| Flower Generation: Generasi Terbaik Musik Rock and Roll? |
|
|
| Monday, 13 April 2009 23:00 |
|
Oleh Nuran Wibisono, mahasiswa Sastra Inggris Universitas Jember, Jawa Timur.
Perang Vietnam dimulai, 1959. Tak ada yang tahu bahwa perang ini akan menimbulkan sesuatu yang fenomenal dan menjadi legenda di kemudian hari. Perang Vietnam ini telah melahirkan satu generasi legendaris yang disebut dengan Flower Generation (Generasi Bunga). Generasi Bunga, generasi anak-anak muda berumur di bawah 30 tahun yang hidup di era akhir 1960-an hingga pertengahan 1970-an, muncul sebagai counter culture terhadap budaya kemapanan. Isu rasial, Perang Dingin dan ancaman perang nuklir adalah pemicu lain dari munculnya Generasi ini. Ia seakan menjadi bom yang siap meledak sewaktu-waktu. Bom waktu itu meledak saat perang Vietnam meletus. Anak-anak muda yang muak dengan kemapanan dan perang, berkumpul dan lahirlah sebuah generasi baru, Generasi Bunga. *** Dengan semangat “fight with flower” (lawanlah dengan bunga), Generasi Bunga melakukan protes anti perang tanpa kekerasan. Umumnya mereka memakai baju dengan warna yang mencolok mata – anak gaul jaman sekarang mengenalnya dengan nama kaos tie dye. Warna-warna ceria ini tentunya adalah simbol dari halusinasi saat memakai LSD. Mereka biasanya mengombinasikannya dengan celana cut bray dan beberapa aksesories kaum bohemian. Generasi ini juga sering diasosiasikan sebagai kaum hippies. Jesse Sheidlower, seorang leksikografer yang juga seorang editor dari Oxford English Dictionary, menyebutkan bahwa istilah “hipster” dan “hippie” berasal dari kata “hip” yang sebenarnya arti aslinya tidak diketahui. Malcolm- X pernah menyebut dalam biografinya, bahwa kata “hippy” merujuk pada orang kulit putih yang bertingkah seperti orang kulit hitam Amerika, bahkan melebihi tingkah polah warga kulit hitam itu sendiri. Banyak orang mengidentikan kaum hippy dengan kebebasan dan ketidakteraturan. Nyatanya, kaum hippies memang berusaha keluar dari kehidupan formal masyarakat disekitarnya. Bagi saya, periode Generasi Bunga ini adalah periode puncak kejayaan musik rock. Perpaduan antara lirik yang “bombastis” dan cenderung absurd (hampir pasti karena efek LSD) musikalitas yang tidak bertepi dan tidak biasa, menjadi pemikat. Uniknya, kiblat budaya mereka adalah kebudayaan timur yang dianggap eksotis, seperti India. Tak heran kalau The Beatles pun pergi berguru ke India pada Mahesi Yogi. Lihat pula cover album Jimi Hendrix Experience Are You Experienced yang “Hindu” banget. Masalah lirik, hingga hari ini saya masih menganggap bahwa band-band periode ini memiliki lirik-lirik yang akan selalu abadi. “Purple Haze”, “Stairway to Heaven”, “All You Need is Love” adalah beberapa contoh lagu dengan lirik yang mengandung unsur magis sekaligus absurd, namun dengan pesan tersembunyi disana. Musisi generasi ini memiliki kreatifitas yang luar biasa. Ada The Beatles yang manis. Ingin sesuatu yang akrobatik sekaligus bikin bulu kuduk anda merinding saat melihat permainan live, tontonlah Jimi Hendrix. Adapula yang sedikit gelap dengan bumbu psychedelic seperti The Doors dan Jefferson Airplane. Hingga musik progresif macam YES atau Pink Floyd. Wanitanya pun tidak ketinggalan. Ada Janis Joplin sang ratu musik rock yang namanya tetap abadi sampai sekarang. Anda mengaku sebagai penyuka rock and roll tapi tidak kenal siapa mereka ini? Masuk nerakalah anda! Tentu saja puncak musik rock era Flower Generation ini terjadi pada tahun 1969. Sebuah lahan pertanian seluas 240 hektar milik Max Yasgur yang terletak di Bethel, New York menjadi saksi bisu pagelaran musik Woodstock yang legendaris yang diadakan mulai tanggal 15 – 18 Agustus. Bukan sesuatu yang luar biasa bila Pagelaran Woodstock masuk dalam “50 Moments That Changed the History of Rock and Roll” versi majalah Rolling Stone. Rockstar produk Generasi Bunga adalah bintang yang dipuja oleh generasi musisi yang datang belakangan. Para pemuja ini mengamini gaya hidup pujaannya: obat bius, seks, dan rock and roll. Toh selalu ada orang yang melawan arus kerumunan. Salah satunya adalah musisi legendaris Frank Zappa yang mengkritik keras ulah musisi yang memuja rockstar Generasi Bunga tanpa reservasi. Bagi Zappa, Flower Generation telah menjadi gerakan sampah belaka, sekedar menjadi pembenaran seks bebas, pemakaian obat bius, dan sudah kehilangan semangat perubahan. Tak ada lagi ideologi di dalamnya. Frank Zappa tentu diamini oleh para orang tua yang khawatir bila punya anak bercita-cita menjadi rocker. Ya betul, orang tua tentu takut sang anak akan mati overdosis, menjadi pecandu alkohol atau memacari groupies. Bisa dipastikan bahwa sebagian besar orang tua, apalagi di negeri kita, akan berpikir seribu kali untuk memperbolehkan anaknya menjadi seorang musisi rock. Paling pol ya sang anak disuruh ikutan ajang menyanyi yang banyak mencetak penyanyi karbitan dan idola instan. Tapi jadi rocker? Para orang tua mungkin akan memilih untuk mati lebih dulu daripada melihat anaknya menjadi rocker. *** Tahun 1975, perang Vietnam berakhir. Tentara Amerika pulang menanggung malu. Berakhirnya perang itu juga menjadi lonceng penanda akhir masa Generasi Bunga. Masa hura-hura selesai, saatnya kembali ke dunia nyata. Kini, remaja era tahun 1990-an dan 2000-an memakai kaus tie dye yang warna-warni itu, tanpa perlu mengerti maknanya. Musik hari ini pun sudah jauh berbeda. Tak ada lagi musik yang benar-benar dimainkan dari dalam hati. Saya harus menelan musik-musik sampah yang dimainkan para remaja tanggung dengan rambut miring dan gumpalan mascara di bawah mata mereka. Mereka menyanyi dan bermain musik seperti menangis dan merengek. Mereka tidak mengerti bahwa tak perlu bergaya merengek untuk menjadi soulful. Ah, saya jadi rindu dengan gegap gempita musik psychedelic. Saya berandai-andai lagi bahwa saya lahir pada tahun 1945, berharap saya bisa mengecap pahit manis-nya Flower Generation. Mungkin saya bisa menyaksikan langsung bagaimana Jimi Hendrix menggumuli gitarnya.Mungkin juga saya bisa menyaksikan dari dekat bagaimana Janis Joplin menyihir pemujanya, bagai Cleopatra menyihir Julius Caesar. Tapi, ternyata saya lahir pada tahun dimana Guns N Roses merilis album Appetite For Destruction. Di sinilah saya, tanpa LSD, tanpa ganja, tanpa minuman keras, mendengarkan lagu “San Fransisco” yang ditulis oleh John Phillips dari The Mamas and The Papas yang dinyanyikan oleh Scott Mc Kenzie. Berharap semangat Generasi Bunga merasuk ke dalam jiwa saya…
If you’re going to San Francisco, |
Baca Artikel Lainnya
Hits: 1045 Comments (3)
![]() written by Nuran, April 16, 2009
Thanks mas CX for the comment...
first of all, sebenernya tulisan ini awalnya untuk majalah kampus. dan saya berusaha ngebiasakan diri untuk tidak mengambil referensi dari wikipedia, karena referensi dari situs itu tidak diperbolehkan untuk karya tulis... yang kedua, yang bilang istilah hip itu asalnya tidak diketahui itu bukan saya, tapi si Jesse Sheidlower... dan referensi itu saya dapat dari situsnya si Jesse sendiri yang ketiga... kalau sebenarnya anda membaca dengan sungguh-sungguh, pada paragraf ke 8 saya sudah menulis soal Joan Baez kok... coba dibaca lagi ya mas uhm, iya sih, ini sebenarnya masalah saya... saya adalah pemuda stok lama yang selalu mengagung2kan produk generasi lama. tapi itu juga karena saya pikir masih belum ada produk musik generasi baru yang bisa menandingi dahsyatnya produk musik generasi lama... masalah selera, iya sih, saya memang standar, hehehe... saya bukan music monger lagipula... tapi makasih banget buat kritiknya... saya akan belajar lagi dan lagi rock on! written by cx, April 14, 2009
not good enough. istilah hip bisa dicari di wikipedia (kenapa situs ini bisa terlewat?). joan baez g disebut. the ending is sooo basi, mengagung2kan masa lalu & masa kini dianggap jelek. logika & selerany enggak khas, masih gitu2 aj. gmn penulisny, kok g tanggap sama dinamika jaman?
Write comment
|
| Last Updated on Wednesday, 20 January 2010 12:01 |
tulisan ini juga saya muat di profil di facebook saya...