Sun05192013

Last update06:05:35 AM

Tentang Kami | Donasi Anda | Volunteering | Registrasi Forum Member

Back Home Musik Kanal Musik Testimoni Menikmati The Stone Roses Dari Tiap Intro (Catatan Dari Lapangan D, Senayan, Jakarta)
04 Mar 2013

Menikmati The Stone Roses Dari Tiap Intro (Catatan Dari Lapangan D, Senayan, Jakarta)

Written by Wahyu Nugroho  |  Read 1335 times
Rate this item
(2 votes)
Menikmati The Stone Roses Dari Tiap Intro (Catatan Dari Lapangan D, Senayan, Jakarta) Kredit Foto: Jovy Aidil Akbar

23.02.13 - Saya berada di tengah kerumunan ribuan orang di lapangan hijau yang berlumpur. Sejak ajang Java Rockinland, lama saya tidak pernah merasakan lumpur di kaki saya dalam menonton sebuah konser musik.

Udara hangat dan lembab bercampur dalam setiap tarikan nafas penonton, lengkingan koor, ayunan kaki dan tangan, dan setiap tangan-tangan yang diangkat ke udara, setiap lompatan kaki,  semua mengarah kepada empat pemuda paruh baya asal Manchester yang paling berpengaruh dalam sejarah perjalanan musik Inggris era 1990-an.

Saya ingat ketika John Squire memulai lagu "Waterfall" dengan sebuah intro gitarnya, meramu petikan gitar jangly, sebagai ekses dari rekaman-rekaman khas Rickenbacker 12 senar- Roger McGuinn, pentolan band folk rock 1960-an The Byrds, bersama detup-detup drum khas Reni yang membuat siapapun yang berada di lapangan ini, akan mulai menggoyangkan badannya ketika mendengar intro ini. Waterfall ibarat gerbang menuju taman Eden, yang mungkin di dalamnya penuh dengan kebun buah jeruk dengan pendaran warna-warni di sana.

Tarik mundur ke belakang, The Roses terlebih dahulu membuka konsernya dengan "I Wanna Be Adored" dengan sebuah set intro bass mani dengan kunci G dan E yang sederhana. Mendengar intronya, saya, yang bukan penyuka sepakbola, seakan diajak ke ke tribun lapangan hijau, meneriakkan yel yel bersama para geng suporter dari tim kesayangan, dan mungkin menunggu keributan di luar stadion.

Mungkin anda bertanya, apakah saya sedang berada dalam pengaruh narkoba? Mungkin saja, jika musik adalah narkoba, saya akan jadi pecandu akutnya.

Saya ingat kata-kata Ian Brown kepada saya ketika kami berada di Bali. Saya menanyakan apa makna musik buat dirinya. Musik, menurutnya adalah sesuatu yang bisa kita rasakan, kita bisa memutar dan memainkannya berulang-ulang. Tidak seperti buku yang dibaca lalu selesai, atau film yang ditonton sampai habis.

Dan mengutip cukilan percakapan Lester Bangs di film Almost Famous bahwa musik, –tidak hanya rock n roll– mereka memilihmu. Dan sebagaimana musik menemukan dan memilih saya, The Stone Roses memilih mereka dan saya dan menempatkannya bersama sama untuk merekoleksi kembali memori saya akan musik mereka.

Kalau dipikir-pikir, saya selalu orang yang gampang terpengaruh oleh musik. saya kadang sering kesal jika ada lagu-lagu bagus dan berharap saya yang mengarangnya. Saya tak tahu apakah ini lumrah sebagai musisi. Seperti ketika saya mendengar kembali lagu-lagu macam "Shower Your Love" –nya Kula Shaker, yang punya intro indah dengan gitar dan bebunyian tiup khas india, atau "September Gurls”-nya Big Star atau “In A Room"-nya Dodgy dengan power chord yang kuat, sampai "Heatwave"nya Martha and The Vandellas yang hangat dan riang. Intro menurut saya adalah bagian dari musik yang mengambil bagian terpenting. Ia bak tali laso yang akan mengingatmu dan menggiringmu kemanapun musik membawamu pergi.

Dan bicara tentang intro, setlist the Roses malam itu dihiasi dengan intro-intro indah yang siap mengingat saya. Selain “Waterfall” dan “I Wanna Be Adored”, mereka punya “She Bangs the Drums”,”I am the Resurrection” dan “Shoot You Down”, serta “Something’s Burning”, ketika lagu tersebut diawali dengan beat drum Reni dan bass Mani yang keduanya bak sumbu dan minyak, siap membakar semangat penonton malam itu. Sementara intro yang dihasilkan oleh gitar John di lagu-lagu seperti “Sally Cinnamon” atau “Mersey Paradise” ibarat mendengar lagu “Indonesia Raya” atau “Maju Tak Gentar”, mudah diingat dan membekas di hati.

Meski demikian, di luar set yang mereka bawakan, bukan berarti the Roses minim koleksi lagu-lagu dengan intro yang hebat. Saya ingat ketika mendengar intro lagu "Elephant Stone" untuk pertama kalinya. Jantung serasa berdegub karena kegirangan. Versi yang disempurnakan (di album Turn Into Stone) pun tak kalah kerennya. Gebukan-gebukan Reni yang marah, impulsif, bak Keith Moon dan Ginger Baker yang sedang dalam mood yang bagus, menghantarkan melodi, lagi-lagi, dari petikan-petikan jangly guitar berhawa psikedelia.

"The Hardest Thing in the World" di lain pihak, dengan sengaja mengambil porsi Ian Brown sebagai komando ke dalam intronya. Di buka dengan kalimat tegas ke inti persoalan, “The hardest thing in the world…, dam bam!” Tiba-tiba saya diajak melempar Bom Molotov ke arah Senayan, tempat tikus-tikus kantor, The hardest living thing in the world, bersembunyi, siap dibumihanguskan.

Dan memang harus diakui lagu-lagu awal mereka era Garage Flower tidak seindah lagu-lagu hit yang dimainkan malam itu (Kecuali “Here It Comes, saya menaruh hormat kepada lagu itu karena intro yang hebat). Namun setidaknya, jika melihat secara obyektif, tidak sedikit band yang punya lagu-lagu yang kurang bagus di awalnya. Seperti edisi awal “Sing” dari Blur (era Seymour) dengan piano yang off key dan drum yang datar, atau beberapa lagu dari album-album awal Pulp (It atau Freaks) yang kurang menggebrak ketimbang His ‘n’Hers atau Different Class. Atau lagu-lagu di album The Head on the Door atau Disintegration-nya The Cure.

Dari riuhnya keriangan di lapangan hijau yang kini jadi hujan suara dan cahaya, terbersit kepada keinginan saya untuk menanyakan kepada empat personil The Stone Roses tentang bagaimana mereka bisa menulis lagu-lagu dengan intro yang indah. Sayangnya keesokan harinya ketika saya bertemu dengan mereka di lobi Hotel Hyatt, mereka tidak sempat berbicara banyak, selain hanya konser semalam dan bagaimana keren dan tingginya antusias penonton Indonesia. Dan bodohnya, saya tidak memikirkan tentang ini dalam set wawancara saya dengan Ian Brown, tiga tahun yang lalu di Bali. Saya harus mengalah kepada waktu dan kesempatan.

Atau jangan-jangan tulisan ini bisa jadi ide untuk membuat tulisan baru atau bahkan buku, katakanlah, 50 lagu dengan intro terbaik, atau mewawancarai musisi-musisi terbaik tanah air tentang bagaimana mereka menciptakan intro dari lagu-lagu terbaik mereka menurut saya. For Your Information, I always love trivias.

Kembali ke lapangan hijau. Intro lagu “I Am The Resurrection dimainkan, itu tandanya set mereka akan segera berakhir. Saya melihat istri saya yang bermandi peluh seperti saya.

Terimakasih Ian George Brown, John Thomas Squire, Gary Manny “Mani” Mounfield, Alan John “Reni” Wren atas terciptanya intro-intro indah yang akan selalu dikenang sepanjang masa.

Wahyu Nugroho

Wahyu Nugroho

Wahyu Nugroho a.k.a Acum adalah musisi sekaligus jurnalis. Menempuh studi di Yogyakarta hingga memperoleh gelar sarjana science dalam bidang ornitologi di Universitas Atma Jaya Yogyakarta. Pernah menulis untuk berbagai media, dari Matabaca sampai MaximumRocknRoll, bahkan membuat zine-nya sendiri sampai akhirnya bekerja sebagai redaktur pelaksana di media musik dan gaya hidup di Jakarta, Trax Magazine. Selagi kuliah, waktu luang ia habiskan bersama bangkutaman, band yang akhirnya 'mengutuknya' sampai membuat dua album

Comments

  • No comments found

Social Comment


Powered by Disqus