Home Musik Dari Elvis Costello hingga Konser Amal untuk Kamboja
Dari Elvis Costello hingga Konser Amal untuk Kamboja Print E-mail
(1 vote, average 4.00 out of 5)
User Rating: / 0
PoorBest 
Saturday, 25 April 2009 22:15

Oleh Philips Vermonte, pendiri Jakartabeat.net, peneliti CSIS

 

Saya pikir-pikir, ‘membaca’ karya musik tidak ada bedanya dengan membaca karya tulis dalam konteks dunia akademis yang saya jalani. Saya harus memaksa diri membaca buku dan artikel-artikel dari berbagai jurnal ilmiah. Tentu saja banyak diantara buku dan artikel ini yang tidak bisa segera saya pahami isinya. Kalau begini, biasanya saya melanjutkan ke bacaan lain. Suatu saat saya akan sampai pada sebuah bacaan yang menjelaskan dengan lebih mudah tema serupa yang ditulis dalam buku atau artikel yang semula tidak saya pahami isinya itu.

Seperti itu juga kejadiannya dalam hal musik. Beberapa bulan lalu saya mendapat album piringan hitam berjudul Armed Forces (1979) dari Elvis Costello and the Attractions. Album ini ada dalam list 500 Greatest Albums of All Time majalah Rolling Stone di urutan 474. Ketika saya dengarkan pertama kali, karya Elvis Costello ini tidak bisa langsung saya nikmati. Setelah mengekspose diri dengan beragam album dan karya musik lain, saya kembali mendengarkan album itu beberapa hari terakhir ini. Ternyata album itu nikmat untuk didengarkan. Dan nyatanya album itu adalah album cukup penting dalam sejarah perkembangan musik. Lagu pertama “Accidents Will Happen” bahkan disebut sebagai salah satu peletak dasar musik New Wave yang tidak lama kemudian berkembang subur di tahun 1980-an. Di lagu lain, yang berjudul “Oliver’s Army”, bisa kita rasakan beat dan ekspresi emosional yang kentara dimana Elvis Costello menggabungkan punk dan pop dengan manis.

Memang Elvis Costello adalah musisi yang sukses menggabungkan punk, pop, dan juga new wave dalam musiknya. Ia juga dikenal sebagai penulis lirik yang kuat. Pengaruh the Clash cukup terasa pada Elvis Costello. Secara terbuka, Elvis Costello pernah mengakui bahwa ia begitu mengagumi kelompok the Clash dan sering mendengarkan album the Clash berulang-ulang tanpa henti sembari minum kopi. Ketika album pertamanya My Aim is True muncul di tahun 1977, Elvis Costello disambut begitu meriah. Selanjutnya, Elvis Costello selalu mendapat pujian dari para kritikus musik yang biasanya berbahasa sinis (seperti disebut dalam salah satu entry di list 500 Greatest Albums of All Time itu, penyanyi David Lee Roth sekali waktu pernah memberi komentar sinis bahwa Elvis Costello disukai para kritikus musik karena penampilannya yang seperti nerd dengan kaca mata besar adalah serupa dengan penampilan para kritikus musik, yang menurut Lee Roth, seperti nerd juga).

Beberapa hari lalu, sambil mendengarkan album Armed Forces itu, saya membaca sebuah entry mengenai Elvis Costello di buku Rolling Stone Encyclopedia of Rock and Roll (2005). Mata saya tertumbuk pada satu paragraf yang menceritakan kemarahan masyarakat Amerika kepada Elvis Costello. Dalam sebuah kesempatan, Elvis Costello menyebut Ray Charles, sang musisi jazz buta legendaris berkulit hitam yang begitu dihormati di Amerika, sebagai ‘blind, ignorant nigger’. “N word” ini membangkitkan kemarahan banyak pihak. Wartawan yang semula sangat suportif, berbalik menjadi penyerang Elvis Costello yang galak. Padahal, Elvis Costello aktif dalam kerja-kerja sebuah organisasi bernama Rock Against Racism. Elvis Costello, menurut entry di buku itu, harus low-profile beberapa lama hingga akhirnya baru muncul lagi di sebuah konser amal di tahun 1979 untuk membantu rakyat Kamboja yang baru lepas dari trauma kekejaman Pol Pot.

Kekejian Pol Pot

Konser itu bertajuk Concerts for the People of Kampuchea. Diselenggarakan di Inggris pada tanggal 26-29 Desember 1979, konser ini mungkin adalah konser yang paling berhasil menghadirkan nama-nama besar musisi rock Inggris dalam satu panggung. The Who, Queen, the Clash, Elvis Costello and the Attractions, Pretenders, tiga dedengkot Led Zeppelin (John Bonham, John Paul Jones dan Robert Plant), Paul McCartney and the Wings adalah nama-nama yang meramaikan acara konser amal tersebut.

Tak disangka-sangka, piringan hitam rekaman konser amal ini muncul di toko vinyl dekat kampus saya dengan banderol harga 2 dolar. Tidak mungkin saya lepaskan kesempatan ini. Bukan hanya karena band yang tampil adalah band-band besar, namun saya pikir rekaman ini adalah dokumentasi musik rock and roll yang berhubungan dengan gejolak politik dalam satu episode sejarah paling muram kawasan Asia Tenggara, tempat kita tinggal.

Kekejian Pol Pot dan tentara Khmer Merah-nya di Kamboja selama periode 1975-1979 tertulis dengan tinta hitam pekat dalam sejarah di kawasan kita ini dan juga sejarah dunia. Ia bersanding dengan para penjahat kemanusiaan lain seperti Hitler dan terakhir Slobodan Milosevic yang menghabisi warga Bosnia. Mungkin diantara mereka ini, Pol Pot adalah yang paling keji. Ia menghabisi warga sebangsanya sendiri. Tentara Khmer Merah yang dibentuknya adalah tentara anak-anak yang ia rekrut dan indoktrinasi sedemikian rupa hingga menjelma menjadi monster berdarah dingin. Mereka sendiri yang menyiksa ayah, ibu, paman, kakak, adik dan saudara lainnya. Secara psikologis tentara anak-anak ini tentu tidak mengerti konsekuensi kekerasan yang mereka lakukan.

Dua juta warga Kamboja tewas sia-sia selama Pol Pot berkuasa. Pol Pot, seperti banyak diktator psikopat lainnya, terobsesi dengan ide besar membangun kembali kejayaan Kamboja masa lalu dengan memulai lagi dari titik nol. Titik nol yang ia maksud adalah menghabisi kaum cerdik pandai Kamboja yang menurutnya tidak berguna dan memulai lagi dari awal kemajuan Kamboja. Sejarah mencatat, yang pertama-tama dihabisi oleh rezim Polpot adalah para cendekiawan, guru, wartawan, penulis, sastrawan dan kaum intelegensia lainnya.

Concert for the People of Kampuchea di Inggris ini adalah buah dari hubungan komunikasi intensif antara Kurt Waldheim, Sekretaris Jenderal PBB ketika itu, dengan Paul McCartney. Paul McCartney kemudian mengkoordinir musisi-musisi besar tadi, bersama-sama dengan UNICEF.

Album Concert for the People of Kampuchea ini adalah double album dengan dua piringan. Sebetulnya ada banyak lagu yang dimainkan oleh band-band terkenal ini selama konser itu. Namun yang dipilih untuk direkam dalam album piringan hitam ini hanyalah 20 lagu. Dari The Who yang menyanyikan lagu-lagu legendarisnya dipilih: “Baba O’Riley”, “Sister Disco”, “Behind Blue Eyes” (beberapa tahun lalu dinyanyikan kembali oleh grup Limp Bizkit) dan “See Me, Feel Me”. Dalam konser amal ini Queen menyanyikan salah satu hits-nya, “Now I’m Here”. Sementara dari The Clash dipilih lagu beraroma  reggae-punk yang dimainkannya berjudul “Armagideon Time”. Sementara Elvis Costello tampil dengan lagu “The Imposter”. Di hari terakhir konser, Paul McCartney mengorganisir Rockestra yang membawa nama-nama besar tadi tampil bersama dan diantaranya memainkan lagu klasik “Let It Be”.

Terkadang memang terasa ganjil bahwa kita tidak bisa berbuat banyak melihat kekejaman di negeri tetangga.  Untung ada musik , yang mungkin datang dari jauh di luar kawasan, yang berulang kali membuktikan kemampuannya meluluhkan hati yang keras, seperti Concert for the People of Kampuchea ini.


Philips Vermonte
About the author:
pendiri Jakartabeat.net, peneliti di Centre for Strategic and International Studies (CSIS) di Jakarta, saat ini sedang menempuh studi doktoral di Department of Political Science, Northern Illinois University, di Amerika Serikat.
Read More >>


Comments (0)Add Comment

Write comment
smaller | bigger

security code
Write the displayed characters


busy
Last Updated on Wednesday, 20 January 2010 11:56
 
Banner
Banner
Make sure you have at least Flash Player 7. If not,please download.
Banner

Who's Online

We have 17 guests online

Follow Us On

Facebook Group: 50072354705 Twitter: jakartabeat