Konser (50)
by
Farchan Noor Rachman -
Published in
Konser
Saya tak tahu harus mulai darimana untuk menulis soal konser Sigur Ros Jumat malam lalu (10/05). Saya bukan penulis musik yang bisa mengulas konser dengan apik, menjelaskan detail konser dan instrumen, saya juga bukan penulis soal musik yang kemudian dikaitkan dengan falsafah, sejarah apalagi teori-teori sosial. Saya pun rasanya bukan apa yang mereka sebut hipster, pecinta post rock sejati atau apalah itu, karena saya di suatu kali playlist penuh dengan musik hura-hura ala Pitbull, Flo Rida, Calvin Harris sementara di waktu lain saya bisa terbawa ke alam lain dengan musik musik ritmis ala Sigur Ros, God Is An Austronaut, Russian…
Read 846 times
by
Nuran Wibisono -
Published in
Konser
Malam Minggu (23/3), Jogja sedang cerah. Kalau tidak mau dibilang gerah. Sedari siang keringat agak susah dihentikan. Namun cuaca yang cerah dan gerah itu jadi berkah bagi banyak orang. Pengusaha laundry misalnya. Atau penjual es kelapa muda. Dan... para panitia serta penonton gelaran Japanese Whispers #2. Acara yang diadakan oleh komunitas Common People ini sudah menjadi semacam pertukaran budaya melalui band. Pada gelaran Japanese Whispers pertama (2011), band shoegaze veteran Jepang, Texas Pandaa, datang dan tampil di Yogyakarta. Lalu pada tahun 2012, giliran band tweepop andalan Yogyakarta, Brilliant at Breakfast yang menyambangi Tokyo dan tampil di beberapa venue. Lalu akhirnya…
Read 1440 times
by
Aris Setyawan -
Published in
Konser
Rumah itu terletak di sebuah gang sempit di kawasan Bugisan, Yogyakarta. Di depannya terbentang pemandangan sawah luas. Rumah itu adalah markas dari Teater Garasi, sebuah tempat yang mewadahi kesenian teater, musik dan lain sebagainya. Dan mendadak pada Kamis malam, 7 Maret 2013 lalu rumah di gang sempit pinggiran kota itu penuh dengan ratusan orang. Dress code ratusan yang hadir itu seolah disulap sama: tipikal para scenester dan pemburu musik cutting edge. Ya, ratusan orang yang memadati Teater Garasi malam itu sedang menghadiri konser musik. Dan konser tersebut bertajuk “Suara Tujuh Nada.” Suara Tujuh Nada adalah konser tur 3 kota yang…
Read 1431 times
by
Taufiq Rahman -
Published in
Konser
Sesungguhnya keajaiban terbesar Britpop adalah The Stone Roses! Untuk band yang hanya memiliki dua album (satu istimewa dan satu lagi biasa-biasa saja), pemujaan terhadap band ini sampai kepada tingkat yang tidak masuk akal dan dengan ekses yang agak komikal (topi pancing, joget keramas, goyang monyet?). The Stone Roses bukankah sebuah band politis selayaknya The Smiths, yang selain memiliki album lebih banyak, juga lebih rajin mengkampanyekan vegetarianisme dan anti-monarki misalnya. Lirik The Stone Roses —di luar “Elizabeth My Dear” dan lukisan abstrak interpretasi Jackson Pollock John Squire terhadap lanskap politik Inggris akhir dekade 1980-an— lebih banyak berkisah tentang sentimen non-spesifik tentang…
Read 2355 times
by
Redaksi JB -
Published in
Konser
Menyaksikan pertunjukan Yeah Yeah Yeahs seharusnya demi vokalis Karen Orzolek yang neurotik, serta termasyhur dengan rutinitas mengulum microphone atau meludahkan bir dari panggung (paling tidak di awal millennium pasca-Fever To Tell). Atau demi menyaksikan keterampilan Nick Zinner dalam memperagakan simfoni satu orang wall-of-sound gitar yang tiada duanya itu. Dan bermain di Jakarta, saya terutama ingin melihat apakah dia bisa lebih dari sekedar mengatakan “Apa Khabar”, mengingat kedekatan Nick dengan Indonesia (anda tentu masih ingat stiker “50 Tahun Indonesia Merdeka” di gitar Fender itu bukan?). Dan kini dengan David Pajo bertindak sebagai pemain bass dan keyboard dalam formasi tur, lebih ada…
Read 1441 times
by
Satya Prapanca -
Published in
Konser
Konser Guns N’ Roses (GNR) hari Minggu, 16 Desember 2012 di Jakarta minggu lalu membuat saya semakin sadar bahwa kita, sebagai penggemar sebuah grup musik, juga harus bisa belajar menerima kenyataan yang terjadi bahkan pada grup musik yang sangat kita cintai. Kenyataan tersebut bisa berupa terjadinya pergantian personel dan juga perubahan karakter musiknya. Tapi memang lain soal kalau kita menonton pertunjukan langsung, meskipun personelnya telah berganti, pasti ada pengharapan agar personel baru bisa mengikuti secara persis permainan dari personel aslinya. Saya akui itu. Misalnya adalah pada masalah melodi gitarnya. Itu pulalah yang saya alami ketika menonton GNR kemarin. Saya tak…
Read 1377 times
by
Priambodo Nugroho -
Published in
Konser
April bulannya, 29 tanggalnya. Ada pesan masuk di kotak obrolan Facebook dari Woto Wibowo alias Wok The Rock. ‘’Senyawa mau main di Norwegia’’. Bagi yang belum tahu, Wok The Rock adalah orang di balik netlabel dari Yogyakarta, Yes No Wave. Saya yang baru dua bulan di Norwegia, senang bukan main. Walaupun belum pasti, tapi niat hati sudah bulat. Saya harus nonton. Kapan lagi ada musisi Indonesia main di Norwegia? Senyawa adalah duo Rully Shabara dan Wukir Suryadi. Wok dalam liner notesnya mendeskripsikan Senyawa sebagai musik etnis kontemporer yang diciptakan oleh dua pemuda dari latar belakang musik yang berbeda. Rully berasal…
Read 1578 times
by
Fandi Abdullah -
Published in
Konser
Saya menamakan jalan-jalan musik saya ini sebagai Plesir Musik #2. Kenapa Plesir Musik #2? Karena saya malas untuk menulis tentang Plesir Musik #1, dimana saya kehilangan smartphone saya dalam perjalanan pulang seusai konser, dan hal itu terus terang merusak memori saya terhadap kesan yang saya dapat dalam Laneway Festival 2012 yang lalu. OK lah, let's quarantine the past, shall we? Nah, dalam plesir musik kali ini, saya memilih Urbanscapes Festival 2012 sebagai destinasi, alasannya tentu saja karena bintang tamunya Yuna dan Sigur Ros, penampil lain hanyalah bonus, dan saya juga cukup penasaran dengan skena musik Malaysia, maka diputuskanlah untuk melakukan…
Read 896 times
by
Adi Renaldi -
Published in
Konser
Hujan belum lagi reda ketika ratusan orang memadati areal depan gedung Pacific, Yogyakarta malam itu. Tua dan muda mengantri untuk mendapat giliran masuk. Pakaian mereka necis dan rapi, seperti sedang merayakan sesuatu. Hari itu Rabu 17 Oktober. Bukan hari favorit warga untuk bersenang-senang dan menghabiskan waktu. Tapi mereka seperti tak menghiraukan gerimis yang sejak sore telah mengguyur kota. Jelas ada yang menarik perhatian mereka selain menghabiskan makan malam di rumah atau nongkrong di kafe-kafe. Saya seperti bisa membaca pikiran mereka. Dalam benak pasti mereka berkata, ”walau gerimis tak apalah asal bisa menyaksikan awal dimulainya sejarah.” Ya, malam itu band yang…
by
Nuran Wibisono -
Published in
Konser
Tentu dunia masih belum bisa melupakan kejutan yang diberikan oleh Radiohead. Pada bulan Oktober 2007, band asal Oxfordshire ini merilis album In Rainbows dengan sistem "Pay What You Want". Ini adalah sistem dimana para pengunduh bisa menentukan sendiri harga (termasuk tidak membayar) untuk sesuatu yang mereka akan miliki dan nikmati. Dunia menganggap apa yang dilakukan oleh Radiohead sebagai sebuah terobosan. Sistem "Pay What You Want" lantas dianggap menjadi salah satu alternatif baru dalam memasarkan album musik dan Radiohead dianggap sebagai perintis gerakan itu. Ini menyesatkan. Beberapa bulan sebelum In Rainbows dirilis, Wok the Rock, seorang penggiat scene berpengaruh di Yogyakarta, sudah…
Read 1484 times



