Mon05202013

Last update06:05:35 AM

Tentang Kami | Donasi Anda | Volunteering | Registrasi Forum Member

Back Home Musik Kanal Musik Ulasan 10 Tahun SORE & Kembalinya Ade Paloh
24 Feb 2013

10 Tahun SORE & Kembalinya Ade Paloh

Written by Aldo Ersan Sirait  |  Read 3734 times
Rate this item
(7 votes)
Kredit Foto: Omar Abdul Nasution Kredit Foto: Omar Abdul Nasution

"Diri, usah kau elakan nestapa/ Hanya dirimu yang kau iba/ Jangan relakan"
Cermin - Sore

 

Sepuluh tahun berlalu sudah sejak pertama kali SORE menyanyikan bait lirik Cermin, debutnya di album kompilasi JKT:SKRG. Dirilis Aksara Records sebagai upaya menangkap gejolak scene musik independen Jakarta pasca angkatan PAS Band dan Pure Saturday, nomor kontemplatif Cermin dan selusin track musisi indie lainnya menyiratkan sederet kisah usang proses rekaman musik mandiri, serta gig indie rock ber-venue kecil dan budget rendah yang mengantarkan kita pada kondisi subkultur musik indie Ibu Kota saat itu.

Walaupun akhirnya Aksara Records resmi tutup pada 2009, rilisan kompilasi milestone-nya musik indie Jakarta itu layak dikenang, terlalu manis untuk dilupakan. Ade sendiri dalam sebuah perbincangan di teras rumahnya berkomentar kepada saya dengan sedikit bermetafora: sekali bernyawa bersuara dan parau semesta semestinya.

Toh di awal 2010-an lalu, tokoh-tokoh musik indie angkatan SORE banyak yang kembali naik ke permukaan. Sebut saja White Shoes and The Couples Company, C’mon Lennon, dan Sajama Cut merilis ulang album mereka masing-masing, yaitu VakansiKetika La La La, dan The Osaka Journals dalam format piringan hitam. The Upstairs dan The Brandals (BRNDLS) menelurkan album penuh baru dengan warna yang baru pula dengan adanya pergantian personil. The Adams sempat aktif manggung di beberapa perhelatan musik alternatif nasional, bahkan masuk televisi. Vokalis Teenage Death Star, Sir Dandy, menjadi bijak dan mencoba solo karir sambil belajar bermain gitar dan bernyanyi selayaknya pemusik folk dalam albumnya Lesson #1.

Berita yang datang dari SORE memang tidak semulus itu. Suksesnya rilisan album pertama Centralismo –yang sempat dilabeli sebagai salah satu album dari Five Asian Albums Worth Buying di majalah Time edisi Asia oleh Jason Tedjasukmana pada 2005, kemudian berlanjut album kedua Ports of Lima (2008) hingga tanpa sadar musik sidestream dekade baru telah terus bergulir dan berkembang.

Di tahun 2010, publik dikejutkan dengan pernyataan pengunduran diri Ade yang memegang posisi vokal dan gitar. Tahun 2012, giliran Ramondo Gascaro (Mondo) mengikuti jejak Ade keluar dari SORE. Sehubungan dengan hal ini, keduanya menampik ada konflik personal di antara mereka.

Hiatus dan Kebosanan

Menyoal status hiatus SORE di tahun-tahun berikutnya, Ade berujar “Kami sedang sibuk masing-masing. Eca menikah, Awan sibuk di G-pluck, Bembi sedang sibuk dengan kerjaan Audio-Production, dan gue sendiri juga sempet sibuk dengan usaha di bidang tambang sama project musik lain gue," tandasnya.

Selain kesibukan masing-masing, masalah chemistry juga jadi alasannya. Ade kemudian mengaku, "SORE, khususnya gue udah bega dengan puji-pujian atas karya kami. Pujian tersebut malahan bikin kita kehilangan tujuan lebih lanjut. Alokasi-alokasi pujian yang diberikan pada SORE sering ditempeli dengan ekspektasi-ekspektasi yang kami rasa justru membebani.“

Boredom is the root of all evil – the despairing refusal to be oneself. Ungkapan Soren Kierkegaard ini mungkin menjelaskan rasa bosan yang Ade maksudkan tadi, yang sedang dicoba dilawan olehnya demi menjaga kewarasannya berkarya sebagai bentuk ekspresi dirinya secara utuh. Karena pada dasarnya SORE dibentuk dengan ideal sebagai suatu cara untuk menghibur diri para personilnya.

“Secara ideologis, apa yang hendak kami sampaikan adalah mensosialisasikan preseden baru bahwa musik bukan cuma buat dibikin terus dijual, tapi untuk lebih mencermati musik dan mendeklarasikan kebebasan dari ekspektasi penikmat dan memusatkan pada konsepsi self-fulfilling prophecy yaitu musik sebagai bentuk penghiburan diri sendiri.” jelas Ade.

Dalam masa transisi tersebut Ade membentuk unit musik baru bernama Marsh Kids pada tahun 2012, yang secara tegas dikatakannya bukan sebagai proyek musik solo namun sebuah unit musik utuh yang terdiri dari Billy Aulia Saleh dan Giovanni Rahmadeva (keduanya dari unit musik indie-rock Polkawars), Sigit Agung (Tiga Pagi), Binsar (Binman) dengan bassline funk-nya yang unik, Muhammad Fahri (Duck Dive) yang luwes dalam menciptakan ambient noise luar angkasa, dan Ade sendiri. Para personil tersebut dapat dikatakan terdiri dari campuran generasi scene musik indie awal-awal dengan generasi baru.

“Marsh Kids banyak terpengaruh Brazilian Rock dan MPB (Musica Pop Brazilera), dengan alternative sound a la New York. Walaupun sejujurnya ‘Red Dead Redemption’ (Game Konsol PlayStation 3) bisa jadi juga adalah influence kami, di mana sosok tokoh utama dalam game tersebut selalu sendiri dan tak termakan waktu yang bisa dimaknai sebagai simbol empati terhadap dunia yang satir” ujar Ade panjang lebar.

Marsh Kids sendiri saat ini dalam periode merekam demo materi mereka yang beberapa di antaranya telah dapat dicicipi, seperti ‘Bird Song’ yang masuk dalam kompilasi Radio Killed The TV Star (Organic Records) bersama RNRM, Homogenic dan sejumlah musisi indie lainnya.

Album Ketiga Tanpa Mondo

Selaras dengan niatnya untuk tetap bermusik dan juga melawan kebosanan, Ade kini kembali bergabung dengan rekan-rekannya di SORE: Awan Garnida, Bembi Gusti dan Reza Dwiputranto, meski tanpa Mondo yang tengah aktif jadi produser musik. Sedikit bocoran, Ade bersedia menceritakan soal pembuatan album ketiga mereka, "Rencananya akan diberi judul Sorealist. Rilisan itu akan berisikan kompilasi dari soundtrack yang nggak pernah keluar di album sebelumnya, beberapa lagu pilihan dari dua album kami sebelumnya, plus 3 lagu baru. Konsepnya sendiri masih SORE-esque.”

“SORE-esque tanpa Mondo?” tanya saya.

“Selama ini bisa dibilang lead composer di SORE itu ya Mondo, anak-anak bawa bahan dia yang masak dengan sentuhan-sentuhannya. Maka bisa dibilang keputusan kami untuk terus jalan ini akan menjadi suatu pembuktian eksistensi sebagai suatu unit musik yang terdiri dari individu-idividu yang merupakan composer mandiri juga," jawab Ade.

Sepeninggal Mondo tentu ada rasa kehilangan akan nuansa kelam yang biasa hadir di lagu-lagu SORE. Ade menganalogikannya seperti berikut, "Ada sebuah seng yang sudah sangat usang, musik SORE dianalogikan sebagai seng itu. Sekarang ini seng usang itu masih berlumut, tapi kehilangan karat-karat yang menggerogotinya semenjak Mondo cabut. SORE mencintai suatu yang usang, bagi kami itu romantisme dalam artian sesungguhnya.”

Maka dengan adanya proses pembuatan album penuh ketiga ini, walaupun minus Mondo, nafas kreativitas SORE bisa disimpulkan belum berakhir. Entitas itupun tepat di minggu ini genap berusia 10 tahun.

Seperti keusangan yang selalu dicintai oleh SORE, kisah mereka sebagai grup musik tidak berjalan mulus begitu saja tanpa adanya perpisahan. Sebuah romantisme dalam artiannya yang hakiki, suatu kenyataan yang tidak akan pernah menjadi sempurna. Apalagi ketika mendengar bahwa momen terbaik yang pernah dialami Ade dalam bermusik adalah ketika pertama kali mendengar mendengar string aransemen Mondo pada akhir lagu “Bogor Biru”.

Di momen itu, Ade mengaku sontak menangis mungkin karena menyadari keindahan musik itu adalah bagian dari dirinya juga.

 

--------------------------------------------------

*) Ralat Redaksi 25 Feb 2013: Paragraf 1 sebelumnya tertulis "Sepuluh tahun berlalu sudah sejak pertama kali Ade Firza Paloh menyanyikan bait lirik Cermin..." diubah menjadi "Sepuluh tahun berlalu sudah sejak pertama kali SORE menyanyikan bait lirik Cermin.."  atas permintaan penulis. Thanks to Uga untuk koreksinya.

Aldo Ersan Sirait

Aldo Ersan Sirait

Setelah menamatkan studi hukumnya di Universitas Indonesia, penulis ikut bekerja sama dengan teman-temannya di Studiorama. Ia kini sibuk belajar hidup sehat dan bersahaja, serta tidak lupa mengharapkan reuni Galaxie 500 dan C'mon Lennon.

URL: jakartabeat.net/aldoersan

Comments

  • No comments found

Social Comment


Powered by Disqus