Home Musik Kamar Gelap: Album Kedua Band "Penyelamat Musik Indonesia"
Kamar Gelap: Album Kedua Band "Penyelamat Musik Indonesia" Print E-mail
(2 votes, average 5.00 out of 5)
User Rating: / 0
PoorBest 
Sunday, 01 February 2009 12:03

Oleh Ciptadi Sukono, alumni ITB, bekerja di Jakarta

 

Saya selalu kagum dengan band beranggotakan trio. Pertanyaan dasarnya: bagaimana mereka bisa menggubah musik menjadi demikian penuh, hanya dengan berbekal 3 instrumen dan satu vokal? Bagaimana mereka menguasai panggung kala live show?

Tapi band-band besar itu membuktikannya: Rush yang berisik tapi kalkulatif. Lalu Emerson, Lake and Palmer (ELP) yang megah. The Police dengan ketukan-ketukan lincahnya. Muse yang bombastis. Dan belakangan, Keane, sebuah grup sweet-rock yang mengganti gitar dengan piano sebagai instrumen terdepannya.

Pop kontemporer kita memiliki juga band trio semacam ini, namaya Efek Rumah Kaca (ERK). Band ini sempat meniupkan badai besar di lingkaran musik indie, melalui album pertama mereka. Dirilis pada penghujung tahun 2007, ERK hadir seperti cabikan gitar yang membangunkan kantuk telinga pop/ rock alternatif Indonesia. Paduan lirik yang amat kaya, teknik bermusik yang lugas dan melodi yang inovatif, membuat ERK menjadi sebuah band alternatif par excellence: tak sekedar beda dan mendobrak. Mereka juga pintar, sekaligus enak didengar.

Album self-titled mereka, yang hanya laku di kisaran angka 5,000 keping itu, didapuk oleh Majalah Rolling Stone Indonesia sebagai salah satu dari 10 album terbaik di tahun 2007. Media menyebut mereka sebagai “penyelamat musik Indonesia”. Menyabet berbagai anugerah, termasuk: MTV music award, Rolling Stone award untuk Rookie of The Year, dan nominasi AMI award, yang umumnya didominasi oleh band major label. Dengan mindset  yang sengaja berjarak dari mainstream, Cholil, sang vokalis-gitaris, leader dari band ini, bersama kedua temannya meneriakkan slogan: “Pasar bisa diciptakan!”

Ada juga ironi dari ERK. Band ini boleh dibilang projek sambil lalu. Cholil, lead vocal-nya, masih tercatat sebagai seorang akuntan. Demikian pula dengan Adrian, bassist mereka yang amat pendiam dan sering terkesan kikuk di panggung. Ia seorang karyawan perusahaan kalibrasi. Hanya drummer mereka, Akbar, yang menjadi musisi profesional: seorang session player. Kekayaan eksplorasi ketukan drum ERK, terutama di Kamar Gelap, adalah testimoni dari profesionalisme ini. Perlahan, Akbar mengambil peran yang sama dengan apa yang dilakukan Stewart Copeland di The Police: menciptakan pigura untuk komposisi-komposisi mereka.

Yang keren, meski dengan formasi ganjil ini, kualitas ERK boleh dibilang menjulang ke angkasa dibandingkan dengan band-band seangkatannya. .

Beberapa waktu yang lalu, setelah setahun menanti, saya menemukan album kedua mereka, Kamar Gelap, yang adalah juga judul salah satu lagunya. Sebuah pernyataan tentang cara bermusik dan proses kreatif mereka, yakni memotret realitas. Memindahkan negatif menjadi gambar tercetak melalui kamar gelap. Semacam kesaksian. Mencoba “membekukan yang cair, dan mencairkan yang beku..”

ERK akan mengingatkan kita pada: Radiohead (album-album awal mereka, Pablo Honey dan The Bends), yang nuansanya kentara sekali pada lagu “Jangan Bakar Buku”. Lalu Oasis (album terakhirnya, Dig Out Your Soul), serta melankolia-nya Coldplay di album pertama dan keduanya minus piano (lihat “Lagu kesepian” dan “Kamar Gelap”). Sesekali Guruh/Eros/Yockie dengan pop 70-an mereka menyelinap juga, termasuk dalam puitika lirik-lirik ERK.  Pada “Mosi Tidak Percaya” teman-teman akan mendengar garukan musik Punk Rock yang meledak-ledak.

Lucunya, kalau sedang riang sekali, ERK benar-benar saudara kandung Shile On 7. Penuh gurauan dan goyang. Membuktikan bahwa deep down inside, ERK adalah sebuah rock and roll band.

Tentang Kamar Gelap

Banyak band yang mengalami krisis identitas pada album kedua mereka, menyusul album pertama yang sukses. Keane, yang saya sebut di awal tulisan ini, adalah salah satu contohnya. Sambutan yang bagus pada Hopes and Fears (2003) disusul dengan eksperimentasi setengah jadi pada Under The Iron Sun (2006).

Kamar Gelap adalah contoh sebuah evolusi yang mendarat dengan manis. Melanjutkan tradisi alternatif pada album pertama  mereka, dan memperluasnya dengan ragam eksperimentasi, Kamar Gelap dimulai oleh satu lagu bertema “sekarat/sakau”, yang dilantunkan dengan nuansa bosanova dan petikan gitar yang melayang damai. Tragedi dan kehampaan dilantunkan seperti layaknya puisi tentang sore yang tentram.

Album ini memang mengangkat banyak sekali sisi gelap, meski tak jarang dituturkan dengan irama yang amat positif. Simak saja “Kenakalan Remaja di Era Informatika”: single pertama mereka dari album ini, yang terinspirasi oleh penggunaan HP untuk sex video oleh para remaja. Mengingatkan kita pada keluguan lagu-lagu milik Sheila On Seven, namun dengan permainan lirik kritis ala Rendra pada Swami. Enak dikunyah, tanpa menjadi cengeng...

Lalu melalui “Banyak Asap di Sana” dan “Mosi Tak Percaya” ERK mengisahkan kebobrokan oknum di lembaga legislatif, salah urus pembangunan, beserta korban-korbannya. Tema ‘politik para penguasa’ tak banyak diolah pada album pertama, tapi menjadi menonjol sekali di album ini. Belum lagi “Menjadi Indonesia”, sebuah lagu patriotis, dengan ketukan drum yang ganjil, dan petikan gitar lembut yang lebih cocok untuk lagu-lagu rayuan.

Lekas,

Bangun dari tidur berkepanjangan,

Hei cuci muka (Indonesia),

Biar terlihat segar,

Rapikan wajahmu,

Masih ada cara menjadi besar..

 

Sementara “Jangan Bakar Buku” seperti mengulang tema lagu pembuka di album pertama mereka. Meneriakkan perlawanan terhadap kekerasan dalam bentuk pemberangusan dan penyeragaman. Di dalam lagu “Hujan, Jangan Marah”, Adrian menuliskan doa, menghiba banjir dan musibah air lainnya tak datang, walau kekerasan terhadap alam terus-terusan diulang.

Tak lupa, dua lagu cinta, tersempil di antara ke-12 lagu di album ini. Seperti biasa, keduanya hadir tanpa sekalipun menyebut kata “cinta”. Kali ini tentang seorang laki-laki pemalu, yang selalu ragu, dan rasa cinta yang tak kunjung terungkapkan. Juga tentang pasangan yang tidak nyambung-nyambung..

Melengkapi ekspresi musik di dalamnya, album ini juga ditemani oleh 12 gambar hasil jepretan Angki Purbandono, seorang fotografer berbasis Yogya yang memaparkan gambar-gambar realis, kelabu, dan mengundang tanya.

Tanpa penjelasan, saya menduga gambar-gambar ini merupakan visualisasi  ke-12 komposisi di album ini. Mengingatkan Anda pada album-album Peter Gabriel (terutama OVO dan Up) yang kerap terhiasi oleh karya grafis dan gambar-gambar yang memancing imaji.

Secara umum, dibandingkan dengan karya mereka sebelumnya, Kamar Gelap terasa lebih berat. Tekstur yang nyleneh, kadang terkesan monoton, dan tikungan melodi yang penuh kejutan membuat album ini tak gampang dicintai. Perlu pengulangan untuk memergoki tebaran keindahan didalamnya.  Nevertheless, dengan semua catatan tersebut, Kamar Gelap tetap sebuah album yang kuat. Tiap lagu sama serius, sama nekatnya. Kental dengan karakter indie dan setia dengan janji alternatif mereka. Mengalir tanpa beban, ala ERK.

Di sisi lain, percobaan mereka untuk flirting dengan irama waltsa, bossas dan punk serta ketukan-ketukan ganjil progressive rock, juga seakan menjadi penanda bagi eksplorasi musikalitas mereka di tahap berikutnya.

Kalaupun ada satu yang terasa amat mengganggu dari musik ERK, maka hal itu adalah kualitas rekaman mereka yang demikian tipis, dan sesekali terkesan keruh. Ciri indie label! Tapi, mungkin disitulah charm-nya…

Tak sampai dua minggu setelah pertama kali muncul di rak toko CD, album “Kamar Gelap” melejit masuk ke dalam top-10 album terlaris di banyak chart. Untuk pertama kalinya, saya melihat sebuah band indie duduk di tangga pertama CD terlaris di Aquarius Mahakam, selama berminggu-minggu. Barangkali sebuah pertanda, bahwa apresiasi kita mulai beranjak dewasa.

Lastly, musik yang bagus, lirik yang pintar. Dan rekaman yang jelek. Tapi dibayar dengan gambar-gambar penuh tafsir. Layak dibeli, dan pastinya layak dikoleksi.


Ciptadi Sukono
About the author:
Ciptadi Sukono, bekerja di sebuah perusahaan multinasional sebagai Trade Marketing Head. Ia amat menikmati kemacetan Jakarta, yang membuatnya bisa jejingkrakan mendengarkan musik yang paling dia sukai melalui tape di mobilnya. Penyuka anak, travelling, makanan, komik, film; dan seni ini sedang belajar menulis. Ciptadi menyelesaikan studi Informatika di ITB dan Master of Marketing, Vlerick Management School, Belgia.
Read More >>


Comments (3)Add Comment
0
...
written by ciptadi, February 17, 2009
@ Yurie
Terimakasih juga buat ERK yang sudah bikin musik bagus. I think indonesian listener needs your kind of musik. Keep up the good work yah, tim ERK!! smilies/smiley.gif

@ Ichal
I think they deserve all the praises. Soalnya emang bagus banget.. Setuju. Saya juga nonton mereka di JRP.
0
...
written by yurskie erk, February 16, 2009
Salam kenal bung cipto,
Merinding dan terharu membaca review-an ini, dengan rendah hati kami management erk mengucapkan banyak terima kaih atas suport dan dukungan kepada kami. Saya juga ingin meminta ijin bolehkah tulisan bung Cipto saya publish di facebook kami dengan link tetap ke jakartabeat.net??

Terima kasih sekali lagi.

salam

Yurie
0
...
written by iChaL, February 09, 2009
saya menyebutnya, sebuah band yang cerdas...
bosan juga,,dimana-mana smua org memujinya, tapi memang dia pantas untuk dipuji...hehe...

kemaren sempat nonton konsernya,,,keren banget...salut lah bwt mereka...smilies/wink.gif

Write comment
smaller | bigger

security code
Write the displayed characters


busy
Last Updated on Wednesday, 20 January 2010 12:10
 
Banner
Banner
Make sure you have at least Flash Player 7. If not,please download.
Banner

Who's Online

We have 8 guests online

Follow Us On

Facebook Group: 50072354705 Twitter: jakartabeat