Mini album terbaru Harlan Bin Jajan Rock menyerupai sebuah demokrasi, album musik oleh pemadat musik (piringan hitam), tentang pemadat musik dan untuk pemadat musik.
Single pertama “Jajan Rock” berhasil merangkum kegelisahan eksistensial siapa saja yang pernah, sedang dan akan kecanduan menimbun musik dalam bentuk piringan hitam. Lagu kedua “David Tarigan” adalah sebuah tribute untuk figur yang di Jakarta tidak hanya dikenal sebagai penimbun vinyl, namun juga tokoh yang berperan besar pada tumbuhnya scene independen awal dekade 2000-an yang memiliki banyak jejak di musik indie masa kini.
Track ketiga “Klaten” tidak hanya sangat mengejutkan karena semangat sidestream yang menggema namun juga sebuah pembelaan kepada apapun yang bersemangat underdog. Karya terakhir “Permisi” susah didefinisikan, seperti melihat dan menyaksikan Bing Slamet dan Benyamin S. beradu puisi absurd di sebuah saung di taman kota.
Untuk semua tema itu, EP Jajan Rock memiliki benang merah yang lebih kuat di banding Sakit Generik dan ini membuatnya menjadi lebih istimewa. Dari pertanyaan mengapa gambar sampul album adalah sang penyanyi sedang membaca majalah dan bukan memegang piringan hitam, perbincangan melebar ke soal Gangnam Style, musik-musik yang medioker serta rencana merilis piringan hitam.
Bin sekali lagi menarik diwawancara karena EP terbaru itu begitu penuh dengan teks yang kaya nuansa dan komentar sosial.
Kenapa sampulnya bukan anda lagi memegang vinyl?
Itu buku serial "Mimin", kesukaan saya sewaktu kecil. Sekitar 1986, masa yang kurang lebih sama ketika saya mulai menggemari sepakbola (Piala Dunia di Meksiko, sekarang saya tak terlalu suka sepakbola) dan kecanduan musik rock. Saya tidak ingin cover Jajan Rock terlalu "literal" dengan menampilkan vinyl, biarlah itu nanti ada di video klip, selain visual membaca buku itu saya suka (dipengaruhi oleh kesukaan saya terhadap foto Sid Vicious membaca majalah Mad).
Dan pada dasarnya buku dan vinyl memiliki kesamaan bahwa format fisik memiliki keajaiban yang tak bisa digantikan oleh format digital: sentuhan. Seburuk apa pun sound system di rumah, piringan hitam (bahkan juga CD dan kaset) tetap lebih menarik dari format digital. Karena sentuhan, memandang, menyimpannya, memindah-tempatkannya, merawatnya, maka semuanya menjadi lebih meresap.
Sejak kapan kegelisahan Jajan Rock muncul? Karena mengumpulkan vinyl belum lama juga khan?
Iya, belum lama. Kegelisahan Jajan Rock terjadi sejak saya merasakan memutar vinyl di kantor G Production. Menyalakan player, mengambil vinyl Iggy Pop, meletakkan piringan hitam di platter, meletakkan jarum, lalu mendengarkan suaranya sambil memegang cover-nya.
Waktu itu saya sudah punya vinyl, tapi belum pernah memutarnya hanya menyimpannya, karena belum punya vinyl player, belum punya turntable. Piringan hitam pertama saya adalah The Ramones "Ramones". Sekarang, sejak ada turntable di rumah, semakin tercerahkan. Ini adalah masa terbaik saya sebagai pendengar musik
Kenapa bisa begitu?
Ada Internet, dengar kaset dan CD di mobil, dengar piringan hitam di rumah. Menurut saya, kita sekarang ada di gerbang industri musik yang terbaik dari yang pernah ada. Mencari musik di internet, sangat luas! Membeli piringan hitam mendapat kode download digital-nya. Turntable player ada yg memiliki fitur bisa dicolok flash disk dan meng-copy lagu-lagu di piringan hitam
Jadi tidak benar kalau Internet kills music?
Internet membunuh musik-musik medioker. Tidak ada yg salah dengan Internet kills music. Hanya kalimatnya kurang lengkap. Ya itu, membunuh musik-musik yang biasa saja. Musik-musik yang luar biasa, justru mendapat dukungan, tapi ini masih permulaan banget, masih jauh dari sempurna.
Atau malah yang jelek banget juga bisa jadi fenomena semacam 'Gangnam Style'?
Kalau Gangnam Style menurut saya justru menunjukkan kehebatan relasi video musik dan internet. Tentang Gangnam Style, gue lebih meilhat itu sebagai betapa hebatnya video musik, bukan hanya sebagai alat promosi, tapi justru sebagai varian produk musik video musik juga produk musik, yang melibatkan/berkolaborasi dengan video dan dengan internet, video musik memiliki sarana promosi yang memadai setelah televisi belum bisa diharapkan lagi fungsinya dengan baik.
Ada cerita khusus soal “David Tarigan”?
Ya lagu itu memang tentang David. Saya beruntung mengenal David mengenal karya-karyanya. mengenal orangnya dan mengenal karya-karyanya. Kontribusi David ke gue hmmm…yang pasti The Jonis, SORE, kompilasi JKT:SKRG, majalah Ripple era David dan msh banyak lagi yang David bikin... itu sangat mempengaruhi gue. Karya-karya yang abadi. Susah banget gue ngejelasinnya. Tapi gue ngerasa sangat beruntung ada David Tarigan di Indonesia. lirik-lirik "David Tarigan" mungkin cukup menggambarkan sulitnya gue menjelaskan pertanyaan lo, bung. Sulit dijelaskan.
Soalnya ini monumental bung. Seingat kami jarang ada orang bikin lagu tribute ke seseorang di Indonesia. Paling AKA di “Crazy Joe.” Tapi tetap saja judulnya bukan Jauhari Bustaman!
Sebetulnya ada lah kayak Titiek Puspa bikin "Bing"
Iya tapi tidak secara terang-terangan. Kalau 'sawah tadah hujan' itu mengacu ke apa ya?
Terus terang, gue tidak bisa membuat judulnya bukan "David Tarigan" setelah liriknya jadi, gue merasa cuma "David Tarigan" judul lagu yang paling pas buat lagu itu. Seperti pilihan lirik "sawah tadah hujan" terlalu panjang dan sulit bagi gue untuk membuat lirik pengganti "sawah tadah hujan" pokoknya rasanya begitulah. hahahaha. Susah bung
David sudah dengar?
Sudah dia pernah nonton saya manggung membawakan lagu itu, dan saya juga mengirim copy CD "Jajan Rock" ke rumahnya
Komentar dia?
Kita ketawa saja tidak pernah ngobrolin lagu itu. Kalau diobrolin kita bisa sama-sama kikuk bung hahahaha
Kalau "Klaten"? Saya curiga dipilih karena kota non-mainstream. Karena orang biasanya menulis soal Surabaya, Jakarta, Bandung, dan pasti bukan Klaten.
Iya, lebih karena tema dan lirik lagunya saya suka! Penyampaiannya pun ada yang unik dan khas glam rock 1980-an, ketika kata "rel" diulang-ulang, sebelum dilanjutkan dengan kata "kereta". Menjadi unik ketika yg diulang-ulang adalah kata "rel". Ide meng-cover "Klaten" sangat spontan.
Begitu ide itu muncul, saya langsung bikin versi intepretasi saya di balkon kantor saat break kerja. pertamakali dikasih denger CD Gribs oleh Indra Ameng, saya langsung suka "Klaten". Waktu saya izin meng-cover Klaten, almarhum Remmy Soetansyah nanya, "Kenapa lo milih Klaten. Karena Klaten ya?" (Remmy ikut menulis lirik lagu itu). Saya bilang, "Tema dan liriknya".
Atau karena mereka tidak takut di bilang enggak "cool" karena main hair metal?
Bukan cuma karena kota Klaten, tapi lirik-liriknya juga suka! Kalau lagunya Klaten tapi liriknya tidak seperti itu, saya mungkin juga tidak tertarik meng-cover kayak "angin berhembus panas"... itu lirik sedap banget! Hahahaha. Lirik pembukanya saja sudah deskripsi yang gimana gitu: "Aku tersesat di Klaten"
Sehabis Jajan Rock apakah ada materi baru yang mau di rilis. Dan apakah ada full-length album?
Ya, akan ada satu EP lagi, kemudian full album dalam format vinyl beberapa lagu di ketiga EP akan ditambah dengan lagu baru akan menjadi full album, rencanya begitu.. Lagu yang masuk persis seperti lagu-lagu yang sekarang ada di EP-EP itu. Beberapa akan masuk full album bersama lagu baru.
Rencana vinyl sudah fixed. Dari awal memang "desain"-nya begitu. Tiga EP format CD lalu full album format vinyl. EP ketiga rencananya paling lambat Mei 2013. Hanya beberapa bulan kemudian, rilis full album. Tentu dengan cover baru.



Comments