Home Musik Suarasama: Musik Melayu Mampir Ke Chicago
Suarasama: Musik Melayu Mampir Ke Chicago Print E-mail
(3 votes, average 3.67 out of 5)
User Rating: / 0
PoorBest 
Wednesday, 18 February 2009 17:24

Oleh M. Taufiqurrahman, wartawan The Jakarta Post

Bukan maksud saya untuk mengecilkan arti penting dari upaya teman-teman musisi di Indonesia yang secara fasih (dan kadang    dengan  Bahasa Inggris) memainkan musik rock—atau genre apapun—sebagaimana musik tersebut dimainkan oleh rekan-rekan mereka di tempat asalnya di Amerika Serikat dan Inggris. Namun kita harus sadar sepenuhnya bahwa industri rekaman di dua tempat ini pada dasarnya masih dikuasai oleh pandangan orientalis yang hanya mau menerima musik dari dunia ketiga hanya ketika musik tersebut memainkan nada-nada unik dari tempat eksotis dan mistis—nada-nada yang biasa dipakai oleh para profesor ethnomusikologi untuk mengajar di kelas-kelas seminar tentang musik etnis.

Pandangan dunia para pencari bakat (A&R) di perusahaan-perusahaan rekaman di negara berbahasa Inggris ini bisa saya ibaratkan sebagaimana dahulu para pelukis mooi indie melihat tanah jawa sebagai gunung dan sawah yang indah dengan pohon kelapa dan matahari yang tinggi. Tidak perlu mengutip Edward Said untuk menjelaskan versi orientalisme seperti ini. Orientalisme para pencari bakat di industri rekaman dunia barat ini bisa kita lihat dari fakta bahwa akhir-akhir ini (dan juga seperti puluhan tahun yang sudah berlalu) mereka hanya memberi tempat kepada kelompok-kelompok musik dari dunia ketiga yang masih kental memainkan musik tradisional dari tempat mereka berasal, yang bisa dikatakan sebagai musik yang belum terlalu terbaratkan.

 

Sudah beberapa kali kritikus musik David Fricke dari Rolling Stone menulis dengan penuh binar di matanya tentang kelompok musik dari Utara Afrika Tinariwen, band orang-orang Tuareg yang menggabungkan musik Afrika dengan sentuhan warna Arab. Di masa lalu pecinta musik rock pernah jatuh cinta dengan band Fela Kuti dari Nigeria, yang memainkan musik poliritmis Afrika yang kemudian banyak mempengaruhi musik rock barat Santana dan Paul Simon misalnya. Terus dari Asia kita diwakili oleh Nusrat Fateh Ali Khan, musisi Sufi yang hampir menjadi pengaruh bagi semua penyanyi rock yang sudah bosan dengan obat-obatan dan seks dan hendak mendekatkan diri kepada Tuhan.

Saya selalu berdoa agar kelompok-kelompok musik dari Indonesia, yang fasih memainkan musik-musik psychedelic, prog-rock, death metal, indie atau genre musik apapun yang bermuasal dari belahan barat dunia, bisa menjadi bintang di khasanah musik dunia. Namun saya kemudian berfikir realistis bahwa kalau band-band yang luar biasa bagus di sini saja harus berjuang keras untuk menjadi dikenal, perjuangan teman-teman dari Jakarta tentu menjadi luar biasa berat. Dan kalaupun kemudian ada kawan-kawan dari Indonesia yang bisa menembus industri musik di Amerika Serikat, bisa diperkirakan, mereka adalah yang memainkan musik yang bisa dikatakan eksotis tersebut.

Beberapa waktu yang lalu saya terkejut setengah mati menemukan sebuah ulasan musik di majalah online asal Chicago Pitchfork—yang terkenal sangat elitis dan dipenuhi kritikus musik nyinyir dan susah dibuat senang—yang menulis sebuah album berjudul "Fajar di Atas Awan" dari sebuah kelompok dengan nama berbahasa Indonesia Suarasama. Lebih kaget lagi ketika kemudian disebut bahwa album tersebut dirilis oleh indie label legendaris dari Chicago, Drag City, yang pernah menjadi rumah bagi kelompok kelompok uberhip semacam Pavement, Silver Jews dan Sonic Youth. Gila!!!. Inferioratis kompleks saya kemudian mengambil alih akal sehat saya, apalagi setelah tahu kalau sang kritikus Neil Strauss memberi rating 7.2 dari skala 10. Album terbaru Coldplay saja cuma dikasih nilai 6 oleh Strauss.

Tidak beberapa lama kemudian saya mendapatkan kopi CD album penting ini dari sebuah toko musik di Minneapolis—yang juga menunjukkan bahwa album ini sudah beredar luas di kalangan pecinta musik indie di negeri Paman Sam. Sehari semalam saya dengarkan dan saya tidak punya pilihan lain kecuali setuju dengan A&R Drag City yang sudah berani merilis album dari sebuah negara dunia ketiga yang asing dan hanya dikenal lewat Gamelan Jawa dan Indo Rock yang sayup-sayup. Saya juga tidak punya alasan untuk tidak sepakat dengan Strauss—terlepas dari pandangan dunianya yang orietalis tentang musik timur—bahwa Fajar Di Atas Awan adalah album yang luar biasa, meski untuk alasan yang sangat pribadi, cinta tanah air salah satunya. Album ini bersinar lebih karena bisa menangkap suasana dan mistisime budaya Melayu secara sempurna.

Suarasama adalah dua orang staf pengajar Universitas Sumatra Utara. Suami istri Irwansyah Harahap dan Ritaony Hutajulu yang mendapat gelar master untuk musikologi dari Universitas Washington di Seattle. Di tempat ini keduanya tidak mendengarkan grunge, namun memperdalam wawasan tentang world music, pengetahuan yang kemudian dipakai untuk membuat album Fajar di Atas Awan, yang menggabungkan musik tradisional Melayu, qawwali, gambus dan musik Eropa Timur. Musik di album ini sendiri sudah direkam hampir sepuluh tahun lalu secara live di sebuah pementasan di Yogyakarta. Rekaman dilakukan oleh Radio French Internationale (RFI) yang kemudian menjadi rekaman utama yang dibeli hak ciptanya oleh Drag City.

Di sini ada lagu yang luar biasa syahdu, Habibullah sebuah madah untuk Rasulullah S.A.W. karya yang bisa membangkitkan gairah ketuhanan bahkan bagi mereka yang sudah lama melupakan-Nya. Lantas ada Zapin Rindu, dengan gitar dan gendang yang rancak dan lirik bersahut-sahutan dan berima pantun. Lagu ini justru mengingatkan saya kepada lagu-lagu Blues dari Selatan karena kebebasan membawakan liriknya. Ada juga lagu yang luar biasa panjang, Merangkai Warna, yang dipenuhi dengan slide gitar yang sulit dan enerjik.

Saya tidak tahu pasti apa yang ada di pikiran anak anak muda hip di Chicago, Denver, Portland atau Minneapolis yang memilih membeli dan mendengarkan album ini. Namun saya bisa menduga bahwa mereka mendapatkan sebuah pengalaman seperti yang di tulis Neil Strauss di ulasannya untuk Pitchfork, “tidak diragukan lagi bahwa kelompok ini telah mencapai sesuatu yang lebih besar dari diri mereka sendiri, mencari cari sesuatu di luar batas batas dan ke semua arah, mencapai dimensi-dimensi kesejatian spiritual melalui melodi.”

*Versi lain tulisan ini pernah dimuat di harian berbahasa Inggris The Jakarta Post tanggal 4 Januari 2009.


M. Taufiqurrahman
About the author:
wartawan harian berbahasa Inggris The Jakarta Post, baru saja menyelesaikan pendidikan pasca sarjana di Departemen Politik, Northern Illinois University. Selain penulis politik, Taufiq adalah penulis rutin kolom musik di harian The Jakarta Post.
Read More >>


Comments (1)Add Comment
0
...
written by wartax, August 22, 2010
makasih ada review atas album hebat ini!

Write comment
smaller | bigger

security code
Write the displayed characters


busy
Last Updated on Wednesday, 20 January 2010 05:03
 
Banner
Banner
Make sure you have at least Flash Player 7. If not,please download.
Banner

Who's Online

We have 12 guests online

Follow Us On

Facebook Page: jakartabeat.net Twitter: jakartabeat