Mon05202013

Last update06:05:35 AM

Tentang Kami | Donasi Anda | Volunteering | Registrasi Forum Member

Back Home Idea Kanal Idea Interview The Osaka Journals adalah Refleksi Kami sebagai Musisi
08 Feb 2013

The Osaka Journals adalah Refleksi Kami sebagai Musisi

Written by Redaksi JB  |  Read 1177 times
Rate this item
(0 votes)

Dirilisnya sebuah album musik perlu perayaan. Dirilisnya sebuah album musik dalam bentuk piringan hitam perlu sebuah perayaan yang sedikit lebih ramai. Mungkin ini sebuah manifestasi vinyl fetishism, namun rilis musik dalam bentuk piringan lebih perlu dirayakan semata-mata karena prosesnya yang lama dan mendebarkan, penuh penantian disertai rasa khawatir —misalnya soal bea-masuk, apakah test-pressing memiliki skips and pops, dan apakah biaya pengiriman melalui USPS akan menjadi semakin mahal.

Mungkin anda masih ingat, ketika Ketika La La La hendak dirilis kami mewawancarai pemilik Kaimana Records Ricky Surya Virgana. Atau ketika terpetik khabar bahwa EP pertama Homicide Godzkilla Necronometry hendak dirilis, kami mewancarai Herry “Ucok Homicide” Sutresna untuk wesbite ini. Hal yang sama kami lakukan dengan Jason Connoy ketika musik AKA hendak dibundel dalam sebuah rilisan ulang awal tahun lalu.

Mengingat konflik kepentingan yang mungkin muncul, kami tidak mungkin mewawancari pihak Elevation Records dalam rangka rilis ulang 300 kopi vinyl The Osaka Journals. Selain juga karena memang lebih tepat untuk mewawancarai Marcel Thee sebagai aktor utama di balik proyek ini.

Awal bulan ini Marcel sudah menerima test-pressing The Osaka Journals dan berikut ini kira-kira bagaimana Marcel menyusun ulang apa yang sudah terjadi delapan tahun lalu (Kami mengirim pertanyaan dalam bahasa Inggris dan Marcel lupa membaca pesan kami untuk membalasnya dalam bahasa Indonesia, jadi mohon maaf jika ada struktur kalimat yang agak janggal dari hasil penerjemahan).

Anda sudah memegang test-pressing dari The Osaka Journals, sejujurnya apa yang anda rasakan saat ini?

Saya senang sekali. It's exciting as hell. Ini rilis vinyl pertama kami. Terutama jika kita ingat konteks bahwa sekarang semua hanya berpusat kepada mp3. Saya tahu bahwa masih banyak orang yang tergila-gila dengan vinyl atau rilisan fisik; dan ini tentu membuat proyek ini semakin menyenangkan.

Hal yang juga tidak kalah penting. Di The Osaka Journals, aksen mana yang anda pakai? Apakah ada masalah dalam bernyanyi dalam Bahasa Inggris, karena jika kami perhatikan ada beberapa kata yang agak tidak jelas aksennya?

Saya tidak tahu aksen mana yang dipakai. Mungkin itu versi Bahasa Inggris menurut saya, namun yang pasti saya tidak melakukanya secara sadar. Saya juga tidak ingat, apakah ada beberapa kata atau kalimat yang terasa janggal. Mungkin karena saya sering terdengar seperti bergumam; saya sendiri tidak terlalu suka jika apa yang ada di lirik menjadi terlalu jelas.

Apakah perubahan yang anda rasakan antara waktu membuat The Osaka Journals dan sekarang?

Dalam bermain dengan band, saya pikir masih sama. Saya masih sangat peduli, jika bukan semakin peduli dengan musik yang kami buat. Mungkin sekarang hanya semakin tidak suka dengan membuat lagu yang lebih berwarna dan mencoba menjadi tidak monotone. Secara pribadi, kini saya semakin merasa bebas untuk menulis dan merilis musik dengan tidak memakai nama Sajama Cut, yang mungkin lebih banyak berhubungan dengan kenyataan bahwa saya memandang hidup lebih bebas dan lebih penuh kejutan. Dan tentu saja, saya kini tidak lagi menulis lirik lagu secara literer seperti di The Osaka Journals.

Ketika merilis The Osaka Journals, apakah anda berfikir ini akan menjadi sebuah album yang laku? Dan yang tidak bisa kami mengerti, mengapa Universal (untuk menjadi distributor)?

Tidak. Kami tidak pernah dan tidak akan berfikir tentang musik dalam kerangka semacam itu. Akan sangat bodoh dan bahkan irasional untuk berharap bahwa lagu yang kami tulis bisa mendapat penghargaan yang luas di negeri ini. Harapan-harapan kami sangat realistis dan kami sadar siapa yang akan mendengarkan musik kami. Kami memilih Universal karena: 1. Kami punya teman dekat di sana dan 2. Ada makanan kecil yang lebih enak di kantor mereka—sejujurnya kami hanya ingin album kami terdistribusi dengan baik meskipun pada akhirnya itu juga tidak tercapai.

Apa yang membuat anda bangga dengan The Osaka Journals?

Semuanya. Semua yang kami lakukan, bahkan sampai hal-hal yang bisa membuat kami malu, dan ini semua merupakan refleksi utuh dari siapa kami sesungguhnya sebagai seorang musisi. Sadar tentang bagaimana selera musik kebanyakan orang di negeri ini dan secara sengaja melawannya dengan sangat terbuka adalah bukti nyata bahwa kami masih percaya kepada integritas bermusik.

Tentang hasil akhir album The Osaka Journals yang sedikit raw, anda pernah bilang ini karena keterbatasan sumber daya di studio. Apakah anda berfikir bahwa jika saja anda punya sumber daya lebih hasilnya akan bisa berbeda?

Tidak juga. Kami sesungguhnya merekam album ini di sebuah studio yang besar. Apa yang terdengar live-y di album ini lebih merupakan gabungan dari kenyataan bahwa kami masih baru dan dari keinginan untuk membuat semua terdengar baur. Vokal di album ini secara sadar direkam agar tidak terdengar seperti album pop—di mana vokal selalu berada di atas semua instrumen yang lain. Kami tahu bahwa aransemen lagu-lagu kami berwarna pop, jadi kami ingin memberinya penyeimbang dengan apa yang bisa dibilang kurang “tepat”. Saya berfikir bahwa jika kami merekam album ini dengan sumber daya yang ada sekarang, The Osaka Journals mungkin akan terdengar lebih megah dan penuh dengan string, yang mungkin akan terdengar lebih baik atau lebih buruk tergantung dari cara pandang anda. Tidak banyak yang saya sesali, namun saya mungkin ingin lebih bisa menambahkan lebih banyak suara organ, karena lagu-lagu di album ini sangat membutuhkannya.

Track pertama di side B (di test pressing) adalah satu-satunya komposisi dengan solo gitar? Mengapa hanya di sini saja? Kami sudah dengar versi vinyl-nya dan ingat bahwa di awal ketika kami dengar pertama kali, track ini terdengar mentah, namun di test pressing justru ini track yang paling bad-ass! Ada cerita khusus?

Track ini sudah lama sebenarnya, lagu tua dari formasi awal Sajama Cut. Saya mungkin sedang mencoba meniru warna melankolik dari film-film kartun dan robot Jepang dari tahun 1980-an dan 1990-an dengan solo gitar itu. Di saat-saat terakhir saya merubah liriknya, yang saya tidak tahu apakah cocok atau tidak dengan hasil akhirnya. Track ini termasuk yang paling susah dimainkan secara live, meskipun terdengar sangat mudah. Dengan “Lagu Tema,” saya pikir ini adalah lagu yang tidak pernah kami mainkan secara live.

“Lagu Tema,” apakah ini terjemahan dari Theme Song? Kami tidak pernah tahu tema lagu ini meski ini satu-satunya track yang berbahasa Indonesia. Menurut kami ini adalah lagu abadi, apakah ada rencana khusus dengan track ini?

Sesungguhnya saya pilih judul tersebut karena terdengar lucu. Pada dasarnya ini adalah tentang proses melupakan—semacam perpisahan dengan apapun/seseorang/barang. Akhir-akhir ini saya sangat-sangat suka dengan lagu ini dan berencana untuk memasukkannya ke dalam setlist kami. Kami berharap akan bisa membuat video baru  dan merilis lagu ini sebagai single untuk proyek reissue vinyl The Osaka Journals.

Di sisi lain ada beberapa track yang sangat smooth dan memiliki ornamen keyboard. Sesungguhnya sound seperti apa yang diinginkan untuk album ini?

Kami ingin album ini terdengar seperti gabungan antara Murmur dan Document milik REM, Rex's C, atau juga Clouds Taste Metallic  dari The Flaming Lips. Sesungguhnya itu tujuan kami, namun kami tidak bisa banyak berpetualang karena sewa studio saat itu sangat mahal dan kami tidak punya banyak uang, selain juga kami tidak bisa merekam atau melakukan overdubbing di rumah.

Alibi, juga adalah track favorit kami, apakah memiliki cerita khusus?

Lagu ini saya tulis di tahun 2004 dan merupakan langkah maju dalam kemampuan menulis lagu saya. Liriknya sangat literer karena semuanya adalah fiksi, namun semua emosi yang ada di situ tidak berbohong. Ketika orang berfikir bahwa liriknya adalah kisah nyata, saya sedikit tergangggu, karena anda pasti tahu, karena semua itu bertolak belakang dengan prinsip kami bahwa pendengar tidak perlu mencoba “mengidentifikasi” lagu kami dengan tema-tema usang. Dan yeah, lagu ini adalah satu dari beberapa track favorit saya untuk dimainkan secara live dan kami selalu mengakhiri pertunjukan dengan lagu ini.



Redaksi JB

Redaksi JB

Jakartabeat.net adalah media online yang memuat ulasan musik, buku, film dan esai politik serta humaniora di Indonesia. Ditulis oleh sejumlah kontributor, Jakartabeat.net hendak menjadi media alternatif yang menangkap apa yang tidak bisa ditangkap media mainstream dengan harapan bisa menyumbang 'the wisdom of the crowd' pada dunia wacana dan tulis menulis di Indonesia.

URL: jakartabeat.net/redaksi

Comments

  • No comments found

Social Comment


Powered by Disqus