Home Musik Ulasan
Ulasan
Permission to Land: Album Penyelamat Rock N Roll Print E-mail
Thursday, 04 March 2010 21:21

Oleh Nuran Wibisono, mahasiswa Sastra Inggris Universitas Jember Jawa Timur

 

Kapan terakhir kali anda melihat ada sebuah band keren dengan anggota bersaudara? Saya masih menganggap The Black Crowes adalah generasi terakhir band keren dengan anggota bersaudara. Oasis? Mereka lebih banyak membual dan bertengkar ketimbang bermain musik dengan benar setelah album terbaik mereka (What’s The Story) Morning Glory. Jonas Brother? Ayolah, jangan membuat saya tertawa.

Tapi pada tahun 2003, siapa sangka di tengah gemuruh musik aneh bertajuk pop punk, ada sebuah band ugal-ugalan muncul, dengan attitude rock n roll, dan suara gitar yang padat meraung. Vokalis dan gitaris mereka ternyata bersaudara.

 
Musik Candu dari Explosions in the Sky Print E-mail
Tuesday, 02 March 2010 11:33

Oleh M. Taufiqurrahman, wartawan The Jakarta Post

 

Kali ini saya akan berbicara tentang musik tanpa kata-kata. Entah kenapa kata-kata akhir-akhir ini membuat saya kecewa. Saya tidak mengikuti riuh rendah dan hiruk pikuk Pansus Century memang, namun terdapat keramaian yang lebih memekakkan telinga di Facebook, di Twitter, di blog-blog serta di Internet. Melalui sarana tersebut semua orang seperti berebut kesempatan untuk lebih banyak minta di dengar dan — mengutip Roger Cohen dari koran New York Times — kita telah menjadi anggota Narcissus Society yang mengutuk kita untuk kehilangan keterampilan dalam hal menjadi pendengar yang baik.

 

Last Updated on Tuesday, 02 March 2010 16:45
 
Membela Keisengan: Tanggapan Atas Review Vampire Weekend Taufiqurrahman Print E-mail
Tuesday, 09 February 2010 11:28

Oleh Rizal Shidiq, mahasiswa George Mason University, Washington D.C.

 

Disclaimer: Saya belum punya uang lebih untuk membeli vinyl album Contra dari Vampire Weekend (VW) Dengan demikian, segala penilaian mengenai kualitas musik mereka sepenuhnya bergantung pada kritik Taufiq sebelumnya di Jakartabeat.net ini.

 

Mari berangkat dari sepotong kutipan di koran The Washington Post edisi Minggu 10 Januari 2010 lalu (http://www.washingtonpost.com/wp-dyn/content/article/2010/01/07/AR2010010704530.htm), saat saya pertama tahu Vampire Weekend mengeluarkan album kedua mereka, Contra:


...The Strokes were rich kids faking their way through some CBGB revival fantasy while Vampire Weekend wears its privilege without shame. From tousled coif to loafer...
Last Updated on Tuesday, 09 February 2010 21:50
 
Album Contra milik Vampire Weekend: The Clash tanpa Ideologi Print E-mail
Saturday, 06 February 2010 20:44

Oleh M. Taufiqurrahman, wartawan The Jakarta Post

Album : Contra
Artist   : Vampire Weekend
Label   : XL Recordings
Tahun : 2009
Lagu Penting : "I Think Ur a Contra", "Cousin", "Giving Up the Gun", "Holiday"

 

Ketika album pertama Vampire Weekend di rilis di Amerika Serikat musim dingin tahun 2008, beberapa orang meyakinkan saya untuk menyukai album tersebut. Terlepas dari betapa baik dan rapinya musik mereka, saya berkeras hati untuk bertahan bahwa ketika sebuah grup hanya berbicara tentang arsitektur (‘Mansard Roof’), ejaan yang baik dan benar (‘Oxford Comma’) atau kehidupan kampus anak orang-orang kaya (‘Campus’), tidak banyak lagi yang diharapkan dari kesenian yang mereka promosikan. Ini mungkin masalah ideologis bahwa kesenian selayaknya dan pada akhirnya harus melayani kepentingan besar masyarakat yang melingkupinya, dan saya melihat VW tidak melakukan ini. Dan meskipun vokalis VW Ezra Koenig—lulusan sastra Inggris universitas ivy league Columbia Univesity — sangat fasih berbicara tentang kolonialisme dan hubungan estetis antara subkultur mahasiswa kaya dengan kultur India dan Afrika, sampai saat ini saya tidak memiliki piringan hitam atau cakram padat album VW tersebut. Saat ini, saya hanya memutar album mereka dengan mencolokkan iPod kecil saya di stereo mobil — sekedar untuk mengingatkan saya kepada musim panas Chicago yang terlalu cepat berlalu di tahun 2008. Vampire Weekend adalah kelompok musik yang hanya fasih secara estetis, namun nihil dalam menangkap zeitgeist masa senjakala pemerintahan George W. Bush waktu itu.

Last Updated on Tuesday, 09 February 2010 21:45
 
Musik-musik Alternatif Untuk Kesehatan Jiwa Print E-mail
Saturday, 30 January 2010 23:27

Oleh Nova Riyanti Yusuf, anggota DPR RI 2009-2014 Komisi IX-Fraksi Partai Demokrat

 

Kehidupan di Parlemen Republik Indonesia tidak boleh sepi dari musik. Walau hidup dalam akuarium ruang sidang tak berkesudahan, hati tetap bersenandung mengikuti tren-tren musik. Kalau bukan tren musik sesama teman-teman legislator, paling tidak tren teman-teman penggemar musik alternatif.

Terhitung sejak akhir Desember 2009 sehingga sekarang, ada dua album yang masih menjadi favorit musik yang bolak-balik saya pasang di iPod dan iTunes. Pertama, Original Soundtrack 500 Days of Summer. Kedua, Original Soundtrack New Moon.

 
<< Start < Prev 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Next > End >>

Page 1 of 13
Banner
Banner
Make sure you have at least Flash Player 7. If not,please download.
Banner

Who's Online

We have 9 guests online

Follow Us On

Facebook Group: 50072354705 Twitter: jakartabeat