Saat Eothen 'Egon' Alapatt dan Jason Connoy merilis kompilasi Those Shocking Shaking Days, kehebohan melanda. Seperti ada sosok penjelajah Indiana Jones yang berkelana dan menemukan artefak budaya penting untuk kemudian dikembalikan ke penduduk setempat. Berbagai jenis media, mulai dari lokal hingga franchise, menyorotnya. Beragam komentar menyembur.
Namun 14 tahun sebelum Connoy dan Egon merilis kompilasi itu, ada seorang penjelajah lain (penjelajah betulan tanpa tanda kutip) yang tergerak untuk mengumpulkan artefak-artefak indie yang saat itu tercecer dari scene yang masih tergolong muda. Penjelajah itu bernama Luk Haas. Pria asal Perancis kelahiran 1963. Meski belum pernah bertemu secara langsung dan hanya sekadar chatting, saya bisa menilai bahwa Haas orang yang ramah dan santai.
Suatu hari di tahun 1997, ia mendarat di Bandung setelah sebelumnya berada di Afghanistan. Di Kota Kembang ini, Haas menemukan scene yang potensial dan sarat band-band bagus. Ia terkesan dan memutuskan untuk merilis kompilasi bersejarah Injak Balik! Bandung Underground Comp. dalam bentuk 7” yang berisi Puppen, Runtah, Turtles Jr dan beberapa band lain. Meski kompilasi tersebut bukan yang pertama, paling tidak ia telah membantu menyebarkan pesan dan musik Indonesia. Luk Haas merilisnya sebanyak 500 kopi dan 20 persen atau sekitar 100 kopi ia kirimkan kepada band-band yang turut serta sebagai royalti.
Bukan tanpa alasan saya menyebut Haas sebagai penjelajah. Sejak usia 18 ia sudah hobi traveling sambil menceburkan diri dalam alunan musik punk. Selepas kuliah di Université de Strasbourg ia bekerja untuk ICRC (International Committee of Red Cross) sebagai Head of Mission. Entah disengaja atau tidak, Pekerjaan ini ternyata klop dengan passion-nya yang mengharuskan Haas untuk keliling dunia. Tak heran jika dalam kurun tiga dekade ini Haas telah mengunjungi 120 negara. Ini membuat Haas seperti tak punya rumah. Ia tak pernah menetap di suatu tempat dalam waktu lama. Namun sejak beberapa tahun lalu Haas memutuskan menetap di Georgia yang ia anggap sebagai rumah.
Pada 1993 ia mendirikan label rekamannya, Tian An Men 89 (TAM89) Records – sebuah one-man DIY project, seperti tercantum di fanpage Facebook-nya. Misi dan fokusnya jelas: merilis musik milik band-band punk dari negara-negara yang selama ini tak tersentuh media massa dalam hal budaya. Misi label ini pun ternyata klop dengan pekerjaan utamanya. Setiap kali ada perjalanan tugas, Haas selalu menyempatkan untuk riset scene punk di suatu negara. Usaha ini tentu tak mudah. Dengan waktu yang terbatas dan tidak ada dukungan perangkat komunikasi digital, Haas kadang harus keluar masuk stasiun radio dan toko rekaman untuk mencari sebuah scene atau band punk.
Dari semua kecintaan dan usaha keras itu, Haas telah merilis musik milik band-band Timur Tengah, Eropa Timur, China, Asia Tenggara dan Negara-negara bekas Uni Soviet. Semua dirilis dalam format vinyl karena menurut Haas, “vinyl is the ultimate format.”
Selama lebih kurang 20 tahun sejak kemunculan pertamanya, TAM89 baru merilis 30 judul (termasuk kompilasi) dan baru bisa menjual 400 kopi rilisan (bandingkan dengan Havoc Records yang telah menjual lebih dari 250.000 kopi judul 14 tahun sejak kemunculannya). Sementara setiap rilisan ia rilis terbatas sebanyak 500 kopi. Tentu ini bukan sebuah bisnis yang menguntungkan dan jelas bahwa ia terus merugi. Namun sekali lagi, Haas melakukannya karena kesukaan, bukan karena uang.
Distribusinya pun sangat terbatas. Selain dijual lewat sistem mail order lewat TAM89, tercatat label ini hanya memiliki 2 distributor resmi yang berada di Perancis (Darbouka Records) dan S_S Records di Amerika Serikat (semua distribusi itu juga dilakukan oleh perorangan, bukan sebuah toko/distro mapan). Sangat berbeda dengan label yang mengklaim indie tapi memiliki strategi yang tak kalah dengan label raksasa.
Label ini memang bukan ladang pencaharian. Semua murni passion dan kecintaan untuk mengangkat band-band yang selama ini tak pernah begitu terdengar suaranya. Bagi saya pribadi rilisan-rilisan TAM89 seperti membuka mata, bahwa di luar sana, di negara-negara yang “asing” di telinga saya, terdapat beberapa band yang masih berjuang (benar-benar berjuang) untuk bermain dan mengeluarkan suaranya.
Saya pribadi merasa “tersentuh”, ketika saya sibuk mencari album-album milik band-band established, Luk Haas sibuk menjelajah sudut-sudut negara yang selama ini teramat asing, seperti antah berantah. Semua demi menemukan sebuah musik yang tak ada dalam peta atau radar hipster anda. Musik yang selama ini hanya didominasi oleh dan terdengar dari negara-negara mapan seperti Swedia, Jepang, atau British.
Akhirnya saya bertemu dengan sosok berjenggot tebal ini lewat jejaring sosial. Dia sesekali menjawab dengan bahasa Indonesia. Tanpa ragu lagi saya meminta izin untuk wawancara, ia pun menyambutnya dengan hangat. Di sela-sela waktu kerja yang super sibuk, ia masih menyempatkan diri untuk menjawab beberapa pertanyaan. Berikut petikan wawancaranya.
***
Bisakah anda memperkenalkan diri kepada pembaca?
Saya Luk Haas, saya berdarah Perancis tapi tumbuh di perbatasan Jerman dan datang dari minoritas yang berbahasa Jerman. Sejak 1983 saya sudah menyukai punk dan bergelut di dalamnya. Saya juga mendengarkan beragam style musik non-mainstream saat ini. Saya mendirikan label TAM89 pada 1993 setelah melakukan perjalanan ke berbagai negara yang menarik, di mana saya bertemu banyak band keren dan scene yang selama ini seperti tersembunyi dari peta musik dunia.
Bagaimana anda menemukan punk dan apa yang membuat anda tertarik?
Saya menemukan musik punk selama perjalanan saya ke Polandia pada 1983. Saya berusia 20 tahun waktu itu. Dan itu adalah perjalanan pertama saya di balik Tirai Besi. Teman Polandia saya mengenalkan rock Polandia secara general dan beberapa musik punk. Itu adalah penemuan yang sangat hebat: kreatif, penuh pemberontakan, cerdas dan sebuah bentuk perlawanan terhadap sistem totaliter.
Label TAM89 telah beroperasi hampir 20 tahun, bagaimana anda mengatur waktu untuk mengurusnya, sementara anda juga memiliki pekerjaan utama yang mengharuskan anda untuk bepergian ke luar negeri?
Ya, saya memang memiliki pekerjaan yang membuat saya terus bepergian sejak 1996 dan saya harus mengadaptasi ritme perilisan label demi pekerjaan. Saya selalu berusaha mendapat paling tidak 3 bulan libur setelah bekerja dalam waktu lama untuk konsentrasi ke label. Saat ini waktu untuk bekerja lebih lama, jadi saya hanya bisa merilis album setiap 18 bulan atau 2 tahun. Sangat menyedihkan, tapi hidup keras dan tanpa bekerja tidak akan ada rilisan. Namun saat ini jauh lebih mudah untuk berhubungan dengan orang-orang sejak ada internet, dan ini berarti saya dapat menyiapkan rilisan dari jarak jauh. Semua sudah siap ketika saya pulang.
Sebelum era internet, saya berhubungan dengan banyak band melalui surat. Saya ingat ketika mendapat banyak surat dari China, Kazakhstan dan Negara lain setiap minggu di PO BOX saya di pedalaman Uganda utara pada 1997. Setiap surat membutuhkan berminggu-minggu untuk sampai ke tangan. Sekarang semua seba instan. Di sisi lain, saya tidak terlalu ambil pusing soal distribusi atau penjualan. Untuk hal ini saya serahkan semua ke teman baik saya, Fred dari Darbouka Records di Perancis.
Apa cerita di balik kompilasi Injak Balik? Bagaimana anda menemukan Bandung dan band-band nya?
Saya berkorespondensi dengan Arian Puppen saat saya masih di Afghanistan tahun 1996. Saya memutuskan untuk ke Bandung dan menghabiskan beberapa minggu di sana. Perjalanan panjang sebetulnya. Saya naik pesawat dari Herat ke Kabul, Kabul ke Peshawar di Pakistan. Itu adalah kunjungan pertama saya ke Indonesia dan benar-benar hebat! Saya menyukai semua di sana. Saya menemukan orang-orang yang fantastis, band-band hebat dan scene yang bagus. Saya merasa nyaman dan sangat disambut. Saya menawari mereka untuk merilis vinyl. Setelah seminggu, saya pulang ke Afghanistan. Tak berapa lama kemudian kompilasi itu dirilis.
Merilis kompilasi tentu memakan waktu lama khususnya untuk melakukan riset dalam scene, menemukan band, dan mencari master file, sementara saya yakin anda tak memiliki banyak waktu. Bagaimana anda mengatur itu semua?
Ya, sebenarnya jelas memakan waktu. Saat ini saya bisa melakukannya dengan lebih mudah karena saya bisa mengaturnya dari jauh, dengan teknologi khususnya. Dan karena saya merilis album sekitar 2 tahun sekali, saya punya banyak waktu untuk menyiapkannya setelah tinggal di negara tertentu. Untuk perjalanan saya merencanakannya jauh-jauh hari. Saya akan ke Maladewa bulan depan dan sudah mengontak band-band di sana.
Apa ada alasan khusus kenapa anda memilih band-band yang dimasukkan dalam kompilasi Injak Balik? Atau anda memiliki standar artistik sebelum melakukan deal dengan band?
Satu-satunya alasan memasukkan band-band tersebut adalah selera personal saya. Saya memilih yang saya suka. Tapi orang-orang di dalam band juga harus orang-orang yang baik. Good friends obviously.
TAM89 telah beroperasi sejak teknologi seperti ponsel dan internet “sangat mewah”, saat banyak orang di Asia Tenggara tak memiliki akses ke sana. Bagaimana anda dulu menemukan band-band di Timur Jauh, Eropa Timur dan Asia?
Kamu tahu, internet di mana-mana ada, dan murah pula. Hanya di Korea Utara yang tidak memiliki jaringan internet untuk masyarakat. Kebanyakan orang-orang di band sudah terkoneksi. Sebelum era internet, semua lebih rumit. Saya bepergian dan mencoba menemukan band, bertanya kesana kemari di toko musik, toko gitar, majalah, dan lain-lain. Benar-benar kerja yang intensif!
Karena internet sekarang ada di mana saja, tentu lebih mudah bagi anda untuk menemukan band-band underrated. Tapi kemudahan tersebut juga memicu keseragaman. Banyak band-band lokal tinggal mendengarkan musik dan mengkopinya dalam formula mereka. Menurut Anda?
Ya benar sekali. Di satu sisi, anda akan menemukan banyak band di banyak tempat. Di sisi lain, diversitas akan berkurang. Benar. Maka riset saya akan terkonsentrasi pada kualitas band, orisinalitas, daripada hanya sekadar “satu-satunya band di kota” hahaha. Musik adalah proses kreatif. Jadi yang paling bertalenta tetap akan menginspirasi untuk menghasilkan musik yang bagus. Tidak diragukan lagi.
Saya membaca tagline label anda “Punk Rock Exotica”, sepertinya ini akan memicu isu-isu macam orientalisme bagi orang-orang yang berpikir sempit. Karena ketika orang Barat menemukan musik timur dan memandang dari kacamata “Barat” mereka, di situlah bermacam tuduhan akan dialamatkan. Banyak pula label yang merilis musik dari negeri-negeri jauh, tapi tidak tahu misi mereka sebenarnya apa, hanya rip off atau mencari popularitas saja. Bagaimana dengan Anda?
Betul. Pertanyaan yang sulit. Saat anda memproduksi rekaman, jelas anda ingin menyebarkannya dan mendapat perhatian orang-orang. Tidak banyak cara untuk mendefinisikan TAM89, saya sering memikirkan ini. Sebetulnya saya tidak suka menempelkan label “eksotik” pada orang atau negara, ini murni western-centered, atau imperialistik, jika Anda mau menyebutnya seperti itu. Tapi dengan menyebut “punk rock” sebuah eksotika, saya ingin melunakkan efek buruk semua hal itu. Bagi saya orang-orang atau negara bukanlah eksotik, tapi musiknya.
Saya telah menghabiskan banyak waktu di luar negeri, di semua benua, saya belajar/bicara dengan banyak bahasa seperti China, Korea, Rusia, dan lain-lain. Saya merasa di rumah dan familiar di beberapa negara. Saya bisa berhubungan dengan banyak orang dengan mudah. Dan saya ingin membuat ikatan dengan mereka, dengan band. Semacam ikatan dan nilai-nilai persahabatan. Dan membantu untuk menyebarkan musik mereka. Saya harap orang-orang memahami ini. Tapi menjelaskan itu semua seperti ini tentu akan panjang lebar dan orang-orang tidak akan tertarik untuk “memperumit sesuatu”. Saya tidak tahu label apa yang anda maksud. Jika mereka rip off, saya pikir itu adalah hal yang memalukan. Terlalu banyak ketidakadilan dan orang-orang yang tidak jujur di dunia. Tapi itulah dunia. Sebuah perjuangan.
Sedangkan penggambaran situasi mereka yang terisolasi mungkin lebih kepada scene yang memiliki sedikit koneksi, dan mengembangkan semacam otonomi. TAM89 membantu mereka untuk mendapat koneksi. Saya tidak bermaksud menggunakan kata terisolasi dalam sense of exclusion dari liyan. Sebaliknya, saya ingin menciptakan banyak kesempatan pada mereka. Dan punk tidak seharusnya sama di manapun juga. Punk itu berbeda-beda. Punk beradaptasi dengan budaya, bahasa, dan tempat yang berbeda-beda. Itulah mengapa punk sangat menarik.
Karena vinyl sedang naik daun beberapa tahun terakhir dan sisi historis kompilasi Injak Balik, sekarang harganya mencapai jutaan rupiah. Bagaimana perasaan Anda?
Benarkah? Benar-benar gila. Sekali lagi itulah dunia. Saya harap saya bisa merilis ulang kompilasi itu dan menjualnya dengan murah pada orang-orang yang peduli. Tidak ada alasan kenapa musik harus semahal itu. Tapi faktanya orang-orang memang suka mengkoleksi. Tapi saya terkejut bahwa orang-orang itu mau membayar seharga itu. Saya mengerti nilai historisnya, dan mungkin nilai sentimental-nya. Dan musiknya hebat. Tapi jika anda menginginkan musiknya, anda bisa mendapatkannya dengan mudah tanpa vinyl-nya. Mungkin suatu saat nanti saya akan merilis ulang kompilasi itu dan beberapa judul yang sudah habis. Jika saya punya waktu.
Anda sudah berkeliling di lebih dari 120 negara, saya pikir anda sudah melakukan banyak hal demi budaya punk. Apa lagi tujuan hidup Anda?
Hmm, tujuan saya dalam punk adalah menjaganya tetap hidup, tetap relevan, tetap tersebar dan untuk membentuk ikatan. Dunia kadang tidak adil. Jika punk, dengan idealismenya, membantu orang-orang membangun jembatan persahabatan lintas budaya dan negara, berpartisipasi secara global dengan adil dan respek, itulah yang kita butuhkan.
Apakah saya seorang idealis? Ya, without hope and without goodwill. Saya juga sangat realistis. Saya telah melewati banyak zona perang, melihat banyak kengerian. Manusia kadang bisa sangat menjijikkan. Maka kita harus selalu mencoba yang terbaik.
Dari semua rilisan TAM89, apa favorit Anda?
Ah pertanyaan yang sulit. Hhhm, untuk band favorit, saya benar-benar tidak bisa menjawabnya. Saya menyukai semua band yang saya produseri, kadang dengan alasan yang berbeda-beda.
Pertanyaan terakhir, nama label anda sepertinya sangat bermuatan politis. Apa cerita di balik nama itu?
Saya memiliki hubungan khusus dengan China: Negara Asia yang pertama kali saya kunjungi dan bahasa Asia yang pertama saya kuasai. Saya merasa sangat dekat dengannya. Ha, saya pertama kali pergi ke sana pada 1987, dan sangat menyukainya meski berat. Saya mulai belajar bahasa China di universitas pada 1988 setelah pulang dari China.
Lalu 1989 datang, kebanyakan Negara Eropa Timur yang menganut sistem komunis/totaliter runtuh. Menyenangkan. Tapi pada tahun itu pula otoritas menghancurkan harapan para mahasiswa China. Saya berdemonstrasi di Perancis bersama teman-teman dari China, bahkan dosen saya yang asal Beijing juga turut berdemonstrasi. Benar-benar tragedi dan murni tindakan totaliter. Brutal.
1989 benar-benar tahun yang penting bagi saya, tentang rasa sakit dan kenikmatan. Saya beberapa kali pergi ke China lagi, dan melihatnya dengan kagum bagaimana sistem itu berganti pelan-pelan. Menarik. Saya pikir nama label itu kurang realistis saat ini, tapi sangat bermuatan politis kala itu. Saya kepikiran untuk mengganti nama itu tapi sangat susah setelah 20 tahun berjalan.




Comments