Tahun 2013 sudah berjalan hampir dua bulan. Belum banyak yang berubah. Di ranah politik masih banyak yang belum beranjak, perang saudara di Suriah tetap belum selesai, Inggris menjadi semakin bangkrut, two-state solution di Is-ra-il tetap menjadi mimpi yang masih jauh, revolusi di Mesir masih tetap penuh kekerasan, dan di Indonesia banyak koruptor yang makin dekat dari tiang gantungan (di Monas atau bukan).
Namun berita baik tetap datang dari ranah kesenian, musik terutama. Hanya di satu setengah bulan pertama sudah banyak temuan akan album-album bermutu yang telah dan akan segera beredar, dan jika anda mau melupakan Grammy, fun. atau Mumford & Sons, masih banyak harapan bagi musik dan umat manusia. Ini adalah alasan untuk optimis di tahun ini.
Oren Ambarchi – Sagittarian Domain
OK, untuk rilis ini kami terus terang harus mengakui curang. Album ini dirilis Agustus tahun lalu dan mungkin karena kemalasan kami, album ini baru ditemukan minggu lalu. Pertama karena sampulnya yang sangat bagus, foto hitam putih sebuah lokasi gedung parkir kosong di sebuah basement gedung dengan simetri, perspektif dan pencahayaan yang nyaris sempurna. Sampul ini secara tepat menggambarkan musik Oren Ambarchi —multi instrumentalis Australia yang juga bergabung dengan raja drone Southern Lord Sunn O))). Dengan synthesizer analog untuk menghasilkan denyutan bas, yang memberi ruang bagi gitar, violin serta cello, Oren menciptakan musik yang mensublimasikan control dan chaos, keteraturan dan silang sengkarut dari album ini bisa menjadi semacam antidote bagi rilis Sunn O))) yang kadang terasa terlalu berat. Bayangkan saja sebuah komposisi Neu yang dimainkan oleh Earth selama 33 menit.
Sekali lagi album nir-hype My Bloody Valentine ini mengingatkan kami kepada Grammy. Secara artistik, tidak banyak lagi yang bisa dibicarakan dari anak hasil mengandung Kevin Shields selama 22 tahun ini, gitar abstrak, noise atmosferik dan vokal malaikat, yang masih sama baiknya dengan apapun yang ada di Loveless. Bedanya mungkin hanya sampul album yang kini berwarna biru. Namun lebih penting lagi album ini mengingatkan kepada kita bahwa di luar musik yang diasuh dan dipromosikan oleh Grammy, musik kosong nol besar Mumford & Sons, Carly Ray Jepsen, Gotye atau Rihanna, masih banyak seniman dan juga konsumen yang masih cukup memiliki selera yang jauh berbeda dan mengkonsumsi apa yang bisa dikatakan tidak jamak dan tidak layak menurut kaidah pop dan arus utama: noise, ambience, struktur lagu yang tidak konvensional serta tidak beredar secara massal.
Album m b v dan Grammy Awards mengingatkan kita semua bahwa memang ada dua dunia, dua ekstrim yang hampir mustahil untuk dijembatani dan dimediasi. You are on your own, buddy!
Foxygen – We Are The 21st Century Ambassadors of Peace and Magic
Kolektif slacker Los Angeles yang masih sangat muda ini mengigatkan kami kepada Pavement, terutama di lagu mereka “San Fransisco” yang bermotif sama dengan “Range Life,” sebuah tembang ringan dan renyah dengan lirik acid-tongue yang berbisa. Di “San Fransisco” duo Sam France dan Jonathan Rado, marah kepada hipster dengan mengatakan “Don’t be an asshole, you are not in Brooklyn anymore” sama seperti Stephen Malkmus marah kepada Smashing Pumpkins dan Stone Temple Pilots di “Range Life.” Di luar “San Fransisco” yang sangat renyah, jika bukan indah, komposisi di album ini menunjukkan betapa luasnya referensi duo yang masih belum lama di awal usia 20-an ini. Ada jangle-pop, Brian Eno, Serge Gainsbourg, Prince sampai the Rolling Stones. Album nyaman dan renyah tanpa rasa bersalah.
Pop Yeh Yeh – Psychedelic Rock from Singapore and Malaysia 1964-1970: Volume 1
Setelah libur agak lama, awal tahun ini Sublime Frequencies merilis tiga album penting yang berisi musik-musik ultra-obscure dari Asia, salah satunya adalah rilis musik rock psikedelia dari dua negara tetangga serumpun kita. Proyek delapan tahun Carl Hamm berisi 24 track ini memang mengejutkan memang dan luar biasa. Bayangkan gabungan musik psikedlia The Brims atau Panbers dengan vokal Melayu meliuk-liuk Oslan Husein atau Titik Sandhora.
Tanpa meragukan kepiawaian musisi Malaysia dan Singapura di kompilasi ini, warna Indonesia sangat terasa di album ini —tidak aneh mengingat persinggungan dan cross-pollination musisi di ketiga negara ini waktu itu (ingat AKA pernah main di Singapura dan Harry Rusli merekam musiknya di Lion Records Singapura). Satu lagi, pelajaran sejarah penting musik populer Asia Tenggara.
Shintaro Sakamoto – How to Live with a Phantom
Meski dibantu Wikipedia, bohong juga kalau kami mengaku pernah tahu jika Sakamoto adalah pemimpin band psikedelik Yura Yura Teikoku. Kami hanya tahu ketika tiba-tiba Sakamoto merilis album baru yang di permukaan tampak tidak terlalu luar biasa ini. Semua instrumen dimainkan sendiri dan jika saja Sakamoto tidak menyanyi dalam Bahasa Jepang musiknya akan terdengar seperti white-soul yang dimainkan Todd Rundgren di Something/Anything. Namun entah mengapa kitsch dan sintentik di album ini terdengar otentik dan segar. Shintaro Sakamoto adalah teka-teki terbesar tahun ini.




Comments