|
Tuesday, 09 February 2010 11:28 |
|
Oleh Rizal Shidiq, mahasiswa George Mason University, Washington D.C. Disclaimer: Saya belum punya uang lebih untuk membeli vinyl album Contra dari Vampire Weekend (VW) Dengan demikian, segala penilaian mengenai kualitas musik mereka sepenuhnya bergantung pada kritik Taufiq sebelumnya di Jakartabeat.net ini. Mari berangkat dari sepotong kutipan di koran The Washington Post edisi Minggu 10 Januari 2010 lalu (http://www.washingtonpost.com/wp-dyn/content/article/2010/01/07/AR2010010704530.htm), saat saya pertama tahu Vampire Weekend mengeluarkan album kedua mereka, Contra: “...The Strokes were rich kids faking their way through some CBGB revival fantasy while Vampire Weekend wears its privilege without shame. From tousled coif to loafer...” |
|
Last Updated on Tuesday, 09 February 2010 11:54 |
|
|
Saturday, 06 February 2010 20:44 |
|
Oleh M. Taufiqurrahman, wartawan The Jakarta Post
Album : Contra Artist : Vampire Weekend Label : XL Recordings Tahun : 2009 Lagu Penting : "I Think Ur a Contra", "Cousin", "Giving Up the Gun", "Holiday" Ketika album pertama Vampire Weekend di rilis di Amerika Serikat musim dingin tahun 2008, beberapa orang meyakinkan saya untuk menyukai album tersebut. Terlepas dari betapa baik dan rapinya musik mereka, saya berkeras hati untuk bertahan bahwa ketika sebuah grup hanya berbicara tentang arsitektur (‘Mansard Roof’), ejaan yang baik dan benar (‘Oxford Comma’) atau kehidupan kampus anak orang-orang kaya (‘Campus’), tidak banyak lagi yang diharapkan dari kesenian yang mereka promosikan. Ini mungkin masalah ideologis bahwa kesenian selayaknya dan pada akhirnya harus melayani kepentingan besar masyarakat yang melingkupinya, dan saya melihat VW tidak melakukan ini. Dan meskipun vokalis VW Ezra Koenig—lulusan sastra Inggris universitas ivy league Columbia Univesity — sangat fasih berbicara tentang kolonialisme dan hubungan estetis antara subkultur mahasiswa kaya dengan kultur India dan Afrika, sampai saat ini saya tidak memiliki piringan hitam atau cakram padat album VW tersebut. Saat ini, saya hanya memutar album mereka dengan mencolokkan iPod kecil saya di stereo mobil — sekedar untuk mengingatkan saya kepada musim panas Chicago yang terlalu cepat berlalu di tahun 2008. Vampire Weekend adalah kelompok musik yang hanya fasih secara estetis, namun nihil dalam menangkap zeitgeist masa senjakala pemerintahan George W. Bush waktu itu. |
|
Last Updated on Saturday, 06 February 2010 22:29 |
|
Saturday, 30 January 2010 23:27 |
|
Oleh Nova Riyanti Yusuf, anggota DPR RI 2009-2014 Komisi IX-Fraksi Partai Demokrat Kehidupan di Parlemen Republik Indonesia tidak boleh sepi dari musik. Walau hidup dalam akuarium ruang sidang tak berkesudahan, hati tetap bersenandung mengikuti tren-tren musik. Kalau bukan tren musik sesama teman-teman legislator, paling tidak tren teman-teman penggemar musik alternatif. Terhitung sejak akhir Desember 2009 sehingga sekarang, ada dua album yang masih menjadi favorit musik yang bolak-balik saya pasang di iPod dan iTunes. Pertama, Original Soundtrack 500 Days of Summer. Kedua, Original Soundtrack New Moon. |
|
|
Sunday, 31 January 2010 20:51 |
|
Oleh Hendi Johari, peneliti dan wartawan lepas Jumlah taksi di Jakarta,kini sudah mencapai angka ribuan. Padahal dulu jumlahnya hanya puluhan dan dikonsumsi oleh kalangan berduit saja. Bagaimana sejarah perkembangan kendaraan bermahkota itu hingga sampai di Batavia (Jakarta)? |
|
Last Updated on Sunday, 31 January 2010 21:54 |
|
Saturday, 30 January 2010 09:25 |
|
Oleh Lisa Suroso, pemimpin redaksi majalah Suara Baru Perhimpunan INTI Perjuangan integrasi Irian Barat ke pangkuan NKRI melibatkan organisasi dan para peranakan Tionghoa. Namun, tak semua sependapat tentang masalah gerakan pro-kemerdekaan. … Taman makam pahlawan Serui terletak di tengah kota. Dihiasi tugu bercat putih dengan lambang Garuda Pancasila. Terbaring delapan jasad pahlawan yang berjasa dalam mengintegrasikan Irian Barat ke pangkuan NKRI: Silas Papare, Stefanus Rumbewas, Thung Tjing Ek, Dirk Ramandey, Salim Suneth, HW Antaribaba, Rafael Maselkosu dan George Henk Ayorbaba. |
|
Last Updated on Tuesday, 09 February 2010 12:05 |
|
|
|
|
<< Start < Prev 1 2 Next > End >>
|
|
Page 1 of 2 |