Home Musik Debut Album Arcade Fire
Debut Album Arcade Fire Print E-mail
(0 votes, average 0 out of 5)
User Rating: / 0
PoorBest 
Tuesday, 14 April 2009 23:57

Oleh Philips Vermonte, peneliti CSIS, pendiri Jakartabeat.net

 

Arcade Fire adalah sebuah band relatif baru yang dengan cepat menarik perhatian dimana-mana. Tidak jarang orang yang menyebut band ini sebagai salah satu band terbaik dan paling menjanjikan yang muncul dalam beberapa tahun terakhir. Antusiasme banyak orang muncul setelah album debut Arcade Fire yang berjudul Funeral (2004) dan juga album keduanya yang berjudul Neon Bible (2007). Cukup jarang sebuah band baru yang berhasil meluncurkan dua album awal yang sama-sama mendapat pujian. Di tahun 2006, Funeral dinominasikan untuk Best Alternative Music Album. Pada tahun 2008, Neon Bible juga dinominasikan untuk penghargaan yang sama.

Funeral adalah album yang indah. Mungkin banyak orang yang mengerutkan kening mengapa sebuah band memilih title untuk album perdana-nya yang justru menyiratkan ’sebuah akhir’ seperti Funeral ini. Dalam liner notes vinyl Arcade Fire bisa diperoleh penjelasan mengapa judul ini dipilih. Selama proses rekaman album ini, silih berganti beberapa anggota keluarga dari personil band ini meninggal dunia. Karena itu personil Arcade Fire memilih Funeral sebagai judul album debut mereka untuk mengenang anggota keluarga mereka yang meninggal dunia itu.

Pada saat yang sama, sebetulnya lagu-lagu dalam Funeral lebih banyak menyiratkan semangat dan bukan kemuraman. Bisa disimak misalnya dalam lagu “Neighborhood #1 (Tunnels)” dan “Neighborhood #2 (Laika)” . Lagu “Wake Up” bahkan menjadi anthem yang sering diputar dalam berbagai event olahraga di Inggris.

Kesan ini muncul karena multiple chorus, koor, dan orkestrasi komposisi lagu yang digarap rapi dalam Funeral. Riff yang dimainkan Win Butler dengan gitarnya juga memperkuat aura kemegahan. Para personil Arcade Fire mahir memainkan beragam alat musik yang membuat mereka lebih leluasa bereksperimen dan mengeksplorasi beragam bunyi dan nada. Accordion, viola, violin, xylophone, cello, piano, dan beragam alat musik lain terdengar dalam perpaduan yang manis.

Band ini masih muda usia, dibentuk tahun 2005 di Montreal, Kanada. Motornya adalah Win Butler. Vokalis yang mahir memainkan beragam alat musik ini berasal dari Houston,Texas. Ketika proses rekaman Funeral sedang berlangsung, Win Butler menikahi Regine Chassagne, yang juga anggota Arcade Fire.

Selain digandrungi anak-anak muda di Amerika dan Inggris, Arcade Fire juga tentu saja sangat populer di Kanada. Popularitasnya di Kanada mungkin menyamai Rush, band hard-rock trio asal Kanada yang populer di akhir 1970-an dan awal 1980-an itu.

Ketika Funeral dirilis, banyak orang yang merasa terpukau dan pada saat yang sama mengalami kesulitan untuk mengkategorikan musik yang dibawakan Arcade Fire: apakah alternative biasa, emo, screamo, post-new wave atau post-punk? Sepertinya Arcade Fire mewakili sebuah generasi baru musisi yang lebih leluasa mengeksplorasi musik. Ia juga sepertinya mewakili generasi baru rock and roll yang tidak sekedar ingin mengikuti pakem.

Album-album yang dibuat oleh band-band era tahun 2000-an sangat menarik dan membuat banyak orang merasa excited, setelah era akhir tahun 1990-an yang membosankan. Selain Arcade Fire, band-band lain seperti The Strokes, The Shins, dan Vampire Weekend banyak disebut sebagai band-band muda yang membawa musik baru yang menggairahkan. U2 dan David Bowie bahkan mengajak Arcade Fire tampil bersama, bukan sebagai band pembuka.

Tentu band-band yang saya sebut tadi tidak ada dalam list The 500 Greatest Albums of All Time yang dibuat majalah Rolling Stone. Karena mereka memang muncul belakangan (RS 500 edisi majalah terbit pada tahun 2003) dan pengaruhnya terhadap dunia musik mungkin belum tampak terlalu nyata. Tapi kalau list itu di update, rasanya band-band itu layak masuk (ada satu album The Stroke yang berjudul Is This It yang dirilis tahun 2001 sudah masuk dalam list RS 500 itu).

Sebagai musisi muda, motor Arcade Fire Win Butler juga merepresentasikan semangat perubahan generasi kepemimpinan di Amerika. Saat pemilihan pendahuluan calon presiden Partai Demokrat tahun 2008 lalu, Win Butler secara terbuka menyatakan dukungannya pada Barrack Obama dan aktif berkampanye melalui panggung musik di negara bagian Texas. Walaupun Hillary Clinton menang tipis dalam popular votes, Barack Obama memenangi pemilihan di negara bagian ini. Proses penghitungan suara dan translasi menjadi delegates yang diadopsi negara bagian Texas adalah salah satu yang paling rumit di Amerika, sesuatu yang membuat kubu Hillary berhasil dikalahkan Barack Obama. Padahal Hillary Clinton sangat optimis bahwa ia akan menang mudah di Texas karena jumlah komunitas pemilih Latino yang besar. Pemilih Latino sering dianggap sebagai pendukung utama keluarga Clinton.

Saat kampanye, kubu Hillary Clinton bahkan sempat mengeluarkan statement untuk meredam Win Butler dan Arcade Fire yang sangat populer di kalangan anak muda, yang secara demografis merupakan pemilih dalam jumlah signifikan di Texas. Win Butler disindir sebagai expatriate, menunjuk pada base-nya yang di Kanada.

Win Butler menulis catatan personal di website Arcade Fire, menunjukkan perasaannya pada Hillary Clinton dan dukungannya pada Obama:

“I am watching Hillary Clinton in her victory speech in New Hampshire. They just threw a bunch of college kids behind her, and had her talked about student loans, and had her daughter come out for a long awkward hug…does anyone actually buy it? Surely young people are too media savvy to be fooled by this kind of shit. Do we live in a democracy so we can just keep electing the same families? Barrack is the first candidate in my lifetime to strip some of this bullshit away, and I just hope we don’t blow this chance.”

Ketika saya membeli vinyl Funeral bulan Oktober tahun lalu, sedikit banyak “isu generasional” juga terasa. Penjaga tokonya, mahasiswa S1 di kampus saya, berkomentar ketika saya hendak membayar: “good choice”. Saya bilang bahwa saya berharap saya tidak terlalu tua untuk mendengarkan album ini. Komentar dia kemudian sungguh menarik hati: “no, we will never be too old for music”.

Pada konteks yang sebaliknya, penjaga toko vinyl itu mengingatkan saya pada seorang anak berusia 13 tahun yang menulis di Youtube setelah ia mendengarkan lagu-lagu John Lennon: “I am 13, but I am now falling in love with his music. Don’t let your age prevent you from listening to good music”.


Philips Vermonte
About the author:
pendiri Jakartabeat.net, peneliti di Centre for Strategic and International Studies (CSIS) di Jakarta, saat ini sedang menempuh studi doktoral di Department of Political Science, Northern Illinois University, di Amerika Serikat.
Read More >>


Comments (0)Add Comment

Write comment
smaller | bigger

security code
Write the displayed characters


busy
Last Updated on Wednesday, 20 January 2010 11:56
 
Banner
Banner
Make sure you have at least Flash Player 7. If not,please download.
Banner

Who's Online

We have 9 guests online

Follow Us On

Facebook Group: 50072354705 Twitter: jakartabeat