| Album Contra milik Vampire Weekend: The Clash tanpa Ideologi |
|
|
| Saturday, 06 February 2010 20:44 |
|
Oleh M. Taufiqurrahman, wartawan The Jakarta Post
Ketika album pertama Vampire Weekend di rilis di Amerika Serikat musim dingin tahun 2008, beberapa orang meyakinkan saya untuk menyukai album tersebut. Terlepas dari betapa baik dan rapinya musik mereka, saya berkeras hati untuk bertahan bahwa ketika sebuah grup hanya berbicara tentang arsitektur (‘Mansard Roof’), ejaan yang baik dan benar (‘Oxford Comma’) atau kehidupan kampus anak orang-orang kaya (‘Campus’), tidak banyak lagi yang diharapkan dari kesenian yang mereka promosikan. Ini mungkin masalah ideologis bahwa kesenian selayaknya dan pada akhirnya harus melayani kepentingan besar masyarakat yang melingkupinya, dan saya melihat VW tidak melakukan ini. Dan meskipun vokalis VW Ezra Koenig—lulusan sastra Inggris universitas ivy league Columbia Univesity — sangat fasih berbicara tentang kolonialisme dan hubungan estetis antara subkultur mahasiswa kaya dengan kultur India dan Afrika, sampai saat ini saya tidak memiliki piringan hitam atau cakram padat album VW tersebut. Saat ini, saya hanya memutar album mereka dengan mencolokkan iPod kecil saya di stereo mobil — sekedar untuk mengingatkan saya kepada musim panas Chicago yang terlalu cepat berlalu di tahun 2008. Vampire Weekend adalah kelompok musik yang hanya fasih secara estetis, namun nihil dalam menangkap zeitgeist masa senjakala pemerintahan George W. Bush waktu itu. Saya tidak sendirian dalam hal mencoba tidak peduli dengan Vampire Weekend. Kritikus musik Julianne Shepherd dari koran kota New York Village Voice menulis dengan mencibir tidak lama setelah album debut VW dirilis tahun 2008 dengan memberi judul tulisannya "Please Ignore This Band". Dalam manifesto anti-Vampire Weekend tersebut, Shepherd menulis bahwa musik VW, dengan biola solo-nya yang mahal itu, dengan konstruksinya yang rapi, dan vokal manis a la koor gereja dan susunan lagu yang sangat klaustrofobik adalah hasil kesenian sebuah kelompok yang terlalu berpuas diri. Masih menurut Shepherd, Vampire Weekend melakukan transformasi terhadap fantasi Pantai Timur Amerika Serikat a la Jonathan Richman menjadi fantasi borjuasi yang tidak akan memberi tempat kepada hidup yang susah. Dalam Bahasa Indonesia yang sederhana: Vampire Weekend adalah candu dan meminjam istilah yang sempat beken di musim pemilu presiden tahun 2008, Vampire Weekend adalah band yang elitis.Album kedua Vampire Weekend Contra nampaknya adalah upaya untuk menjawab kritik di atas. Bahwa mereka bukanlah anak muda kaya yang bermain-main dengan orient. Judul album ini adalah upaya yang paling kentara. Dan jika kelompok musik berhaluan kiri The Clash menamakan album mereka justru dengan kediktatoran boneka Amerika Serikat di Nicaragua Sandinista, Vampire Weekend goes for the jugular dengan menamai albumnya dengan kelompok gerilyawan Marxis yang melawan Sandinista. Dalam sebuah wawancara, Koenig mengatakan bahwa judul album baru itu juga bisa mengacu kepada kritik Karl Marx terhadap filosofi Hegel. Namun sayang sekali, di luar judul yang provokatif, tidak banyak yang bisa menunjukkan bahwa Vampire Weekend sedang berusaha keluar dari perangkap elitisme yang telah mereka bangun sendiri. Dalam lirik mereka tidak jelas benar apakah Vampire Weekend sedang berusaha meletakkan kesadaran sosial mereka ke dalam level politik individu — hampir semua lirik menggunakan sudut pandang orang pertama dengan kata ‘I’ — atau mereka hanya bercerita tentang kehidupan kelas menengah ke atas yang sedang mereka rayakan. Tidak jelas apa yang mereka maksud dengan Tokugawa smile seperti di lagu ‘Giving Up the Gun’. Atau butuh riset cukup mendalam melalui Google untuk bisa mengerti apa yang Koenig hendak katakan di lagu ‘White Sky’. Dan akhirnya ketahuan juga bahwa di lagu ini Koenig sedang bercerita tentang seni rupa modern art karya Richard Serra. Dan jika kesenian yang baik adalah bisa mengatakan yang universal dengan sentimen-sentimen individual atau sebaliknya, album Contra bukanlah hasil kesenian yang baik karena kecenderungannya untuk menjadi terlalu pribadi. Untung saja semua anggota Vampire Weekend adalah pemain musik yang terampil, yang mampu meramu komposisi musik kelas satu yang sangat pop dan ini telah menyelamatkan Contra dari kuldesak politik mereka. Kecuali lagu ‘Horchata’—yang sempat mereka bagikan secara gratis sebelum Contra dirilis — yang mudah jatuh menjadi musik Hawaiian untuk menemani minum jus jeruk di pantai, hampir semua lagu di album ini adalah kemajuan luar biasa. Single kedua ‘Cousins’ adalah ‘Oxford Coma’ yang diputar sepuluh kali lebih cepat dimana semua instrumen menjadi rhythm section yang menyalak. Lantas ada ‘Giving Up the Gun’ yang dimulai dengan potongan dari intro synth Radiohead ‘Let Down’ yang juga dipercepat tiga kali dari kecepatan aslinya. ‘Giving Up the Gun’ kemudian bermutasi menjadi versi lebih rumit dari ‘Cape Cod Kwassa Kwassa’ dengan perkusi polyrhythmis yang lebih meyakinkan. Dengan musik yang bagus seperti itu, tidak heran bahwa Contra beberapa waktu yang lalu berhasil menjadi album nomer satu versi majalah Billboard. Dan kalau Contra adalah pertanda zaman, mungkin ini juga menjelaskan kenapa sebagian besar anak muda Amerika Serikat pasca George W. Bush akhir-akhir ini lebih tertarik dengan produk-produk kosong dari industri entertainment seperti Jersey Shore, Gossip Girls atau the Hills. Sepuluh tahun yang lalu rock ‘n roll hampir diselamatkan oleh band yang masih memiliki naluri liar seperti The Strokes, The White Stripes atau Yeah Yeah Yeah. Kini saya masih belum mau percaya bahwa rock ‘n roll harus diselamatkan oleh kelompok musik se-steril Vampire Weekend. Band ini mungkin hanya versi yang lebih sekolahan dari the Hills. Sorry folks! * Tulisan lama Jakartabeat.net berisi review album pertama VW bisa di klik http://jakartabeat.net/musik/57.html
|
Baca Artikel Lainnya Hits: 253 Comments (4)
![]() written by taufiq, February 12, 2010
Errata: pagi ini saya membaca buku Tariq Ali berjudul The Clash of Fundamentalism dan mengingatkan saya kepada permasalahan yang sebetulnya mendasar bahwa saya telah terbalik dalam memberi atribusi kepada Contra dan Sandinista. The Clash benar ketika menamakan album mereka Sandinista karena ini adalah gerilyawan kiri yang pada akhirnya menang dan kemudian di lawan oleh Contra yang didukung Amerika Serikat (saya dapat nilai tidak terlalu bagus di pelajaran Sejarah). Namun ini juga kemudian semakin menunjukkan semakin jelasnya betapa apolitisnya Vampire Weekend. Mengenai kritik Saudara Rizal: saya kembali harus sekali lagi menegaskan bias ideologis saya yang mungkin sudah agak usang bahwa kesenian harus berpihak kepada semangat zamannya, ada alasan mengapa band semacam Rage Against the Machine atau bahkan Bruce Springsteen tetap relevan. Mungkin pada akhirnya mereka menjadi parodi diri mereka sendiri seperti wajah Che yang muncul di mug dan T-Shirt tapi di dalam kesenian meraka paling tidak ada upaya untuk mengatakan sesuatu. Tentang The Strokes yang hanya anak anak muda dari Upper West Side yang mencoba mencari jalan ke CBGB, paling tidak mereka tidak mencoba berpretensi menjadi lebih cerdas dari diri mereka sendiri yang sebenarnya dan bahkan bentuk formal dari musik mereka banyak mengatakan itu. Tentang Facebook sebagai penanda zeitgeist, saya bukan penganut Luddism, dan terlepas dari seberapa penting arti ekonomi dan sosial mereka, pada akhirnya mesin ini, sama seperti Google adalah sesuatu yang pada akhirnya melayani dirinya sendiri dan melayani komunitas pemakai tidak lebih dari sebuah afterthought.
Write comment
|
| Last Updated on Tuesday, 09 February 2010 21:45 |
Soal semangat zaman, feeling gue kok, justru vampire weekend inilah semangat jaman 2010an. Orang tak lagi bicara hal besar, karena yang menarik justru hal-hal kecil. Itulah kenapa twitter yang hanay 140 karakter itu laku keras dan lagu-lagu jaman sekarang tak pernah lebih dari 4 menit --karena ada terlalu banyak hal kecil menarik lainnya yang asik dijelajahi, sementara sehari masih tetap 24 jam. Dunia, apa boleh buat, di tahun-tahun ini semakin kecil-kecil kotaknya dan globalisasi bukannya menciptakan kultur yang homogen, tapi menciptakan perayaan atas hal-hal kecil itu.
Dengan demikian, Rage Against Machine, U2, Radiohead are so yesteryears, the way Elvis and The Beatles have been in 90s