Oleh Rizal Shidiq, mahasiswa George Mason University, Washington D.C. Disclaimer: Saya belum punya uang lebih untuk membeli vinyl album Contra dari Vampire Weekend (VW) Dengan demikian, segala penilaian mengenai kualitas musik mereka sepenuhnya bergantung pada kritik Taufiq sebelumnya di Jakartabeat.net ini. Mari berangkat dari sepotong kutipan di koran The Washington Post edisi Minggu 10 Januari 2010 lalu (http://www.washingtonpost.com/wp-dyn/content/article/2010/01/07/AR2010010704530.htm), saat saya pertama tahu Vampire Weekend mengeluarkan album kedua mereka, Contra: “...The Strokes were rich kids faking their way through some CBGB revival fantasy while Vampire Weekend wears its privilege without shame. From tousled coif to loafer...”
Membaca kalimat di koran tersebut pagi-pagi sambil minum kopi, saya nyengir dan dalam hati berkata seperti almarhum Umar Kayam: Touché!
Lalu tiba-tiba dua hari lalu, Jakartabeat.net memuat kritik Taufiqurrahman (TR) [silahkan klik http://www.jakartabeat.net/musik/306-album-contra-vampire-weekend.html] tentang album yang sama. TR menulis:
“...Vampire Weekend adalah kelompok musik yang hanya fasih secara estetis, namun nihil dalam menangkap zeitgeist masa senjakala pemerintahan George W. Bush waktu itu...”
dan
“...Dalam Bahasa Indonesia yang sederhana: Vampire Weekend adalah candu dan meminjam istilah yang sempat beken di musim pemilu presiden tahun 2008, Vampire Weekend adalah band yang elitis...”
Walah.
What is the masalah, TR? Bagi saya, hanya sedikit hal yang lebih menyebalkan dari orang kaya berlagak miskin, atau si mapan yang sok memberontak, Johny Rotten, dalam kitab suci The Punk, memaki Mick Jagger, Rolling Stones, dan orang-orang seperti mereka itu sebagai old farts. Atau bagaimana dengan kesepakatan kita untuk minta Bono untuk bernyanyi saja dan berhenti berkhotbah soal politik dan Afrika?
TR melanjutkan:
“...Untung saja semua anggota Vampire Weekend adalah pemain musik yang terampil, yang mampu meramu komposisi musik kelas satu yang sangat pop...”
dan
“...Dengan musik yang bagus seperti itu, tidak heran bahwa Contra beberapa waktu yang lalu berhasil menjadi album nomer satu versi majalah Billboard...”
Pemain musik yang terampil mampu meramu komposisi kelas satu dan menghasilkan musik yang bagus. Apa lagi yang mau diharapkan dari sebuah grup band, TR?
Goenawan Mohamad di tahun 60-an pernah menyebut ia hanya ingin menulis tentang burung gereja saat semua orang riuh bicara soal revolusi. Martin Amis menulis, atau entah siapa, saya agak lupa, bahwa lawan kata politik dan totalitarianisme adalah lelucon dan ketawa. Atau bagaimana kita sekarang agak kangen dengan Gus Dur, karena tak ada lagi yang suka dan berani iseng terhadap agama, politik, Pancasila (dulu), Tuhan (dari dulu sampai sekarang), dan hal ihwal serius lainnya.
Maka dengan ini saya membela keisengan dari tuntutan untuk menangkap zeitgeist; keharusan keluar dari perangkap elitisme; dan kewajiban mengganti kata ganti “I” menjadi “we” (apalagi “kepentingan nasional” atau “rakyat”). Sebab semua hal itu susah didefinsikan, kalau tidak mau dibilang mustahil.
Ada yang tahu kira-kira apa zeitgeist anak muda Amerika tahun 2010? Jersey Shore, Superbowl, Facebook, Sarah Palin, perang terorisme, pengangguran, Conan O’Brien, Obama, Haiti, iPad, religious revivalism, the death of conservatism, Beyonce, resesi, Wall Street, atau apa? Saya juga tidak tahu. Buat saya, zeitgeist adalah sesuatu yang sifatnya post factum dan banyak faktor kecelakaan sejarah di dalamnya. Misalnya, saya tidak bisa bilang ada angkatan 98, pas di tahun 98, apalagi sebelum Suharto jatuh.
Atau jangan-jangan, zeitgeist anak muda Amerika tahun 2010 bunyinya malah “iseng di sekolah, pangkal kaya”. Zuckerberg, Sergei Brin, Larry Page contohnya. Atau Vampire Weekend.
Lantas soal elitisme. Apa ukurannya? Saya punya ukuran tingkat ketidak-elitisan yang barangkali menyebalkan buat sebagian kita, yaitu nilai penjualan album (resmi atau bajakan) plus download legal dan ilegal, plus seberapa sering diputar di TV dan radio. Apa boleh buat , dengan begitu, album Kangen band barangkali contoh jelas bagaimana tidak terperangkap dalam jebakan elitisme. Bahwa kemudian VW laku mestinya berkah, karena kita dapat musik berkualitas bagus (katanya) dan sekaligus tidak elit.
Soal penggunaan kata ganti “I”. Saya ingat salah satu pelajaran berharga dari kelas penulisan akademik: jangan ragu gunakan kata ganti I. Pembaca tahu ini hasil pekerjaan individu (kalau penulisnya tunggal), tidak perlu dikaburkan dengan kata-kata “this paper”, “we”, “this study”. If you know what you write about, claim it, begitu kata dosen saya. Dalam bahasa sederhana: berani dikit, nape?
Jadi saya tidak terganggu soal VW selalu menggunakan kata ganti “I”. Lebih baik begitu, karena yang sahih adalah pengalaman individu. Dalam apa yang disebut pengalaman sosial selalu ada penertiban sampai taraf tertentu.
Dengan demikian, kredit terhadap kualitas musik VW tidak bisa dikurangi hanya karena mereka lebih suka iseng bercerita tentang tanda baca koma, tidak sok pemberontak teriak-teriak seperti Pansus, tidak bicara politik malah bicara sastra dan karya seni yang hanya sedikit orang tahu, dan bahkan tidak peduli ada kata ganti selain “I”.
Sebab, mengutip jagoan kita Soe Hok Gie, yang mengerti betul zeitgeist zamannya dan jelas bukan elitis; pada akhirnya adalah hari yang biasa sebab kita (halah, kita. Elo kali?) akan bosan terus bertanya-tanya tentang tujuan hidup yang tak satu setan pun tahu.
* Tulisan lama Jakartabeat.net berisi review album pertama bisa diklik http://jakartabeat.net/musik/57.html
|