|
Monday, 30 August 2010 22:24 |
|
Oleh Samack, publisher Solidrock, Malang
“Who is Ian Brown?!” bisik seorang turis asing sambil menatap selembar banner konser yang terpampang di depannya. “ummm, I don’t know yet…” sahut temannya, seorang perempuan bule yang juga ikut mengamati banner tersebut dengan raut wajah penasaran.
Begitulah cuplikan adegan yang sering terjadi di depan pelataran Hard Rock Café, Kuta Bali, 7 Agustus lalu. Berkali-kali para wisatawan berhenti sejenak untuk mengamati banner dengan kening berkerut dan penuh tanda tanya tentang siapa lelaki kulit putih bernama Ian Brown yang berani ‘mengganggu’ akhir pekan mereka.
|
|
Last Updated on Tuesday, 31 August 2010 10:57 |
|
|
Sunday, 29 August 2010 16:23 |
|
Oleh Yus Ariyanto, redaktur Liputan6.com
Temanku, Teroris?: Saat Dua Santri Ngruki Menempuh Jalan Berbeda
Penulis: Noor Huda Ismail
Penerbit: Hikmah, Juli 2010,
xxviii + 386 halaman
Pada 1990, Utomo Pamungkas alias Fadlullah Hasan berangkat ke Pakistan. Niat awalnya adalah mendalami ilmu agama Islam. Setelah tiba di Peshawar, hasrat menimba ilmu agama tak lagi mekar.
Situasi memanas di Afghanistan, tetangga Pakistan. Di sana, sejak 1979, tentara Uni Soviet masuk. Tapi, mereka menghadapi perlawanan sengit dari kaum Mujahiddin. Itu semua menjadi bahan obrolan di mana-mana, termasuk di kedai kopi.
|
|
Friday, 27 August 2010 02:24 |
|
Oleh Nuran Wibisono, mahasiswa Sastra Inggris Universitas Jember Jawa Timur
Sambil menunggu matahari tenggelam di bulan Ramadan, mendengarkan musik adalah kegiatan yang menyenangkan. Untuk itu, genre yang pas untuk menghabiskan sore sembari melihat langit yang mulai memerah adalah musik pop yang renyah. Mendengarkan musik pop renyah sembari menanti adzan rasanya sungguh menyenangkan, sepertinya lebih menyenangkan ketimbang memukuli dagu Aburizal Bakrie berkali-kali.
Ketika beberapa waktu lalu saya menulis tentang perkembangan scene musik di Surabaya, saya berkenalan dengan banyak band potensial. Selain Silampukau yang tak pernah berhenti memukau saya dengan lagu folk mereka, saya juga bertemu dengan Greats, sebuah band pop yang beranggotakan Kharis Junandharu (vokal, gitar akustik, klarinet), Andrianto Rinaldy (Gitar), Antonius N. P. (Bass), Gede Riski Pramana (Drum / Perkusi)
|
|
Last Updated on Friday, 27 August 2010 03:01 |
|
|
Saturday, 28 August 2010 06:25 |
|
Oleh Idhar Resmadi, mahasiswa Jurnalistik Universitas Padjadjaran
Album Ode Buat Kota mengingatkan kembali kenangan saya akan hiruk pikuk kota Jakarta. Hampir setahun lalu - setelah nyaman selama 24 tahun tinggal di Bandung- saya merelakan diri untuk menjadi salah satu penduduk nomad di ibukota. Saya merasakan macetnya Sudirman di pagi hari, antrian busway yang panjang, duduk di kantor redaksi dalam sebuah gedung pencakar langit, berebut metromini, menghirup uap polusi, mengomeli cuaca yang panas, terjebak banjir, atau bertemu sesama perantau di stasiun Gambir kala akhir pekan. Selama tiga bulan lebih saya menjadi penduduk tak ber-KTP Jakarta.
|
|
Last Updated on Sunday, 29 August 2010 05:27 |
|
Thursday, 26 August 2010 01:44 |
|
Oleh Ayos Purwoaji, mahasiswa ITS Surabaya
Saya mengenal Dira dari televisi. Dalam sebuah tayangan ulang Java Jazz, tampak wanita ini bernyanyi satu panggung dengan Incognito. Suaranya yang keren tampak imbang disandingkan dengan Maysa Leak, vokalis utama Incognito. Saat itu juga saya merasa Dira adalah the next big thing yang patut diantisipasi.
Pada Java Jazz 2009, saya juga gagal melihat langsung penampilan Dira yang didaulat untuk menemani Jason Mraz menyanyikan "Lucky". Memang, untuk melihat penampilan Mr. AZ ini perlu membayar tiket lebih dan hall utama berkapasitas sepuluh ribu orang itu begitu sesak dipenuhi remaja labil yang kompak mengenakan fedora hat. Saya pun memilih mundur dan mencari venue-venue alternatif sepi pemirsa yang membuat saya bisa menikmati jazz dengan utuh.
|
|
Last Updated on Thursday, 26 August 2010 09:55 |
|
|
|
|
<< Start < Prev 1 2 3 4 5 Next > End >>
|
|
Page 2 of 5 |