kawan-kawan astronot lainnya melakukan pengecekan pada monolit tersebut, mereka menutup kupingnya karena mendadak monolit mengeluarkan bunyi mendengik yang menakutkan.

Bagian ketiga dimulai dengan tajuk Jupiter Mission 18 Months Later. Tokoh-tokoh yang muncul di bagian ini tidak ada hubungannya dengan bagian kedua. Ini adalah tentang misi ke Planet Jupiter yang menggunakan pesawat Discovery One berawak lima orang dan dikendalikan superkomputer bernama HAL 9000. Dari awak berjumlah lima tersebut, hanya dua orang yang “sadar” yakni Dave Bowman dan Frank Poole. Sisa tiga orang lagi mereka dihibernasikan –semacam tidur tapi fungsi organ diturunkan serendah-rendahnya untuk menghemat tenaga. HAL 9000 adalah komputer jenius yang mampu berbicara dengan sentuhan emosional khas manusia. Ia juga sanggup mengalkulasi, memprediksi, dan berpikir secara tepat.

Persoalan datang ketika HAL 9000 mengatakan bahwa ada yang tidak beres dengan antena pesawat. Saat Poole dan Bowman melakukan pengecekan, ternyata kalkulasi HAL 9000 tidak terbukti. Meski antena baik-baik saja, namun HAL 9000 bersikeras bahwa, “Aku tidak mungkin melakukan kesalahan.” HAL 9000 kemudian mendadak kehilangan kontrol. Ia membiarkan Poole terlepas melayang-layang ke ruang hampa udara yang otomatis juga membunuhnya. Akibat perbuatan HAL 9000 ini, Bowman yang marah kemudian mematikan fungsi si superkomputer dengan menggunakan obeng.

Bagian terakhir ini sering membuat penonton berkerut kening. Setelah melalui suatu perjalanan dengan kecepatan cahaya (adegan ini sangat memukau dan biasa disebut sebagai stargate sequence), Bowman mendadak di ruangan berlatarbelakang era Renaisans. Di ruangan tersebut, ia saling bercermin dengan dirinya sendiri yang menua hingga akhirnya berujung di ranjang kematian dirinya sendiri. Bowman tua yang tergolek lemah di ranjang kemudian menunjuk benda asing di hadapannya yang tak lain adalah monolit yang sama muncul di bagian pertama dan kedua. Sesaat kemudian, Bowman tua berubah menjadi janin atau bakal bayi. Si janin melayang-layang di ruang angkasa dan menatap planet bumi. Film berakhir di situ.

Bagaimana Memaknainya?

Film 2001 membingungkan justru karena adegan pembuka dan penutup yang misterius. Ia juga melelahkan untuk dimaknai ulang karena sejumlah adegan digambarkan dengan tempo yang amat lambat –menciptakan suatu perasaan geregetan, “Kenapa tidak di-cut saja?. Dengan asumsi bahwa film ini digarap secara serius karena membutuhkan persiapan empat tahun dan merupakan salah satu karya yang diakui Kubrick sendiri sebagai yang paling memuaskannya, apakah mungkin ia menciptakan hanya sekadar untuk membuat penonton merasa kecewa?

Kubrick sendiri tidak memberikan suatu penjelasan tentang makna filmnya. Ia memberikan kebebasan sepenuhnya bagi para penonton untuk melakukan interpretasi. Kubrick hanya berpesan bahwa film ini adalah non-verbal experience. Jadi jangan terpenjara dengan dialog-dialog di dalamnya yang memang dilakukan dengan sangat sedikit.

Kita akan mencoba membongkar film ini secara perlahan-lahan mulai dari tulang yang digunakan oleh manusia-kera di bagian pertama. Apa makna tulang? Kita bisa asumsikan itu adalah simbol dari alat. Manusia menjadikan tulang sebagai alat pertama di dunia. Namun adegan di bagian pertama film 2001 itu meruntuhkan suatu anggapan tentang, “Alat itu tergantung manusia menggunakannya.” Kenyataannya, alat justru mengubah kesadaran manusia. Dengan penemuan tulang, ada kesadaran tribal yang muncul tentang membunuh, menyingkirkan yang lain, dan nafsu untuk melakukan agresi. Dengan perpindahan dari herbivora ke karnivora, manusia menjadi aktif berburu. Tidak lagi pasif menanti apa yang bumi berikan kepadanya.

Ketika Moon-Watcher melemparkan tulang ke angkasa dan terjadi montage ke situasi di ruang angkasa jutaan tahun kemudian, ada pesan yang menarik diselipkan oleh sang sutradara. Pesan tersebut kira-kira seperti ini: Tidak ada perubahan serius dalam rentang jutaan tahun peradaban manusia, mereka masih saja tergantung pada alat. Hingga akhirnya manusia sampai pada alat tercanggih yang pernah dibuatnya: HAL 9000.

Apa yang terjadi dengan keberadaan HAL 9000? Perhatikan sebuah momen yang  disebut oleh Neil Postman sebagai faustian bargain. HAL 9000 menjadi alat yang sanggup bertindak secara emosional sebagaimana halnya manusia. Sebaliknya, Bowman dan Poole berbicara dengan dingin, seolah-olah perasaan kemanusiaannya hilang –Meski Poole mati karena ulah HAL 9000, Bowman sama sekali tidak menunjukkan ekspresi berlebihan. Ia bersikap cukup cool untuk seseorang yang ditinggal mati rekannya. Kubrick hendak menggambarkan bagaimana manusia memberikan jiwanya pada alat yang ia ciptakan sendiri.

Kita bisa berbicara lebih dalam tentang makna 2001 jika dengan seksama mau menelaah musiknya. Salah satu musik yang dipilih sang sutradara adalah Also Sprach Zarathustra karya Richard Strauss. Kita tahu bahwa judul dari karya tersebut adalah serupa dengan buku karya filsuf Friedrich Nietzsche. Apakah ada hal yang bisa dipetik dari hubungan ini? Mungkin saja jika kita mau menilik sejenak apa yang tertulis dalam Zarathustra-nya Nietzsche, terutama terkait dengan keberadaan janin di akhir film 2001.

“Aku namai engkau tiga metamorfosis roh: bagaimana roh akan menjadi seekor unta, dan si unta menjadi seekor singa, dan si singa akhirnya menjadi sesosok anak.” tulis Nietzsche dalam Zarathustra.

Ekspresi tiga metamorfosis roh ini dapat terlihat mula-mulanya dari bagaimana manusia-kera terancam kepunahan. Mereka, sebagaimana halnya unta, menanggung apa yang nasib bebankan kepadanya tentang kenyataan bahwa tanaman tidak lagi subur dan tak sanggup menghidupi mereka. Gerombolan manusia-kera juga harus rela hidupnya berada dalam kontrol seekor macan tutul. Momen ketika roh manusia adalah bagai seekor unta ini di-transvaluasi-kan menjadi singa ketika manusia mulai menemukan alat. Dengan alat, manusia menjadi berkehendak. Ia bertransformasi menjadi apa yang Nietzsche sebut sebagai dari “engkau harus” menjadi “aku hendak”.

Namun ke-singa-an roh manusia ini ada pada puncak kejenuhannya. Ketika alat itu semakin canggih, manusia sesungguhnya kembali menanggung beban sebagaimana layaknya unta. Mereka menjadi budak bagi alat yang diciptakannya sendiri! Keberadaan HAL 9000 menjadi cukup dilematis karena menempatkan Bowman dan Poole pada situasi ketertundukkan. Manusia tidak lagi menjadi tuan seperti singa yang berkehendak. Kubrick menyadari bahwa manusia perlu jalan keluar untuk persoalan ini. Maka itu di akhir cerita, sebagaimana solusi yang diberikan Nietzsche, manusia perlu kembali menjadi sesosok anak –digambarkan dalam film 2001 sebagai janin– seperti sabdanya dalam Zarathustra:

“Tapi katakan padaku, Saudara-saudaraku, apa yang dapat dilakukan si anak yang bahkan si singa tak dapat? Mengapa harus si singa pemangsa masih menjadi sesosok anak? Si anak itu lugu dan pelupa, satu awal baru, suatu olahraga, sebuah roda yang berputar sendiri, satu gerak pertama, satu Ya suci. Ya, satu Ya suci diperlukan, Saudara-saudaraku, bagi olahraga penciptaan: si roh kini menghendaki kehendaknya sendiri, si roh yang memisahkan kini memenangi dunia-nya sendiri.”

Kita bisa mudah saja menuduh bahwa analisis semacam ini adalah mistifikasi atau dikarang-karang saja. Namun tentu Kubrick mempertimbangkan dengan sungguh-sungguh kenapa musik Also Sprach Zarathustra hanya muncul di tiga bagian ini:

  • Di saat Moon Watcher menemukan tulang
  • Ketika Bowman tua mendapati dirinya tergolek lemah di kasur, dan dilanjutkan ke
  • Bagian puncak ketika janin memandangi dunia.

Bagian pertama adalah momen peralihan kesadaran dari herbivora ke karnivora, atau dalam bahasa Nietzschean kita bisa sebut dari “unta” ke “singa”. Bagian kedua adalah momen ketika singa berada di saat-saat kejatuhannya. Bagian ketiga adalah transformasi terakhir ketika singa menjadi sesosok anak.

Epilog

Tentu masih banyak yang bisa kita bahas dari film 2001. Pembahasan ini belum termasuk makna dari monolit yang tetap misterius hingga akhir film. Kita bisa menyebutnya sebagai suatu penanda yang dipancangkan oleh makhluk ekstraterestrial sebagai peringatan bagi warga bumi akan adanya eksistensi mereka. Analis di internet bernama Rob Ager, mengatakan bahwa monolit adalah simbol dari layar sinema. Bentuknya yang hitam dan persegi panjang menunjukkan bahwa sesungguhnya tanpa sadar kita tengah memandangi monolit di sepanjang film.

Tafsiran yang beragam dan terus berkembang menunjukkan memang film ini punya kedalaman. Masih banyak orang yang tidak mau terburu-buru untuk walk-out dan menyerah dalam rangka mencari makna tersirat. Kita tidak pernah tahu apa makna sesungguhnya dari 2001 ini karena Kubrick sendiri lebih memilih untuk bungkam.

Namun tanpa harus bersusah payah mencari makna yang otentik, mari kita bedah 2001 menjadi makna yang konstruktif untuk dunia kita hari ini. 2001 secara implisit menyerukan betapa alat dapat menjadi amat berbahaya bagi manusia. Ia berbahaya karena secara halus merubah kesadaran dan bahkan menciptakan suatu keadaan Faustian bargain. Secara konkrit dapat kita temukan betapa fitur dalam chatting di dunia maya bisa sangat emosional dan manusiawi dikarenakan keberadaan sejumlah ekspresi emoticon.

Namun apa yang terjadi dengan emosi si pengguna? Kita bisa merasakan suatu ekspresi yang dingin, suatu wajah yang kaku dari seseorang ketika ia berhadapan dengan teknologi (seperti Bowman dan Poole) yang –ironisnya– justru semakin ekspresif (seperti HAL 9000). Jika manusia tidak segera mencari jalan keluar untuk hal ini, maka siap-siap mereka merasa diri sudah menjadi singa yang berkehendak, namun sebetulnya tidak lebih dari seekor unta penanggung beban.

Syarif Maulana

Syarif Maulana

Syarif Maulana adalah musisi, guru gitar, dosen, penggiat komunitas filsafat, dan penggiat komunitas musik klasik. Dalam waktu dekat, ia akan merilis buku pertamanya tentang filsafat film yang berjudul Manusia dan Teknologi dalam 2001: A Space Odyssey.

URL: www.syarifmaulana.blogspot.com

Arsip Naskah Syarif Maulana

Comments

  • No comments found

Social Comment


Powered by Disqus