Home Musik Obat Patah Hati Bernama Continuum
Obat Patah Hati Bernama Continuum Print E-mail
(0 votes, average 0 out of 5)
User Rating: / 0
PoorBest 
Thursday, 02 April 2009 00:01

Oleh: Nuran Wibisono, mahasiswa Sastra Inggris Universitas Jember, Jawa Timur    

 

Beberapa hari lalu saya putus dengan pacar serius pertama saya. Saat itu pula saya merasakan benarnya adagium jaman dulu, sakit gigi lebih baik dari sakit hati. Meskipun tidak sampai membuat dunia saya runtuh, tetap saja mood saya runtuh. Biasanya saat lagi bad mood, saya sering mendengarkan musik favorit saya agar menjadi semangat lagi. Tapi sekarang beda. Mendengarkan Led Zeppelin terasa bagai orang uzur. Mendengarkan The Doors malah membuat saya ingin commit suicide, apalagi saat mendengar lagu "The End" dan "When The Music is Over".

Kebosanan akan lagu-lagu favorit saya itulah yang membuat saya kembali berkenalan dengan John Mayer. Dari dulu, saya cenderung kurang suka dengan penyanyi pop, Mayer mungkin salah satunya. Apalagi saat dia dinisbatkan sebagai bomb sex masa kini setelah lagu “Your Body is Wonderland” meledak, dan cukup dengan menyanyikan bait “your body is wonderland”, dia bisa membuat ribuan wanita menjerit histeris sambil berteriak “come to me, John!”

Tapi pandangan saya berubah saat mendengar John Mayer memainkan blues dengan liar lewat proyek idealismenya, John Mayer Trio (JMT). Band ini mengeluarkan album live mereka, Try!, pada medio November 2005. Damn! Saya tersentak tak percaya mendengar musik mereka. Dengan Bassist Pino Paladino dan drummer Steve Jordan, John memainkan blues dengan fasih. Tak lupa beberapa kolaborasi gila John dengan para legenda blues, mulai BB King, Eric “Slowhand” Clapton, Buddy Guy, Band pengiring SRV; Double Trouble, hingga musisi jazz seperti John Scofield. Sejak mendengar JMT, pandangan saya tentang Mayer berubah. Dia tak lagi menjadi pria wonderland, melainkan seorang pria yang berhasil membuat saya menjerit sambil berteriak “teach me how to play guitar, bastard!” 
      

Tahun 2006, album Continuum dirilis. Saya kembali tersentak saat tahu John menyanyikan ulang “Bold as Love”, lagu legendaris milik sang dewa gitar, Jimi Hendrix. Saat mendengarkannya, saya bersumpah  saya rela berpindah agama untuk bisa memainkan gitar semahir pria berambut ikal ini. Cara dia memainkan gitar dalam lagu ini begitu skilful sekaligus soulful. Lagu lainnya? Saat itu saya tak tertarik mendengarnya, entah kenapa.
      

Namun tuhan memang selalu punya cara untuk mengatur sesuatu dengan tangan gaibnya. Awal tahun ini saya patah hati, dan entah kenapa hal itu tiba-tiba membuat saya tergerak ingin mendengarkan secara penuh album Continuum. Mungkin antara lain karena saya sedikit jenuh dengan musik yang saya dengarkan setiap hari.
      

Lagu pertama yang saya dengarkan adalah “I’m Gonna Find Another You”. Alasannya hanya karena judulnya yang inspiratif dan membuat saya kembali semangat, hehehe. Dibuka dengan petikan gitar dan suara lembut John yang seakan berbisik pada dirinya sendiri, “its really over…” dia bernyanyi dengan lembut namun tidak terasa cengeng, berbeda dengan para vokalis band-band cengeng Indonesia sekarang yang saking lembutnya jadi terasa seperti merengek daripada menyanyi. Di lagu ini, John juga dengan indah memasukkan vibra maut ala BB King di bagian akhir lagu. Saya yakin, dia pasti membuat perjanjian dengan setan untuk bisa membuat lagu seindah ini. Saya pun rela menjual jiwa saya pada setan untuk bisa membuat lagu segila ini.
      

Lagu lain yang menjadi favorit saya di album ini adalah “Slow Dancing in the Burning Room”. Sekali lagi, John dengan lihai memadukan pop dengan blues. Hasilnya adalah sebuah lagu balada indah, sangat indah malah,  tentang hubungan yang gagal (lagi). Namun entah kenapa, lagu ini sama sekali tidak berasa cengeng hingga bisa bikin kita termehek-mehek. Istilah saya, a great cure for the broken hearted guy, membangkitkan semangat, bukan malah membikin kita menangis bombay. Jangan lupa untuk mendengarkan solo gitar John yang masiv pada bagian akhir lagu.
      

John Clayton Mayer terlahir di Connecticut dari rahim seorang wanita bernama Margaret dari benih seorang pria bernama Richard. Dalam film Back To The Future, ada adegan dimana Michael J. Fox memainkan lagu Johnny B. Goode dari Chuck Berry. Sejak saat itu dia tergila-gila dengan gitar. Ayahnya pula yang memberi John gitar pertamanya. Segera setelah mendapat gitar pertamanya, seorang tetangga memberi dia sebuah album dari legenda blues, Stevie Ray Vaughan. SRV pun menjadi salah satu influence terbesarnya dalam bermusik selain Hendrix. Beberapa kali John memainkan lagu milik SRV hingga Hendrix saat bermain live di bar blues di awal karir musiknya bersama band Villanova Junction. Tak heran di album Continuum, dia memainkan ulang Bold As Love. Lagu versi John ini banyak diperbincangkan di forum-forum penggemar Jimi Hendrix. Banyak yang mengatakan bahwa lagu versi John terlalu soft, berbeda dengan versi lama yang penuh distorsi dan suara gitar yang “kering”. Namun banyak juga yang mengatakan bahwa versi John telah menyempurnakan lagu versi lama yang dianggap “belum selesai”.  
      

Album Continuum adalah album studio ketiga Mayer yang dirilis pada September 2006. Saat pertama kali mendengarkan, kalau bukan karena suara John Mayer yang khas, saya tak akan menyadari kalau itu adalah album dari penyanyi yang sama dengan yang menyanyikan “Your Body is A Wonderland” dan “Daughter”. It’s really totally different. Album ini mencampurkan blues, sedikit funk, suara falsetto Mayer yang unik dan tentu saja tak lupa unsur pop manis. Dalam sebuah artikel di Rolling Stone Indonesia, Don Ienner, salah seorang petinggi Columbia Record – label dimana John bernaung – mengatakan bahwa tak ada satupun lagu dalam Continuum yang bisa dijadikan single. Ini karena Don menganggap warna musik di Continuum sangat jauh berbeda dengan dua album sebelumnya.
      

Kabar dari Don membuat John merasa patah hati. Dia menangis dan bahkan sempat berpikir untuk meninggalkan industri musik. “saya mulai mencari-cari sekolah desain di Internet karena saya memang ingin kuliah desain” ungkap Mayer pada sebuah artikel yang ditulis oleh Brian Hiatt. Namun ternyata seorang pria “gila” bernama Curtis Mayfield berhasil menginspirasi Mayer untuk menuliskan sebuah lagu berjudul “Waiting on the World to Change”. Mayer mengaku bahwa dia merasa kalau lagu itu bakalan menjadi sebuah lagu yang hebat. Dan firasatnya tidak salah. Lagu itu berhasil membuat Continuum dinominasikan sebagai Album of The Year dan berhasil menyabet penghargaan  Best Pop Vocal Album dan Best Male Pop Vocal Performance dalam Grammy Award 2007. Album ini juga berhasil menduduki peringkat pertama dalam chart Billboard Top Rock Album (USA) pada tahun 2006.
      

Dalam Continuum, Mayer memang tak memainkan blues seliar SRV maupun Hendrix. Tak juga segarang waktu Mayer bermain di JMT. Namun unsur blues dan cara Mayer memainkan gitar dalam album ini mengingatkan saya pada Mr. Slowhand, the one and only Eric Clapton. Dalam edisi Rolling Stone #1020, Mayer menjadi cover bersama John Frusciante dan Derek Trucks. Mayer mendapat julukan Slowhand, Jr., dan disebut-sebut sebagai “New Guitar Gods”. Pernah ada perdebatan seru antara para shredder dengan para gitaris non-shred. Para shredder yang pemuja sejati kecepatan dalam bermain gitar mengolok-ngolok permainan gitar Mayer. Para gitaris non-shred, terutama gitaris blues,  membela Mayer dengan mengatakan bahwa bukan speed yang menjadi inti dari permainan gitar, melainkan intuisi dan juga jiwa. Mayer sendiri saat bermain gitar selalu soulful, seakan-akan dia bercinta dengan gitar tersebut. Bagi saya pribadi, tak ada yang salah dengan para pemuja kecepatan. Namun sesuatu yang tidak salah itu menjadi salah saat mereka melupakan soul saat bermain dan monomersatukan kecepatan diatas segalanya. Dan saya rasa mereka lupa bahwa Robert Johnson, Django Reindhart, Hendrix, Page, Clapton hingga Angus Young bukanlah pemuja kecepatan dalam bermain gitar, melainkan memuja soul saat bermain.
      

Satu hal yang unik dari Mayer adalah kebiasaannya melakukan stand up comedy saat tampil live. Kalau di Indonesia, mungkin sosok Mayer hampir mirip dengan David Naif yang sangat gemar melakukan stand up comedy sekaligus melontarkan celaan terhadap band-band cengeng di Indonesia – sasaran utamanya adalah Kangen Band. Mulut Mayer yang “usil” ini sempat menjadi inspirasinya untuk menuliskan lagu “My Stupid Mouth” pada album pertamanya. Kalau penasaran dengan keusilan mulut Mayer, klik disini. Disini sambil memainkan lick blues yang keren,  dia dengan lucunya berkata “I don’t care whether you like Beyonce, AFI, or System Of A Down. But, if you’re human being, you will get the blues” lalu dia berlanjut dengan memainkan lagu favorit saya, “I’m Gonna Find Another You”. “Vultures” juga menjadi salah satu lagu favorit saya.
      

Salah seorang teman saya yang merupakan penggemar musik hardcore – namun sedikit tolol -  pernah mengatakan bahwa hardcore itu adalah musik terhebat, dan blues lambat laun akan mati ditelan zaman. Saya yang tidak menyukai konfrontasi, hanya bisa tersenyum mendengar pernyataan paling tolol yang pernah saya dengar itu. Saya rasa saya cukup menyodorkan lagu dari album ini – serta tak lupa album Try! – untuk membuktikan bahwa blues tak akan pernah mati. Dia akan bersinergi dengan musik lain yang lebih modern dan akan selalu ada meski musik sekarang didominasi oleh para lelaki berambut miring pemuja maskara yang dengan bangganya mengenakan skinny jeans dengan sabuk – namun celananya dengan sengaja dipelorotkan, sehingga boxernya terlihat dengan jelas(hey, kalian tak tahu fungsi sabuk?)  Ya, saya yakin, blues tak akan pernah mati, sampai kapanpun. Bagi kalian para broken hearted people, this album is definitely for you…

* cover image diambil dari http://www.mp3locker.net


Nuran Wibisono
About the author:
Nuran Wibisono adalah seorang backpacker wannabe yang sekarang sedang bekerja part-time sebagai Mahasiswa di Fakultas Sastra Inggris Universitas Jember. Saat ini tercatat sebagai Redaktur Pelaksana dari Organisasi Pers Mahasiswa Tegalboto, serta pendiri zine tempel Fakultas Sastra; Cangkruk Community. Menyukai musik Blues, Psychedelic Rock, Hair Metal, Rock N Roll dan juga Old School Metal. Berusaha mengejar mimpinya untuk menjadi rocker dengan bermain gitar dalam band rock n roll amatir bernama Sex In The Car dan Pretty Bad Boy. Ambisinya adalah belajar jurnalisme sastrawi yang dibimbing oleh Andreas Harsono lalu menulis untuk Rolling Stone edisi Amerika. Keinginan yang lain adalah backpacking keliling Indonesia dan menjadikannya sebuah buku serta mempromosikan keindahan Indonesia pada dunia.

 

Read More >>


Comments (2)Add Comment
0
...
written by wartax, August 11, 2009
continuum memang album yang sangat bagus. semua lagunya enak dan bagus. aku nyaris nggak pernah bosan denger album ini. menurutku ini album terbaik mayer sejauh ini.
0
...
written by aklam, April 14, 2009
hmm sebuah esai yang padat berisi.
saya sendiri kok malah rindu dengan album-album John yang sebelumnya yaaa...
tapi continuum tetep jadi salah satu playlist wajib saya kok smilies/smiley.gif

Write comment
smaller | bigger

security code
Write the displayed characters


busy
Last Updated on Wednesday, 20 January 2010 12:02
 
Banner
Banner
Make sure you have at least Flash Player 7. If not,please download.
Banner

Who's Online

We have 9 guests online

Follow Us On

Facebook Group: 50072354705 Twitter: jakartabeat