| Musik-musik Alternatif Untuk Kesehatan Jiwa |
|
|
| Saturday, 30 January 2010 16:27 |
|
Oleh Nova Riyanti Yusuf, anggota DPR RI 2009-2014 Komisi IX-Fraksi Partai Demokrat
Kehidupan di Parlemen Republik Indonesia tidak boleh sepi dari musik. Walau hidup dalam akuarium ruang sidang tak berkesudahan, hati tetap bersenandung mengikuti tren-tren musik. Kalau bukan tren musik sesama teman-teman legislator, paling tidak tren teman-teman penggemar musik alternatif. Terhitung sejak akhir Desember 2009 sehingga sekarang, ada dua album yang masih menjadi favorit musik yang bolak-balik saya pasang di iPod dan iTunes. Pertama, Original Soundtrack 500 Days of Summer. Kedua, Original Soundtrack New Moon. Kesamaan kedua album tersebut, adalah jenis musik alternatif yang jika didengarkan oleh kuping-kuping yang “asing” dengan genre ini, hanya akan memicu keluh-kesah karena dianggap aneh dan tidak bermelodi. Untungnya sejak tahun 90an indera pendengaran saya sudah terbiasa dengan jenis musik tak bermelodi tetapi sarat dengan lirik yang bermakna. Beberapa favorit saya berkisar dari Smashing Pumpkins (walau formasi penggantinya, Zwan, tidak terlalu menggetarkan), Gin Blossoms, Nirvana, Soundgarden, Hole, Garbage, Portishead, Primitive Radio Gods, Radioheads, Better than Ezra, Weezer, dan seterusnya.
Serpihan lirik Smashing Pumpkins di atas bagi saya merefleksikan dua hal: 1) adanya gangguan jiwa (catat: gangguan jiwa begitu luas; dari ringan sampai berat, dari depresi sampai skizofrenia, dari neurosis sampai psikosis) dan 2) lirik tersebut terapeutik, baik karena berperan sebagai perasat ventilasi bagi yang menyanyikan dan yang mendengarkan, tetapi bisa juga karena menawarkan pemahaman empatik dari penyanyi ke pendengar tentang rasa sakit, kehilangan, amarah, keterkungkungan. Jadi jika melodi musik alternatif kadang memekakkan telinga dan meninggalkan pertanyaan, justru bagi penggemar alternatif genre musik ini memberikan alternatif atas eksistensi musiknya, yaitu penawar toksin atas kepedihan hidup, tanpa harus menjadi melodramatik. Sudah hampir 20 tahun berselang, ternyata selera musik saya belum bergeming dari genre musik alternatif 90-an. Hanya saja, sebuah artikel di salah satu media massa Singapura menarik perhatian saya karena mengatakan bahwa musik alternatif kontemporer lebih melodik dari versi tahun 90an, salah satunya Bon Iver (catat: termasuk salah satu pengisi OST New Moon). Hal ini tidak sepenuhnya bisa disetujui. Karena seperti misalnya lagu "Hearing Damage" dari Radioheads yang menjadi salah satu andalan lagu dalam film New Moon, jelas tetap kurang melodik, namun bagi saya adiktif karena ada unsur techno beat pada bagian intro. Atau lagu berjudul "There’s A Possibility", ibu saya pun ingin berteriak mendengarnya karena melodinya begitu datar dan berulang-ulang. Tetapi justru lagu ini menjadi salah satu yang ear-catching bagi saya. Pada saat saya akan menyaksikan New Moon, saya tidak menyangka dapat mendengarkan lagu-lagu yang menarik. Saya pun jadi teringat adegan-adegan seru di hutan yang dikawal oleh Radioheads dan ketika Bella Swans jatuh dalam kondisi depresi diiringi lagu "There’s A Possibility". Tanpa kehadiran OST yang karismatik, saya pasti sudah tertidur menyaksikan New Moon. Berdasarkan kemampuan menahan saya dari tidur inilah maka saya yakini OST New Moon jauh lebih sakti daripada OST Twilight. Hanya Paramore yang cukup bisa bertengger dalam memori namun itupun masih kalah telak jika dibandingkan dengan serangkaian lagu pengisi OST New Moon. *** Ketika memutuskan untuk menyaksikan 500 Days of Summer, saya hanya mengikuti arus keponakan-keponakan yang ABG. Namun rasa melekat pada film ini ternyata bukan karena hasil evaluasi E! Entertainment yang mengatakan 500 Days of Summer adalah salah satu film terbaik tahun 2009. Lagi-lagi OST-nya yang membuat film ini saya anggap memang salah satu film yang menarik perhatian pada tahun 2009. Ambiguitas para karakter, menjadi semakin jelas terpapar dengan karakteristik musik yang khas oleh The Temper Trap. Ada beberapa lagu dari The Temper Trap di dalam OST ini termasuk "Science of Fear" dan "Sweet Disposition". Varian musik dalam OST ini pun beragam, dengan memasukkan salah satu lagu berjudul "Quequ’un M’a Dit" dari ibu Negara Perancis, Carla Bruni, sehingga saat mendengarnya saya ikut tercengang karena familiar. Masih banyak sekali band yang belum saya kenal di dalam album ini, seperti Mumm-ra, She & Him, Wolfmother, the Zombies, the Kooks, the Smiths, Feist, Doves, dan tidak ketinggalan si pemeran utama perempuan, Zooey Deschanel ikut nimbrung dengan lagu "Swing Low", "Sweet Chariot", dan "Sugar Town". Namun tentu yang paling menyesakkan adalah betapa sulitnya mendapatkan CD dari OST 500 Days of Summer. Sejauh ini saya belum bisa mendapatkannya di Jakarta, bahkan di beberapa toko kaset di Singapura termasuk HMV yang terbesar di Orchard tidak tersedia karena habis terjual. *** Selera musik boleh beragam, pilihan genre-pun dikembalikan pada sensitivitas pendengar, tetapi slogan tentu sama: No health without mental health, and certainly no mental health without music. |
Baca Artikel Lainnya
Set as favorite
Hits: 739 Comments (1)
![]() written by Afano, February 01, 2010
She and Him itu band indie labelnya Zooey Deschannel loh, lagunya oke-oke. suaranya zooey juga enak didenger. :)
Write comment
|