Sesungguhnya keajaiban terbesar Britpop adalah The Stone Roses! Untuk band yang hanya memiliki dua album (satu istimewa dan satu lagi biasa-biasa saja), pemujaan terhadap band ini sampai kepada tingkat yang tidak masuk akal dan dengan ekses yang agak komikal (topi pancing, joget keramas, goyang monyet?). The Stone Roses bukankah sebuah band politis selayaknya The Smiths, yang selain memiliki album lebih banyak, juga lebih rajin mengkampanyekan vegetarianisme dan anti-monarki misalnya. Lirik The Stone Roses —di luar “Elizabeth My Dear” dan lukisan abstrak interpretasi Jackson Pollock John Squire terhadap lanskap politik Inggris akhir dekade 1980-an— lebih banyak berkisah tentang sentimen non-spesifik tentang cinta serta afeksi dengan metafora yang agak canggung; gajah, air terjun, batu dan kayu manis.
Dengan goyang monyet dan swagger yang tanggung, Ian Brown sangat sulit untuk bisa dikatakan sebagai frontman yang kharismatis. Gitaris John Squire juga bukan pelanggar batas atau inovator dalam rock. Jika bukan sedang kerasukan hantu Jimi Hendrix dengan distorsi dan wah wah yang sepenuhnya terukur, John lebih banyak berjalan di setapak yang dirintis Johnny Marr, memberi sapuan palet minimal untuk memberi tekstur semacam “Sugar Spun Sister”.
Perjalanan karir band ini juga mengikuti progresi linear yang tidak mengejutkan; membuat demo-demo kualitas kelas dua di Garage Flower, sebelum menjadi lebih baik di era "Sally Cinamon", menciptakan single luar biasa bagus Elephant Stone sebelum lulus menjadi band bermutu di The Stone Roses. Dua album utuh mereka The Stone Roses dan Second Coming, bukanlah mahakarya yang tanpa cacat. Bahkan sesungguhnya yang layak mendapatkan predikat mahakarya sesungguhnya adalah album pertama, itupun jika kita hanya menghitung enam komposisi utama di luar filler semacam “Bye Bye Badman,” “Sugar Spun Sister” atau “Don’t Stop.”
Sangat sulit untuk mendengar "Don’t Stop" tanpa membayangkan Ian Brown dan John Squire duduk di sudut studio sambil memegang kepala karena kehabisan ide. Betapapun jenius eksekusi track ini, sangat mungkin ide itu muncul ketika Ian Brown break dari rekaman, merokok dan berkata ke John Squire “Man, I am running out of ideas, so let’s do some backward tapes and put vocals on it,”. Kondisi kehabisan ide itu juga yang mungkin bisa menjelaskan mengapa track semacam “Elizabeth My Dear” bisa tercipta. Bahkan untuk menciptakan ode anti monarki mereka harus mengerjakan ulang “Scarborough Fair” milik Simon & Garfunkel hanya sepanjang kurang dari satu menit.
Keterbatasan potensi kemudian nampak di hasil akhir Second Coming, yang nampak tidak utuh dengan kualitas surgawi “Ten Storey Love Song” dan kepadatan “Begging You” atau “Love Spreads” bersanding dengan kualitas minimal track semacam “Good Times” atau “Tightrope.” Lantas apa yang membuat The Stone Roses bisa menjadi obyek bagi sekte dan cult yang bahkan mampu membantu melahirkan scene independen lokal di akhir dekade 1990-an? Hal apa yang bisa menjelaskan bahwa hanya dengan dua album, mereka bisa mendatangkan hampir 3,000 orang ke Lapangan D Senayan, melawan kebecekan lapangan rumput pasca hujan, mengacungkan jari telunjuk ke udara dan kor raksasa bergema di “This Is The One”. Dan yang paling ajaib adalah The Stone Roses tidak hanya mampu menciptakan air guitar massal, namun juga sebuah kor raksasa untuk melodi gitar solo! Guitar solo!!!
Gitar solo, dan segala ramuan bunyi gitar dari John Squire itulah yang mungkin mampu menyediakan jawabannya. The Stone Roses, pada puncak kejayaannya, mungkin tidak mampu menciptakan album bagus yang koheren, namun mereka bisa menciptakan komposisi-komposisi lagu pop sangat sempurna yang hampir tanpa cacat. Bahkan ketika energi mereka sudah hampir habis, mereka mampu menciptakan “Ten Storey Love Song”, balada paling baik di era awal Britpop dengan guitar break di tengah komposisi yang bisa menghentikan jarum jam itu.
Atau bagaimana John Squire bisa secara mumpuni menciptakan tension dan ketegangan hanya dari kesunyian sejenak sebelum datang muntahan gitar dan drum di “This Is The One.” Ditambah lagi dengan “I Wanna Be Adored,” “She Bangs The Drums” “Waterfall” yang mungkin adalah trio permata pop paling baik dengan sekuens yang juga tidak kalah sempurna, maka sudah lengkaplah kedigdayaan The Stone Roses. Bayangkan Oasis memulai What’s The Story: Morning Glory dengan "Wonderwall," "Don’t Look Back In Anger," dan "Champagne Supernova" dalam satu tarikan napas.
Tiga track awal itu, dan terutama “Waterfall” saja cukup untuk membuat album pertama tersebut menjadi debut album terbaik di khasanah Britpop. “Waterfall” adalah ekseskusi sempurna dari strategi penulisan lagu pop yang diharapkan bisa dilakukan oleh banyak musisi dunia, mulai dari Ariel Peterpan —yang kami perhatikan juga datang malam itu— sampai Noel Gallagher, bahkan seandainya jika kemampuan tersebut harus ditukar dengan sebagian dari jiwa mereka, seperti Robert Johnson menggadaikan nyawanya kepada setan di perempatan ladang kapas Mississisipi.
Puncak kesempurnaan “Waterfall” justru bisa ditemukan di outro lagu ini, sebuah produk akhir dari kemampuan John Squire untuk menyeimbangkan kemampuan teknis dengan kesabaran dalam menahan diri. Dari pertunjukan akhir pekan lalu, terutama di ekpresionisme bebas di “Fool’s Gold,” kita tahu bahwa John Squire mampu melakukan banyak hal, bahkan yang paling sulit dan paling gila, namun rahasia keberhasilan dari sebagian besar komposisi The Stone Roses adalah kemampuannya untuk menahan diri dan memberi sentuhan terbaik hanya ketika dibutuhkan —persis seperti yang dilakukan Johnny Marr untuk The Smiths.
Dan semua melodi abadi itu hanya diciptakan ketika Mani dan Reni bisa secara sempurna mengimbanginya, yang sering tidak perlu membutuhkan keterampilan yang berlebih. Di “I Am The Resurrection” atau “Elephant Stone” (versi The Very Best of Stone Roses) yang dilakukan Reni sesungguhnya tidak terlalu kompleks, ketukan monoton dengan sedikit sentuhan main-main, namun begitu Reni masuk, disusul oleh gitar John Squire dengan motif yang familiar, keajaiban itu baru bisa terjadi.
The Stone Roses adalah kerja kolektif dan ketika mereka bubar sebenarnya hanya menunggu waktu sebelum mereka bisa berkumpul kembali dalam formasi awal. Di Jakarta, akhir pekan lalu kita beruntung bisa menyaksikan kehangatan keluarga The Stone Roses lagi —dan juga John Squire yang nampak muda abadi.




Comments