Oleh M. Taufiqurrahman, wartawan The Jakarta Post Banyak yang bilang dekade 1980-an adalah paceklik di blantika musik rock and roll (saya sendiri sudah lelah mengatakannya). Namun di awal dekade ini muncul ledakan kreativitas yang berlebih, mungkin merupakan sisa energi dari gerakan punk namun dengan estetika yang sudah lebih sempurna. Sebagai hasilnya kita bisa mewarisi karya karya besar yang bisa menebus semua sampah yang kemudian dihasilkan dari dekade ini. Semua karya post-punk ini saya tulis berdasarkan rilis piringan hitam (selain karena saya tidak memiliki lagi versi cakram padatnya. CD Gang of Four Entertainment! yang sangat mahal itu misalnya sudah tidak berbentuk lagi dirusak anak perempuan saya). Saya sendiri ingin memasukkan karya Ari Wibowo dan Betharia Sonata, tapi kaset dari zaman itu sudah hilang.
Entertainment!—Gang Of Four (Warner Bros, 1979). Sama seperti siluet wajah Che Guevara yang bisa kita lihat di mana-mana, album Entertainment! (dengan tanda seru malah) bisa dikatakan sebagai ikon budaya pop yang mewakili mereka yang ada di persimpangan kiri jalan. Menggabungkan lirik lirik kritik sosial beraroma neo-Marxist, post-modernisme dan Frankfurt School album ini cocok didengarkan oleh mereka yang pernah (atau masih) terpesona dengan gagasan-gagasan Kiri. Ada lagu tentang lembaga perkawinan sebagai produk masyarakat kapitalisme berjudul Damaged Goods. Kelompok ini dibentuk oleh anak anak muda borjuasi yang kuliah di sekolah seni Leeds dan mengambil nama dari empat orang pejabat Partai Komunis Cina yang dibabat setelah Revolusi Kebudayaan Mao Ze Dong (satu-satunya anggota grup yang berlatar belakang kelas pekerja adalah penggebuk drum Hugo Burnham, itupun dia masuk belakangan). Dengan gitar yang sangat gahar dan dentuman drum yang kental dengan ketukan disko, ini adalah album sangat revolusioner dalam style, meski tidak secara substance.
Heaven Up Here—Echo and the Bunnymen (Sire, 1981). Sebagian besar kritikus musik bilang kalau Echo and the Bunnymen adalah great band that never was. Punya setengah lusin album yang kebanyakan di atas rata rata dan mempengaruhi kelompok kelompok muda semacam Coldplay atau Pavement , namun kelompok ini selamanya tetap marjinal dan tidak pernah secara penuh mencapai status legendaris sesuai dengan betapa besar potensi mereka. (Di album rilis ulang Pavement Brighten the Corner, band lo-fi ini bahkan menyanyikan ulang komposisi legendaris The Killing Floor dari album tahun 1983 Ocean Rain dengan hasil yang sangat jenaka—meski tidak secara sengaja). Pencapaian terbaik Echo and the Bunnymen tentu saja ada di album kedua mereka Heaven Up Here, sebuah album yang luar biasa rumit penuh dengan ketukan ketukan drum hari kiamat, sayatan-sayatan gitar nada miring dan keyboard yang membawa atmosfir di dalam gua. Penyanyi utama Ian McCulloch menyanyi seperti orang yang dikejar malaikat (itupun kalau dia tidak menjadi malaikat itu sendiri). Di lagu paling baik album ini All My Colors, suara malaikat malam McCulloch meratapi sebuah kotak yang terbakar di antara dentuman drum tanpa cymbal dan sayatan gitar satu nada yang sangat suwung. Colossal Youth— Young Marble Giants (Rough Trade, 1980). Jika Steve Reich atau Philip Glass dan komponis komponis minimalis yang lain terlalu berat untuk anda saya sarankan untuk mencoba musik dari band asal Wales, Young Marble Giants. Kelompok ini memberi arti baru untuk minimalisme. Dan untuk sebuah band rock and roll tidak ada satu hal yang dipermukaan bisa dikatakan mewakili rock and roll dari kelompok ini. Di Colossal Youth, satu-satunya album yang pernah mereka rilis cuma ada vokal manis perempuan, melodi melodi pendek gitar listrik dan ketukan bas yang memberi progresi nada. Tidak ada drum di album ini, peran alat musik ini digantikan oleh sebuah mesin yang dirancang untuk menghasilkan desis, ketukan pelan dan derau aneh. Namun lagu bagus tetaplah lagu bagus. Hampir semua komposisi di album ini berisi melodi melodi cerdas yang tidak akan segera lepas dari kepala begitu anda mendengarnya sekali. Di lagu N.I.T.A. misalnya, ketukan drum, gitar, bass dan organ bergerak maju pelan secara ritmis mengiringi vokal Allison Statton yang manis dan manja, cocok untuk menemani langkah pelan di malam hari. Seperti halnya Talking Heads yang memberontak dengan berpakaian rapi dan berperilaku sopan, Young Marble Giants memberontak dengan cara minimalis mereka.
English Settlement—XTC (Virgin, 1982). Band ini banyak dipengaruhi oleh Talking Heads dan the Police (mereka pernah main di satu panggung dalam satu rangkaian tur), namun di album English Settlement ini XTC mampu menciptakan karya mandiri tanpa pengaruh siapapun. Di lagu Senses Working Overtime, gitar 12-senar Dave Gregory memberi ciri khusus bagi lagu yang sempat menjadi no. 10 di tangga lagu populer Inggris. Dengan drum poliritmik dan irama yang—saya tidak suka menggunakan kata ini—cathcy lagu ini sangat sempurna menangkap gema awal dekade 1980-an.
Avalon—Roxy Music (EG, 1982). Terus terang saya pertama jatuh cinta dengan album ini hanya karena cover art-nya yang sangat medieval nan misterius, potret kepala Raja Arthur dengan burung elang yang hinggap di tangan sang raja yang tidak kelihatan wajahnya. Saya pikir Avalon di album ini adalah tempat Raja Arthur sempat singgah dari peperangannya, ternyata yang di maksud Brian Ferry sang penulis lagu, Avalon ya cuma sebuah nama bar di New York. Musik di album Avalon, seperti kebanyakan musik dari dekade 1980-an, sangat bersih, rapi dan tanpa kejutan (dan Roxy Music, dengan atau tanpa Brian Eno dikenal memang sering menghasilkan musik yang steril, seperti halnya rilis rilis Eno di luar Roxy Music). Namun Avalon punya sterilitas yang menghanyutkan, dan hampir jatuh menjadi musik makan malam. Kadang-kadang tidak perlu terlalu serius menggunakan semiotika untuk memahami musik, perlakukan musik sebagaimana layaknya sajalah.
|