|
Friday, 25 December 2009 21:09 |
|
Oleh Ucok "Homicide" Pengantar Redaksi: Sebenarnya musisi sekelas Herry “Ucok” Sutresna dari hip hop kolektif Homicide tidak perlu lagi perlu diperkenalkan. Jurnal Inside Indonesia yang terbit di Australia menulis Homicide sebagai band hip hop veteran yang “overtly political and with their aggressive style and confrontational on-stage oration, Homicide has collected a loyal fan base and a notorious reputation.” The Jakarta Post menulis band Ucok sebagai band paling cerdas (cerebral) yang pernah muncul di belantika musik Indonesia dan album mereka Nekrophone Dayz: Remnants and Traces from the Days Worth Living masuk sebagai album terbaik Indonesia dekade pertama abad 21. Tanda kalau mereka punya kredibilitas; bubar sebelum menjadi parodi diri mereka sendiri. Larilah kawanku, ke dalam kesendirianmu! Kulihat kau jadi tuli oleh suara riuh orang-orang besar dan tersengat oleh orang-orang kecil. Hutan dan karang tahu benar bagaimana jadi membisu bersamamu. Jadilah engkau seperti pohon kembali, dengan tenang sepenuh hati ia menjulurkan dirinya ke laut. Dimana kesendirian berhenti, pasar pun mulai, mulai pula lah riuh rendah para aktor besar dan desau kerumun lalat beracun.” - Sabda Zarathustra, Nietzsche Adalah John Cage, pada tahun 1952, melakukan sebuah proyek yang berhubungan dengan kepenasaranannya terhadap kesunyian. Berawal dari rasa skeptisnya terhadap apa yang disebut ‘keheningan’, ia melakukan observasinya mengunjungi tempat-tempat yang ia harap dapat menemukan ‘ketiadaan suara’, dan hasilnya sungguh tak ia harapkan; Cage tak menemukan apa yang ia sebut ‘total silence’. Dimanapun itu “ketiadaan suara adalah hal yang mustahil” ujarnya ketika ia berada dalam ruangan anechoic di Harvard University, sebuah ruangan yang dapat membuat seseorang mendengar suara apapun yang dihasilkan dalam ruangan tersebut bahkan sirkulasi darah dan detak jantungnya sendiri.
|
|
Last Updated on Saturday, 02 January 2010 11:39 |
|
|
Written by redaksi
|
|
Wednesday, 14 October 2009 01:41 |
|
Album yang paling mempengaruhi saya adalah album Grace milik Jeff Buckley. Nampaknya sudah tidak perlu banyak lagi yang bisa dijelaskan lagi tentang Jeff Buckley. Dia memiliki suara emas, komposisi yang menarik, eksperimental pada zamannya yang saya kira sampai sekarang masih cukup eksperimental. Lagu-lagunya banyak yang manis. Saya sampai sekarang masih suka yang gelap-gelap dan itu ada semua di album Grace. Lagu-lagu gelap yang saya maksud adalah lagu-lagu semacam “Lilac Wine”, “Lover You Should Have Come Over”, “Hallelujah”, sampai lagu “Grace” sendiri dimana Jeff Buckley melolong menyanyikannya. |
|
Last Updated on Friday, 16 October 2009 12:58 |
|
Wednesday, 26 August 2009 06:44 |
Album paling berpengaruh buat saya adalah album eponymous alias tanpa judul Tracy Chapman. Saya menemukan album ini ketika saya sudah masuk dan bergaul dengan teman-teman di Gang Potlot (yang juga markas kelompok musik Slank). Kalau saya bepergian sama teman teman, kaset itu wajib ada di mobil. Tracy Chapman, Bob Marley sama album Counting Crowes berjudul August and Everything After. Album-album tersebut kayaknya yang menemani hari-hari saya. Dulu kami mendengarkannya dalam bentuk kaset, belum ada compact disc (CD). Semua enak di dengarkan di jalan karena lagunya khan ballad. Tracy Chapman adalah artis yang mempengaruhi saya selain Eddie Brickel and the New Bohemian yang mempengaruhi saya secara musikalitas. Baru di sekitar tahun 2000-an saya mulai mendengarkan musik-musik Joni Mitchell dan Joan Baez. |
|
Last Updated on Sunday, 13 December 2009 00:25 |
|
Sunday, 14 June 2009 19:53 |
|
Oleh Dewi Lestari, anggota Rida Sita Dewi (RSD), penulis novel High time we made a stand, shook up the views of the common man And the love train rides from coast to coast, DJ’s the man we love the most Could you be, could you be squeaky clean, and smash any hope of democracy? As the headline says you’re free to choose, there’s egg on your face and mud on your shoes One of these days they’re gonna call it the blues Dinyanyikan dalam tempo cukup cepat, lirik di atas lumayan bikin mulut belepotan. Lagu “Seeds of Love” dari Tears for Fears memang berlirik padat, kelegaan kata hanya didapat di refrain-nya saja. Lagu yang menantang untuk dihafal, apalagi buat anak SMP. Dan karena itulah waktu SMP dulu, saya menenteng secarik kertas bertuliskan lirik “Seeds of Love” ke mana-mana. Setiap ada waktu kosong, saya mengambilnya dari saku lalu menyanyikannya. Untuk mengetes memori, saya sering menuliskannya ulang di halaman paling belakang buku tulis sekolah. Sedemikian tergila-gilanya saya dengan Tears for Fears. |
|
Last Updated on Sunday, 13 December 2009 00:26 |
|
Monday, 27 April 2009 22:44 |
|
Oleh Arian13, vokalis band Seringai
Adalah tahun 2009, ketika saya kembali memutar album Reign In Blood dari band metal Slayer, feeling saya tetap sama seperti ketika saya pertama mendengarkan album ini di tahun 1987: seperti ditampar berkali-kali, seperti menjelaskan bagaimana seharusnya musik heavy metal yang intens dimainkan. Ya, ‘intens’ adalah kata yang tepat untuk mendeskripsikan Reign In Blood. Pertengahan 1980an, saya masih mencoba belajar main skateboard di Bandung bersama teman-teman sekolah menengah pertama, dan juga baru mulai mendengarkan heavy metal. Sampul album musik heavy metal yang umumnya komikal amat menarik saya, seperti melihat sebuah poster film horor. Band-band seperti Iron Maiden, Judas Priest memicu ketertarikan saya kepada musik jenis ini. Dan sepertinya rasa haus ingin mendapatkan musik yang lebih ekstrim dan lebih ekstrim semakin membesar. |
|
Last Updated on Sunday, 13 December 2009 00:29 |
|
|
|
|
|